Inisiator #ngopidikantor
Profil

Tiga Lelaki #ngopidikantor

Dengan alasan yang berbeda, tiga pria ini punya kecintaan pada satu hal: kopi. Khususon Arabika. Wabil cusus, enggak pake gula.

Pria pertama, Aji Yuliarto. Ia mengatakan suka kopi Arabika tanpa gula karena pengalihan dari alkohol. (Sok nakal, padahal Soleh luar dalam)

Kedua: Eko Punto Pambudi yang beralasan bahwa dia kaget dengan kekayaan rasa single origin. (Dia jatuh cinta pada sesapan pertama Sunda Arumanis. Meskipun kemudian selingkuh pada kopi curah Jatinegara yang murah meriah. Belakangan dia sudah kembali pada cinta pertamanya, juga pada beberapa kopi spesialti).

Lelaki terakhir, Ijar Karim. Konon, dari zaman baheula, ia tidak minum manis. Kopi tidak pakai gula, teh pun tawar (alasan ini agar lebih murah kalau makan di warteg). Pun jika minum sirup, ia menolak manis. Sampai akhirnya ia berkenalan dengan single origin yang kaya rasa.

Tiga pria ini bekerja di Majalah Tempo. Ajibon–sapaan Aji–dan Eko di bagian desain. Sedangkan Ijar Fotografer. Jadilah tiga orang ini (plus puluhan redaksi Tempo lainnya) kerap bergadang di akhir pekan untuk menyelesaikan Majalah.

Di tengah tenggat, tiga lelaki ini sering nongkrong di coffee shop. Berbincang banyak hal. Dari sinilah mereka berkenalan dengan single origin. Kebetulan di dekat kantor Tempo lama di Velbak juga ada coffee shop. Dari situlah kecintaan mereka pada single origin tumbuh.

Hingga suatu hari Eko membeli sebuah alat pembuat kopi merek Philip. Aji menyumbang biji dari Pasar Jatinegara. Sedangkan Ijar membawa cerita-cerita lucu khas dia. Kemudian, mereka mendaftar di UNYU, University of Youtube, jurusan Manual Brew. Sampai akhirnya membelil alat-alat seduh manual. Alat pertama mereka adalah french press 900 mililiter yang dibeli di Melawai.

Tentu, Kopi yang enak adalah kopi yang dinikmati bersama. Ketiganya mulai menularkan virus single origin kepada rekan-rekan sekantornya. Sambutan hangat. Ada kawan yang pulang dari Vietnam membawakan Vietnam drip. Sampai kemudian, mereka memutuskan membuat gerakan #ngopidikantor.

Debut mereka di atas panggung adalah medio 2015. Ketika itu, Tempo sudah pindah ke gedung baru di Palmerah, Jakarta Selatan.

Lebih lengkap tentang #ngopidikantor bisa dibaca di sini.

Saya ingat betul, saya terperangah melihat alat yang begitu banyak dan istilah yang aneh-aneh: V60-Moca Pot-Kalita Wave-Vietnam Drip-dll. โ€œTiap seduhan punya rasa yang berbeda,โ€ kata salah satunya. Dan betul, setelah mencoba semua, saya jatuh cinta pada rasa seduhan V60.

Sukses di kantor sendiri. Ketiga pria ini mulai melebarkan sayap ke kantor orang. Tempat pertama yang mereka sambangi adalah PT Zurich Insurance, Sudirman, Jakarta Selatan. kemudian #ngopidikantor juga pernah nyeduh di KPK, Kedutaan Besar Amerika, dan kantor-kantor kece di kawasan segitiga emas Jakarta.

#ngopidikantor punya semangat mengenalkan kopi nusantara bukan luar negeri ke masyarakat. Kenapa kopi dalam negeri, saya bertanya, kepada salah satu dari tiga Imam besar–kami di komunitas ini menyebut mereka imam. Sang Imam tidak menjawab, ia menyeduhkan Malabar proses Natural. Dia menyedorkan gelas kepada saya. Sesapan pertama, membuat saya tahu kenapa harus kopi nusantara.

Nah, kalau kantornya ingin disambangi #ngopidikantor cukup email permohonan ke ngopidikantor@gmail.com. Tulis saja dari siapa dan dari mana, nanti ada tim yang menghubungi. Syarat kami cuman satu: Kami menyeduh di kantor. Bukan bazar atau pameran. Seduhan kami adalah jeda dari rutinitas kantor. Selamat ngopi.

Anda mungkin juga suka...

5 Komentar

  1. Lisa Nelwan menulis:

    The Three Musketeers #eh

  2. Bayu menulis:

    wah menarik ini

  3. […] Tiga Lelaki #ngopidikantor […]

  4. Tulisannya kece tapi banyak typo. Nggak lewat suntingan Mas UU nih ya. :))

    1. admin menulis:

      Ayo kak ikut jadi editor, bisa berkontribusi juga. Japri alamat email kalo tertarik ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *