Travel

Borneo Cupping Trip (2): Dini Hari di Sangatta

Setelah cupping di Berau yang seru, kami melanjutkan perjalanan ke Sangatta. Dari Berau, ibu kota Kabupaten Kutai Timur tersebut bisa ditempuh dalam enam jam dengan menggunakan mobil.

Sebelum melaju ke arah Sangatta, kami berbelok menemui komunitas petani di Berau. Dahulu mereka pernah menanam kopi. Tapi perambahan hutan yang massif untuk perkebunan sawit, membuat mereka goyah. Menurut mereka, perkebunan sawit mengiming-imingi mereka pendapatan yang lebih tebal.

Slamet Prayoga, pemilik perkebunan Malabar Mountain Coffee di Pangalengan, Jawa Barat, sekaligus bos Malabar Mountain Cafe di Bogor, lalu membagikan kisah suksesnya menanam kopi kepada para petani tersebut. Pak Yoga, demikian kami menyapanya, tak asing dengan tanah Kalimantan. Dulu dia kuliah di Universitas Mulawarman. Dia pun memulai kariernya di sejumlah perusahaan di Kalimantan sebelum banting setir menjadi petani kopi di Pangalengan. Dia menceritakan suka-dukanya saat memulai bisnis kopi, terutama pada awal-awal membuka perkebunan.

Menurut Pak Yoga, petani kopi di Kalimantan Timur tak perlu mengikuti jejaknya menanam kopi arabika, tapi robusta. Tanah Borneo tak cocok untuk menanam arabika yang membutuhkan ketinggian 1.000-2.000 meter di atas permukaan laut–dataran Kalimantan rata-rata di bawah itu. Dia menyemangati petani untuk kembali menanam kopi, meski robusta. Jangan sampai kebutuhan kopi dalam negeri dipasok impor.

Kelar acara, kami langsung meluncur ke Sangatta. Sepanjang jalan, Ignatius Boy Kurniawan, master barista yang ikut dalam rombongan cupping trip, membahas pertemuan dengan para petani Berau. Menurutnya, petani Berau punya peluang mengisi ceruk pasar kopi robusta dalam negeri. “Kalau dari ketinggian sih cocok. Robusta selain ketinggiannya udah cocok, dia lebih imun terhadap penyakit tanaman kopi. Prosesnya juga lebih gampang, jualnya lebih cepat, tinggal kalibrasi hasil kualitas hasil panen saja,” ucap Boy.

Lihat videonya di Tempo Channel

Perjalanan membelah belantara Kalimantan sangat menyenangkan. Di sebuah perhentian, Pak Yoga bercerita kepada kami tentang kondisi hutan Kalimantan zaman dahulu. Sebelum menjadi petani kopi di Malabar, Pak Yoga adalah rutin keluar-masuk hutan karena bekerja di perusahaan kayu. Dia paham betul kondisinya sebelum saat ini.

Yang menakjubkan, dia bisa membedakan penebangan legal dan ilegal hanya dengan mendengarkan suara gergaji mesin dari kejauhan. “Di daerah yang barusan kita lewati masih terdengar suara chain saw. Kalau dia dari Inhutani, suara chain saw-nya banyak. Ngang… ngeng… ngang… ngeng…. Tapi ini satu. Berarti kemungkinan besar itu adalah ilegal,” kata Pak Yoga.

Menurut Pak Yoga, pada 1990-an hutan di Kalimantan Timur masih rimbun-rimbun. Kini, sepanjang perjalanan ke Sangatta, hutan lebat di kanan-kiri jalan cuma ditemukan di sejumlah titik.

Perjalanan menuju Sangatta tak semulus yang kami bayangkan di awal. Dalam kepala kami, selesai menyeduh di Berau, kami langsung icip-icip kopi di Sangatta. Tapi rintangan datang bertubi, mulai dari pecah ban hingga terjebak longsor tengah malam.

Walhasil, jam dua dini hari kami baru tiba di Sangatta. Meski badan hancur lebur, kami tak langsung mengempaskan badan ke kasur. Ada janji kepada orang-orang yang telah menunggu kami di sini yang harus ditepati.

Di sebuah kedai kopi kecil di sudut Sangatta, kami membongkar peralatan menyeduh demi menggelar ritual yang tertunda: cupping kopi.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *