Cupping Borneo
Travel

Borneo Cupping Trip (1): Menebar Aroma Malabar

Ini kali pertama buat saya dan #ngopidikantor ikut cupping trip. Bukan di Jawa, pengalaman perdana ini justru terjadi di tanah Borneo pada pertengahan Februari lalu. Dari utara hingga timur Kalimantan, kami (maksudnya saya, tiga inisiator #ngopidikantor, dan tim Malabar Mountain Coffee) menebarkan aroma kopi juara dari Priangan: kopi Malabar.

Kami memulai perjalanan dari Kalimantan Utara, persisnya dari Tarakan. Pecinta kopi di kota ini sangat antusias saat kami menghelat cupping alias icip-icip kopi untuk mengenali karakteristik kopi sesungguhnya, dari rasa hingga aromanya. Tumpah ruah ke lokasi acara, mereka banyak bertanya tentang proses kopi dari kebun sampai ke cangkir dan siap untuk diseruput.

Magnet acara adalah Ananta Prastowo, Q-Grader Malabar Mountain Coffee, dan Ignatius Boy Kurniawan, master barista jebolan sekolah kopi di Amerika Serikat. Dengan fasih, keduanya  bergantian menjawab cecaran pengunjung.

Dari Tarakan, perjalanan dilanjutkan ke Berau di Kalimantan Timur. Seperti di Tarakan, pecinta kopi pun memadati I Cafe, kedai kopi yang jadi venue. Walau sudah mencintai kopi sejak lama, cupping adalah hal baru bagi sebagian besar peminum kopi. Dwi Hartanto, perantau dari Jakarta yang datang ke I Cafe, mengaku baru tahu ada ritual ini. Padahal, ia minum kopi tiap hari seperti minum obat dengan resep dokter.

Apa sebenarnya cupping itu?

Ini penjelasan Ignatius Boy Kurniawan, sang master barista, kepada pecinta kopi di I Cafe: “Cupping ini adalah satu ritual wajib yang dilakukan oleh barista untuk mengenali karakter kopi. Standarmya sama dengan dipakai komunitas kopi di Amerika dan Eropa.”

Bagi seorang barista, cupping adalah cara untuk menguji kualitas kopi hasil gorengan roaster sebelum disajikan kepada penikmat kopi. Cupping juga untuk mengetahui rasa yang terkandung setelah biji kopi tersebut pecah.

Lihat video cupping trip ini di Tempo Channel

Di I Cafe, Ananta Prastowo menjelaskan soal rasio kopi dan air yang jadi standar dalam cupping. Kopi sebanyak 8,25 gram mesti dikawinkan dengan air sebanyak 150 mililiter. Atau, kopi 11 gram dengan air 200 mililiter. Temperatur air saat dituangkan ke cangkir berisi bubuk kopi tersebut mesti 90 hingga 94 derajat Celcius.

Di I Cafe, lima belas gelas berisi bubuk kopi yang berbeda berjajar di atas meja. Satu per satu kami membaui fragrance atau aroma kopi sebelum dituang air pada tiap gelas. Mengendus fragrance  merupakan ritual awal yang dilakukan saat cupping. Ini rukun yang tak boleh dilewatkan.

Ananta Prastowo meminta kami mendeskripsikan aroma yang tercium. Ini cukup rumit. Hampir semua dari kami bisa membedakan wangi kopi yang menguar dari tiap gelas. Tapi kami kami tak bisa menjelaskan nama aroma tersebut.

Kopi kemudian diguyur air panas. Kami pun diminta mencium lagi aroma yang menyeruak. Ah, wanginya betul-betul tak terlupakan. Ananta meminta kami menjelaskan aroma yang tersebut (dan kami lagi-lagi kesulitan menyebutkan nama aroma yang mungkin pernah kami cium pada suatu kesempatan–semacam lupa-lupa ingat).

Setelah memecahkan ampas yang mengapung di gelas, bagian terakhir ini yang paling saya suka: slurp. Kami menyeruput kopi untuk merasakan flavor kopi (dan lagi-lagi diminta untuk menjelaskan rasanya). Kopi tersebut mungkin akan terasa seperti apel, jeruk, dan bahkan pisang dengan tingkat keasaman yang juga berbeda.

Kami juga diminta untuk menggambarkan tekstur kekentalan kopi atau biasa disebut body. Dan yang terakhir, aftertaste atau rasa yang tertinggal di mulut seusai kopi disesap. Pak Kasminto dari Maharaja Coffee memadankan aftertaste dengan “kenang rasa”. Ada juga yang menyebutnya “kesan rasa”.

Jadi, apa taste notes atau catatan rasa kopi Malabar? Tergantung kopinya. Kelima gelas kopi tadi memiliki karakter dan rasa berbeda–yang saya dan pengunjung I Cafe lain masih sulit deskripsikan.

Anda mungkin juga suka...

1 Komentar

  1. […] Borneo Cupping Trip (1): Menebar Aroma Malabar […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *