Travel

Suatu Siang di Kopikina

Suatu siang, berbekal laptop dan niat baik untuk mengerjakan tugas kantor, saya pergi ke Kopikina, sebuah tempat ngopi di daerah Tebet. Kisi-kisi yang saya dapat dari beberapa kerabat, juaranya di sini adalah Gayo Pantan Musara. Dalam perjalanan, terbayang menggumuli keyboard dan layar laptop dengan secangkir kopi yang sedap.

Tiba di Kopikina, bayangan tadi saya runtuh. Bagaimana tidak? Tengah hari bolong, saya masuk ke tempat yang pengap, panas, asap rokok yang terus mengepul, gorden yang reget, dan sarang laba-laba di pojok-pojok ruangan :(.  Cukup secangkir Pantan Musara dan saya akan pindah ke tempat lain, saya membatin.

Setelah memesan dan kopi itu sampai di meja, saya langsung menyeruputnya. Ada rasa mangga, sedikit manis, dan asam winey. Biasanya saya tidak suka asam, tapi rupanya rasa asam Pantan Musara ini enak dinikmati.

Sambil menikmati kopi, saya melihat sekeliling tempat ini. Duh, sayang banget kedai kopi yang punya jargon “Kopi dari Seluruh Indonesia”, tempatnya tidak nyaman, setidaknya menurut saya :).  Andai area perokok dan bukan perokok dipisah, andai gordennya bersih, andai pendingin dan exhaust fan-nya berfungsi sempurna. Dan bukankah asap rokok dapat mempengaruhi cita rasa kopi?

Satu jam saya habiskan di tempat ini tanpa menunaikan niat sebelum kemari–mengerjakan tugas kantor :D. Hanya menikmati kopi asam favorit pertama saya dan membayangkan jika tempat ini dibemahi. Hmm, pasti nyaman.

Ketika saya mengeluh kepada kerabat yang merekomendasikan, dia menyarankan agar saya datang pagi hari. “Mumpung para perokok masih tidur,” katanya. Dan kayaknya memang kedai ini lebih lengang dan menyenangkan di awal hari.

Last but not least, di mana pun tempat ngopinya, sesaplah kopi sepenuh hati, rasakan dengan pengecapmu, berilah kesempatan pada asam dan pahit menjadi sebuah kisah. Seperti yang saya alami suatu siang di Kopikina.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *