Travel

Misi Mulia dari Pinggir Jalan

Kipas angin yang tergantung di langit-langit ruangan seukuran garasi mobil itu berputar sia-sia. Seperti biasa, Jakarta dilingkupi hawa sumuk. Sekitar 10 meter dari tempat saya duduk, bus kota, sepeda motor, dan mobil pribadi merayap di Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Suara knalpot dan klakson melengkapi kesumpekan pada Jumat malam, 2 Juni 2017 lalu.

Kedai #kopirakjat di Jalan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Kedai #kopirakjat di Jalan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Sekitar 15 menit saya duduk bermandi keringat di tempat itu, yang dinantikan akhirnya tiba: satu bejana kaca berisikan kopi Arabika Malabar Red Honey yang diseduh memakai frenchpress. Ini kopi pertama saya di hari ketujuh Ramadan kemarin. Lima menit kemudian, satu mangkuk mi rebus menyusul. Rasa tak genah karena gerah mulai terabaikan.

Sambil menyeruput mi dan menyesap kopi di kedai bernama #kopirakjat itu, saya ditemani Sagli, 43 tahun, sang pengelola. “Gimana kopinya?” dia bertanya. Saya menangkap kesan tak percaya diri dari pertanyaan Sagli. Mungkin, karena baru dua bulan kedai ini beroperasi. Kemudian dia bilang, sebagai pengelola sekaligus peracik kopi di kedai ini, dirinya tak punya latar belakang pelatihan keahlian barista. “Modalnya suka ngopi saja, belajar menyeduh ya otodidak sama teman-teman.”

Sagli seharusnya tak perlu meminta pemakluman seperti itu. Saya sudah hapal betul rasa dan notes Malabar Red Honey. Kebetulan kopi ini memang kesukaan sekaligus cinta pertama saya di dunia perngopian. Jika dibandingkan, hasil seduhan Malabar Red Honey di #kopirakjat tak berbeda dengan hasil seduhan Malabar Mountain Cafe di Bogor –produsen dan penjual kopi tersebut. Rasa manis aren dan keasaman seimbang khas Red Honey yang terasa di ujung sesapan saya temukan malam itu. Artinya, seduhan #kopirakjat berhasil.

Kopi Arabika Java Preanger asal Malabar jadi andalan jualan #kopirakjat. Lima variannya, yakni Sigararutang, Natural, Red Honey, Yellow Honey, dan Fully Wash menempati posisi strategis pada buku menu kedai yang hanya dua lembar. Di bawah pilihan kopi Malabar, ada Arabika Sumatera Gayo. Varian yang ditawarkan adalah Long Berry Fully Wash, dan Luwak. Selebihnya, ada menu camilan seperti kue pancong, ketan sarikaya, dan roti bakar.

Untuk penyajian aneka kopi itu, #kopirakjat menawarkan opsi penyeduhan manual memakai alat penetes saring V60, Kalita, frenchpress, atau dibuat espresso pakai Rok Presso. Ada pula pilihan kopi Robusta yang dicampur menjadi capuccino, kopi susu, atau kopi creamer. Untuk harga, #kopirakjat menerapkan sistem takaran per gram kopi.

Pada menu Arabika, banderol termurah disematkan pada Malabar Fully Wash dengan takaran 15 gram. Harganya Rp 13 ribu, cukup untuk satu cangkir. Kalau mau minum untuk dua-tiga gelas, ada pilihan takaran 25 gram yang dihargai Rp 23-27 ribu. “Kami tidak mau mahal-mahal, karena target konsumen kami bukan orang-orang yang suka ngafe di Kemang.”

Harga jual Arabika single origin di #kopirakjat terhitung murah. Di kafe-kafe kelas A di Jakarta, kopi sejenis harganya bisa dua-tiga kali lipat. Tapi #kopirakjat, seperti kata Sagli tadi, memang tak terlalu memusingkan segmentasi konsumen. Siapa saja boleh datang ke sini. “Misi kami ingin mengenalkan kopi-kopi single origin berkualitas asal Indonesia, yang pasti dengan harga terjangkau semua kalangan.”

Misi mulia itu sudah dijalankan sejak #kopirakjat belum berupa kedai seperti sekarang. #kopirakjat dimulai dari sebuah gerobak pada Oktober 2015. Inisiatornya Eko Punto –teman Sagli sejak SMP– yang juga penggagas #ngopidikantor. Karena pakai gerobak, sifatnya nomaden, biasa nongkrong di pusat keramaian pada akhir pekan. Seringnya di wilayah Klender, Jakarta Timur.

Saat masih dipegang Eko, #kopirakjat hanya menjual Arabika dengan opsi seduh memakai frenchpress, V60, atau tubruk. Tak ada menu lain. Kopi-kopi single origin Tanah Air yang dijajakan hanya dihargai Rp 8-9 ribu per gelas. Gerobak #kopirakjat pensiun berkeliling menjelang penghujung 2016 dengan alasan kesibukan Eko di pekerjaannya.

Gerobak lalu nangkring di Kedai Sahabat Rakyat milik salah satu rekan Eko yang berlokasi di Perumnas Klender, Jakarta Timur. Baru sejak April 2017, Gerobak #kopirakjat “diakuisisi” Sagli bersama seorang rekannya, Untung. Di tangan mereka #kopirakjat bersalin rupa menjadi kedai permanen. Lokasinya di samping ujung “tusuk sate” antara Jalan Pasar Minggu Raya dengan Jalan Duren Tiga. Kedai ini diapit toko bahan bangunan dan percetakan. Kalau malam, ada penjual sate dan sop kambing di sebelahnya.

Sagli, pengelola Kedai #kopirakjat.
Sagli, pengelola Kedai #kopirakjat.

“Saya, Eko, dan pemilik Kedai Sahabat Rakyat memang berteman sejak SMP dan setongkrongan sampai sekarang,” Sagli berkisah. Anggota geng mereka mencapai 19 orang. Wacana membuat bisnis bersama-sama, dia menambahkan, sebetulnya sudah tercetus sejak lama. Bahkan mereka sempat membuat kas patungan dengan setoran Rp 100 ribu per orang, setiap bulan.

Eko lah yang menyarankan usaha #kopirakjat diteruskan dan digarap serius. Rekan-rekan yang lain sepakat. Karena itu, Sagli melanjutkan, seluruh kawannya dianggap ikut punya peran di bisnis ini. “Ibaratnya mereka itu komisarisnya #kopirakjat,” dia berseloroh. Eko kini dipercaya sebagai tempat konsultasi untuk urusan menu dan kualitas seduhan kopi. “Eko lah yang paling galak dan idealis soal kopi.”

Dua bulan berjalan, Sagli optimistis #kopirakjat akan terus membesar. Meski tanda-tanda balik modal belum terlihat, tapi dia mengaku pendapatan harian sudah mencukupi untuk biaya operasional. Beberapa kolega Sagli sudah ada yang mengajukan penawaran membeli merek dagang #kopirakjat secara franchise untuk usaha sejenis di kota lain. Relasi dan jejaring #kopirakjat juga, dia mengklaim, terus bertambah. Beberapa anggota komunitas Barista Indonesia rutin nongkrong di sini.

Untuk mempopulerkan kedai, selama Ramadan ini #kopirakjat menyediakan teh dan kurma gratis buat orang-orang yang kebetulan melewati kedai saat jam buka puasa. “Kalau ada yang minta kopi pasti kami bikinkan.” Takjil cuma-cuma itu disajikan di atas gerobak yang dulu dipakai Eko. Gerobak itu kini terparkir di depan kedai, tepat di pinggir Jalan Raya Pasar Minggu yang selalu macet dan berisik.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *