Tips dan Alat

Seduh Manual, Mulai dari Mana?

Terima kasih kepada gerakan Gelombang Ketiga, ketergantungan saya terhadap kafein jadi terlihat seperti hobi keren.” — Anonim

Seorang teman, belum lama ini bertanya kepada saya. “Kalau mau mulai belajar (menyeduh) kopi, harus mulai dari mana?” Dia tertarik menekuni kegiatan meracik kopi secara manual ala kaum gelombang ketiga.

Untuk memudahkan teman saya memahami dunia perngopian, terutama seduh manual secara amatir, saya menganalogikan ngopi dengan fotografi. Saya bilang, kalau kamu mau belajar motret, tentu yang pertama dibutuhkan alatnya, yaitu kamera. Kamera juga jenisnya ada banyak, SLR, mirrorless, prosumer, pocket, sampai kamera ponsel.

Semua jenis kamera punya fungsi dan prinsip kerja yang sama, menghasilkan gambar. Meski begitu, masing-masing berbeda dalam hal pengoperasian. Ada yang rumit dan kebalikannya. Tapi dengan pengetahuan teknik dasar fotografi, maka alat sesederhana apapun bisa dimaksimalkan sehingga hasilnya memuaskan.

Pada kopi teknik dasar itu berupa pemahaman rasio air dengan gramasi kopi, pengenalan tingkat kekasaran/kehalusan hasil gilingan, pengetahuan suhu air, sampai teknik menuangkan (pouring) air ke kopi yang sudah digiling.

Setelah punya alat dan paham teknik dasar, apa lagi? Giliran mengolah rasa dan selera. Dalam fotografi, ini mencakup pengaturan angle, komposisi, pemilihan objek foto, dan hal-hal subjektif yang hanya bisa diasah melalui latihan dan pengalaman. Pada perngopian ini bisa diartikan mengasah cita rasa hasil penyeduhan.

Nah, kata saya ke si teman, kalau mau mulai ngopi maka belilah dulu alat-alatnya. Yang paling standar saja dulu seperti teko leher angsa, timbangan dapur digital, termometer dapur, gilingan kopi (grinder), dan alat seduhnya. Terserah mau V60, Kalita, Clever Dripper, Aeropress, atau paling simpel Frenchpress.

Memilih alat-alat seduh seperti yang saya sebutkan barusan pun sejatinya mirip dengan pemula fotografi yang ingin membeli kamera. Kamera mana yang paling cocok? Merek apa? Untuk pertanyaan semacam ini, menurut saya jawaban paling tepat adalah kembali ke kemampuan kantong.

Kemudian muncul pertanyaan lanjutan. Kenapa harus punya teko leher angsa, timbangan, dan perintilan lainnya? Jawabannya, demi keakuratan dan konsistensi hasil seduhan. Pun, seluruh alat bantu dasar ini akan sangat berguna untuk setiap jenis teknik dan alat penyeduhan yang dipakai.

Kini pertanyaan terakhirnya, di mana alat-alat itu bisa dibeli? Memang toko khusus penjual piranti menyeduh manual tidak banyak. Di Indonesia, nama-nama yang terkenal misalnya Otten Coffee, Maharaja Coffe, dan Philocoffee.

Tapi untuk beberapa piranti seperti timbangan digital, termometer dapur, atau pencatat waktu (timer), tidak harus beli di toko-toko khusus alat kopi kok. Di toko perkakas dan perabotan umum, alat-alat ini banyak dijual. Harganya bisa lebih murah.

Untuk teko leher angsa,  pemula tak perlu beli yang kapasitasnya besar, 1 liter misalnya. Apalagi kalau hanya untuk menyeduh di rumah. Cukup yang ukuran 400-500 mililiter. Harganya, di Maharaja Coffee ada yang hanya Rp 98 ribu, mereknya Latina, berkapasitas 420 ml.

Soal grinder, saya menyarankan beli yang agak mahal. Pada alat satu ini, pemeo “harga sebanding dengan kualitas” betul-betul berlaku. Makin mahal, makin terjamin keawetan dan konsistensi hasil gilingannya. Di toko-toko alat kopi tadi, memang ada beberapa gilingan kopi seharga Rp 250-300 ribuan. Tapi berdasarkan pengalaman pribadi, alat-alat ini kurang awet. Komponen klip plastik di dalam gigi penggilingnya mudah sekali retak.

Merek grinder yang terkenal awet dan hasil cukup memuaskan untuk manual brewing adalah Porlex dan Hario, dua-duanya merek Jepang. Harga produk gilingan Hario mulai Rp 300 – 500 ribuan. Sementara Porlex lebih mahal, yakni Rp 650-700 ribuan. Di Indonesia, Porlex dijual di Otten dan Philocoffee. Sedangkan Hario, selain tersedia di banyak online shop alat kopi, juga sudah punya showroom di AEON Mall, BSD, Tangerang.

Sekarang, kita bicara alat seduh. Alat terbaik untuk belajar menyeduh manual, menurut saya adalah V60 atau Kalita. Karena kedua alat ini menuntut penyeduh memahami teknik dan ilmu dasar brewing seperti rasio, suhu, gramasi, ukuran hasil gilingan, hingga skill motorik berupa cara penuangan air.

Bikin kopi pakai alat-alat yang masuk kategori penetes-saring (dripper) ini memang lebih ribet karena tahapannya banyak. Tapi kalau sudah menguasai teknik menyeduh ini, niscaya penyeduh mudah beradaptasi dengan alat lain. Kalau diibaratkan dengan jenis kamera, dripper adalah SLR.

Enaknya dalam soal pemilihan dripper adalah pilihan produk dan mereknya sangat banyak. Ada beberapa dripper buatan merek-merek generik yang banderolnya lebih murah. Di Maharaja, produk V-dripper termurah mereknya Tiamo, bahannya plastik, harganya Rp 66 ribu.

Bandingkan dengan produk V-dripper keluaran Hario (yang menciptakan V60 dripper pertama kali). Meski sama-sama berbahan plastik tapi harganya mencapai Rp 105 ribu. Pilih saja yang termurah. Karena buat kelas pemula, material dripper dan merek tidaklah terlalu penting.

Jadi, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk memiliki set seduh manual kelas rumahan? Toko-toko penjual alat kopi biasanya menyediakan paketan alat yang isinya sudah lengkap. Salah satu toko yang menyediakan paketan lengkap harga murah adalah #ngopidirumahmu.

Tapi, kalau mau lebih murah lagi, Anda bisa membeli alat secara terpisah dan memilih produk yang harganya paling rendah. Paling tidak dengan dana sekitar Rp 700-900 ribuan, Anda sudah bisa menyeduh kopi single origin ala kafe-kafe. Selamat ngopi!

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *