Coffee Diary

Banyak Ngopi Banyak Rindunya

Kopi… seperti juga cinta pertama, selalu menyimpan cerita yang sangat membekas. Perkenalan tak resmi saya dengan kopi sebenarnya sudah cukup lama. Adalah almarhum Bapak, pengopi “nyentrik” dan perokok berat yang memperkenalkannya kepada saya di rumah. Nyentrik? Iya, karena beliau hanya mau minum kopi di rumah, secangkir di pagi hari sebelum dinas dan secangkir lagi sore atau malam sepulang kerja.

Hanya di rumah? Benar, karena cuma di rumah beliau bisa memastikan kopi Jatinegara Cap Sedan/Bintang Mercy yang diseduh. “Kawit mbiyen, dari awal nikah, mulai Ibu diboyong ke Jakarta, terus enggak lama geger bakar-bakaran mobil-motor Jepang di Senen,” kata Ibu. Jika berkunjung ke rumah kerabat atau famili Bapak selalu punya alasan halus untuk tidak dibuatkan kopi dan ini sudah dipahami oleh hampir seluruh keluarga besar kami. “Tak usah repot-repot, saya sudah ngopi, air putih panas saja,” demikian kalimat yang biasa saya dengar. Kalau sudah begitu biasanya sesampai di rumah beliau pasti repot minta kopi. Hehehe…. Satu lagi: Bapak suka “bekel” bubuk kopi jika harus dinas tak pulang ke rumah untuk beberapa waktu.

Lalu apa hubungannya dengan kopi Cap Sedan/Bintang Mercy? Menurut Bapak, karena ini kopi asli. Benar-benar biji kopi yang digiling di hadapan ketika kita membelinya. Tak ada bahan-bahan tambahan lain, jagung atau hancuran beras misalnya, seperti di kopi-kopi bungkusan. “Benar-benar kopi, mantap,” katanya. Ya, memang mantap. Samar-samar saya masih ingat, ketika dulu suka ikutan nyeruput kopi tubruk Bapak: pahit dan sedikit asam. Belakangan saya baru tahu ternyata kopi yang biasa diminum Bapak berjenis arabika yang memang salah satu cirinya adalah bercitarasa asam. Ibu juga punya racikan khusus untuk secangkir kopi tubruk Bapak: dua setengah sendok teh munjung bubuk kopi plus setengah sendok teh saja gula pasir. Kami sekeluarga memang tak suka manis.

Dari kebiasaan ngopi almarhum Bapak inilah sebenarnya bekal tak langsung saya jatuh cinta dengan kopi (utamanya single origin), modal saya meninggalkan kebiasaan mengkonsumsi alkohol, empat tahun lalu. Bersama beberapa teman di kantor saya menjadi lebih sering ngopi. Tak jarang lalu saya berbagi cerita soal kopi dengan almarhum Bapak di rumah. Sambil menyesap kopi bersama tentunya. Beliau sangat senang ketika waktu itu saya seduhkan dengan french press kopi arabika Toraja yang saya beli di sebuah coffee shop di Jalan Senopati, Jakarta Selatan. Seiring dengan makin beragamnya alat seduh dan koleksi kopi arabika yang saya miliki, kami jadi punya kebiasaan ngopi berdua di teras rumah, setidaknya dua kali sepekan ketika saya libur. Tak lama Ibu juga bergabung, berseketu menyesap kopi hitam tanpa gula. Hahaha….

Banyak kisah soal kebiasaan ngopi almarhum Bapak di situ. Mulai hanya mau ngopi di rumah, bekal bubuk kopi untuk dinas, penanggulangan jika kopi di rumah habis, dan sebagainya. Jika persediaan kopi di rumah tandas, Ibu biasanya membuatkan segelas kental susu putih full cream tanpa gula yang diseduh bersama seprongkol jahe bakar yang digeprek.

Begitulah. Mungkin sepanjang hidupnya yang 72 tahun, Bapak tak pernah minum kopi bungkusan (sebutan beliau untuk kopi saset atau instan). Bapak selalu minum kopi giling, setidaknya sejak sebelum peristiwa Malari pecah sampai beliau benar-benar berhenti ngopi karena takdir ilahi, hingga siang menjelang waktu asar, 4 Juni setahun yang lalu. Sugeng sare, Senior…. Titip rindu di tiap cangkir kopiku.***

Anda mungkin juga suka...

3 Komentar

  1. Al-Fatiha…

    1. Ajibon menulis:

      Hatur nuhun Mas.

  2. Send <3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *