Eko Punto (kiri) sedang menyeduh kopi dengan V60. (Foto: Hindrawan)
Coffee Diary

Biarkan Virus Itu Menetap

Medio 2015. Ketika itu saya sudah pensiun tapi masih ditugaskan datang ke kantor untuk menyampaikan evaluasi visual majalah dan koran seminggu dua kali.

Bagian Kreatif Tempo, yang ditempati para desainer, periset foto, dan fotografer tempat kerja saya ini berada di ujung rangkaian kerja sebuah majalah berita mingguan. Bagian ini tugasnya menata tulisan yang dikirim bagian Redaksi menjadi bentuk tata letak yang menarik sebelum dikirim ke percetakan yang baru bisa mencetak kalau naskah sudah lengkap minimal 16 halaman dan kelipatannya. Mereka tinggal berharap pihak Redaksi akan menurunkan naskahnya sesuai deadline.

Tapi entah kenapa, tulisan-tulisan itu tak bisa sama turunnya. Ada yang tepat deadline tapi banyak juga yang molor. Akibatnya, bagian ini jadi akrab dengan kata: menunggu. Menunggu naskah turun seakan sebuah takdir yang harus dijalani oleh bagian ini. Masalahnya bagaimana cara memanfaatkan waktu menunggu yang seringkali tembus sampai dini hari itu. Bagi mereka yang tidak merokok, menyeduh kopi jadi pilihan pertama untuk mengisi waktu. Termasuk saya.

Sejak dulu kalau saya minum kopi pasti dicampur gula. Tanpa tambahan pemanis tak mungkin bisa minum. Atau menyeduh kopi kemasan yang sudah dicampur krimer dan gula. Kopi instan dalam kemasan sachet dalam berbagai merek dan variannya sedang marak saat itu. Proses menyeduhnya tak merepotkan. Hanya perlu menggunting atau menyobek kemasannya kopi sudah bisa dinikmati. Praktis.

Eko Punto, Aji Yuliarto, dan Ijar Karim, desainer dan fotografer di Bagian Kreatif saya lihat mengisi waktu menunggu naskah turun dengan menyeduh kopi. Di sebuah meja di salah satu sudut ruangan disiapkan alat-alat seduh, gilingan kopi, dan pemanas air. Alat-alat seduhnya masih asing bagi saya yang selama ini hanya tahu cangkir dan air panas untuk bikin kopi tubruk. Kopinya pun ternyata masih berupa biji yang digiling mendadak menggunakan gilingan listrik. Saat itu saya diberi tahu cara menyeduh begini disebut manual brew.

Biasanya, selepas isya pada hari deadline sambil menunggu turunnya naskah ritual ini mereka lakukan: menggiling biji kopi, memanaskan air, lalu menyeduhnya. Di situ saya lihat juga termometer dan timbangan. Untuk apa, sih? Suhu airnya mesti sekian derajat tak boleh lebih atau kurang, dan harus tepat rasio air dan gramasi bubuk kopinya, dan bla bla bla…, katanya.

Dan anehnya, mereka meminumnya tanpa gula. Enak, body dan aciddity-nya muncul, katanya. Kata-kata asing itu yang sering saya dengar tatkala mereka minum. Saya pikir mungkin begitulah gaya minum kopi anak-anak muda zaman sekarang seperti di kafe-kafe.

Karena ingin tahu rasanya dan agar tak dibilang ketinggalan zaman saya mencoba ikut minum bersama mereka. Seruputan pertama terasa pahit—maklum tanpa gula—tapi saya tahan saja demi gengsi. Seruputan kedua masih terasa pahit. Lidah saya menolak. Seruputan selanjutnya terpaksa saya campur gula, tanpa setahu mereka.

Rasa penasaran terus menyertai saya kenapa orang lain bisa menikmati seduhan kopi tanpa gula tapi saya tidak. Saya terus mencoba. Sampai pada suatu hari dalam sesi penyeduhan #ngopidikantor saya mengecap suatu rasa kopi walaupun tanpa gula tapi nyaman di mulut. Lidah saya tidak menolak. Untuk pertama kali, secangkir, dua cangkir kopi dengan mulus meluncur di tenggorokan. Biji kopi itu dari Pangalengan, Jawa Barat, hasil olahan Malabar Mountain Coffee.

Sejak itu saya merasa sudah bersahabat dengan seduhan kopi tanpa gula. Mulai mencoba mengenali, bertanya ke sana-sini tentang seluk-beluk biji ajaib yang bisa mengeluarkan rasa kopi yang berbeda-beda ini.

Aktivitas menyeduh yang dilakukan oleh tiga personel Bagian Kreatif Tempo yang disebut #ngopidikantor itu mendapat sambutan positif. Aksi ini seperti gerakan menebar ”virus ngopi” di kantor Tempo. Semakin banyak yang ikut serta dalam acara #ngopidikantor yang biasanya diadakan pada Selasa secara berkala. Meja tempat menyeduh kopi pun kini sudah tersedia di beberapa bagian lain di Tempo.

Dua tahun sudah usia #ngopidikantor. Dan, virus itu juga sudah meresap ke dalam tubuh saya.

Kini, di salah satu sudut ruang makan rumah saya sudah ada sebuah meja dilengkapi dengan alat-alat seduh manual, gilingan, termometer, timbangan, pemanas air, dan berbagai jenis biji kopi Arabica. Ritual menyeduh kopi biasa saya lakukan beberapa kali dalam seminggu.

Kalau kena virus flu biasanya saya coba usir dengan obat, tapi virus ngopi ini saya biarkan menetap.

*Keterangan foto: Eko Punto (kiri) sedang menyeduh kopi. (Foto: Hindrawan)

 

Anda mungkin juga suka...

2 Komentar

  1. Keren!

    Untuk pengakuan dosa melawan kejujuran, pengampunan dan penitensi sudah diberikan 🙂

  2. Lisa Nelwan menulis:

    **Tos sama Pak Edi** 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *