Mixtape Kekopian
Kultur

Mixtape yang Kekopian

Pada 1980-90an hampir seluruh remaja di kota-kota Indonesia menjadi kriminal. Sepulang sekolah kami menyatroni toko kaset untuk membuat album musik kompilasi pribadi.

Kami menuliskan list lagu pilihan pada secarik kertas dan meminta toko kaset untuk membajak dan mengumpulkan lagu-lagu tersebut ke dalam sebuah kaset.

Lagu-lagu yang dipilih pasti berdasarkan preferensi musik masing-masing. Kalaupun melenceng pasti karena mengikuti suasana hati. Tidak akan ada lagu Forgiven, Not Forgotten-nya The Corrs dalam kompilasi lagu metal kami, kecuali mungkin saat patah hati.

Pilihan durasi seluruh lagu yang bisa dijejali ke kaset ada dua: 60 dan 90 menit. Rata-rata 10-20 lagu bisa kita pilih dan siap dinikmati ketika kaset pesanan jadi pada keesokan harinya.

Generasi muda 1980-90an pasti juga pernah mendapat kado mixtape pada segala perayaan. Saat seorang teman berulang tahun, para sahabatnya berusaha mengingat-ingat list lagu kesukaannya dan membuat mixtape-nya untuk dijadikan hadiah ulang tahun.

Bahkan mixtape bisa dijadikan kado pernikahan. Salah satu mixtape paling menyebalkan yang pernah saya terima adalah kumpulan lagu patah hati, dua minggu setelah putus cinta.

Saat itu mixtape juga disusun untuk diputar di institusi komersial seperti bus malam, metro mini, atau rumah makan. Sangat beragam list-nya, dengan menyimaknya kita bisa menebak pribadi si empunya mixtape tersebut. Agak rasis, soundtrack di metromini yang sering saya tumpangi umumnya berisi list lagu dari Tanah Batak.

Mengingat-ingat itu semua, saya jadi membayangkan mixtape seperti apa yang akan saya bikin untuk diputar di kedai kopi. Seperti single origin yang berbagai-bagai, kompilasi lagunya pasti tidak akan terdiri dari satu genre atau satu artis tertentu.

Tentu saja saya tidak akan membawa list lagu yang sudah saya susun tersebut ke toko kaset untuk dibuatkan bajakannya, cukup membuatnya di app musik streaming macam Spotify.

Kira-kira inilah sepuluh mixtape yang cakep banget untuk diputar di kedai kopi versi saya:

 

1. Semua lagu Payung Teduh aransemen album pertama dan kedua

Apa pun judulnya, tinggal sebut. Notes single origin saya akan meningkat lima kali lipat. Asal bukan versi aransemen baru yang direkam live di sebuah sekolah musik dengan album bergambar daun bolong berbentuk sepasang muda-mudi. Photoshop murahan! Selain itu yang bikin saya tidak suka dari album versi live tersebut adalah aransemennya yang mengingatkan pada adegan film biru, penuh dengan nuansa lembut dan sentuhan aneh terompet dan saksofon.

 

2. Famous Blue Raincoat, Leonard Cohen

Tanpa kopi pun lagu ini bisa sangat menenangkan bagi saya. Manis walaupun kelam, mendayu-dayu sekaligus penuh tenaga. Seperti Aceh Gayo.

 

3. The Spirit Carries On [Scene Eight], Dream Theater

Sebuah pengakuan: saya membenci semua band top forty yang sering manggung di cafe, dari yang terburuk sampai yang profesional. Alasannya karena mereka sangat klise, dari pemilihan lagu, gaya, sampai jokes-nya. Tapi saya akan selalu memaafkan mereka setelah lagu ini mereka bawakan.

 

4. Sampai Jadi Debu, Banda Neira

Kelar idup lo!

 

5. Ode to My Family, The Cranberries

Lagu ini, entah kenapa bisa menciptakan suasana seperti di alam terbuka Selandia Baru, padahal band ini berasal dari Irlandia. Saya selalu membayangkan bisa ngopi pagi-pagi di depan camper van di pulau Selatan Selandia Baru.

 

Playlist Spotify mixtape ini bisa disimak di sini.

 

6. A Whiter Shade of Pale, Procol Harum

Lagu mendayu, atmosfer hangat kedai kopi, dan single origin kaya rasa, kurang apa? Lagu ini sudah membuktikan Efek Rumah Kaca salah besar, bahkan jauh sebelum Cholil menulis Cinta Melulu.

 

7. Putih, Efek Rumah Kaca

Kali ini Cholil presisi menebak seperti apa yang saya bayangkan saat “akhirnya aku usai juga.” Lagu ini dikemas dengan gaya Obbie Messakh yang memadukan nyanyian dengan pelafalan lirik. Bagi saya, Putih termasuk salah satu lagu yang bisa seinspiratif kopi.

 

8. Huma di Atas Bukit, God Bless

Aransemen asli gitar Ian Antono sangat kental meniru Firth of Fifth milik Genesis, lagu nomor 9 di list ini. Mungkin inilah yang membuat saya suka lagu Huma di Atas Bukit. Selain itu liriknya puistis khas lagu-lagu pada generasinya.

 

9. Firth of Fifth, Genesis

Lagu ini diawali dengan denting klasik dari grand piano, disusul perpaduan seruling dan gitar dengan irama naik turun. Sangat progresif, tidak bisa dianalogikan dengan single origin mana pun menurut saya. Tapi dijamin, ngopi sambil menikmati komposisi ini bakal bikin merem melek. Simak apa kata Peter Gabriel: “Now as the river dissolves in sea, so Neptune has claimed another soul.”

 

10. …..

Lagu terakhir sengaja saya kosongkan, silakan ditambahkan di kolom komentar, kira-kira lagu apa yang inline dengan list di atas.

Untuk membuktikan cocok atau tidak mixtape yang saya bikin, dengerin aja playlist-nya di Spotify Mixtape Kekopian yang sudah saya buat.

 

 

Anda mungkin juga suka...

10 Komentar

  1. Praga Utama menulis:

    Lagu-lagunya Tatsuro Yamashita, terutama yg judulnya Rainy Walk dan Every Night cakepss

    1. ke TKP

  2. Lisa Nelwan menulis:

    10. Shine on You Crazy Diamond, Pink Floyd
    Menenangkan seperti secangkir Pantan Musara di tengah kepulan asap rokok. 😀

    1. Cakeps, kak

  3. Nataya Ermanti menulis:

    Sampai Jadi Debu-nya Banda Neira emang bikin idup kelar sih.

    1. Betul, coba ini: ” ku di liang yang satu, ku di sebelahmu”

  4. Smm menulis:

    I want something just ? nya CP yang kekinian juga menenangkan…

    1. Di luar radar saya:)

  5. - erick - menulis:

    Hahahay…..
    Appreciate it buat nomor 3
    Ga bisa usul, beda alam ???

    1. Mbah Dukun —Alam 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *