Ilustrasi abum Revolver dan cetakan kopi tumpah
Coffee Diary Kultur

Mengopi Psychedelic

Manakala musikus rock menyeberangi batas-batas imajiner blue note, orang jadi menyadari adanya begitu banyak elemen musikal yang bisa diakomodasi, dengan hasil yang lebih berwarna-warni. Sebagai nada khas musik blues, yang lahir di lingkungan kaum budak kulit hitam di masa awal berdirinya Amerika Serikat, blue note mengekspresikan kecemasan dan kemuraman, pahitnya hidup. Lepas dari kungkungannya, musik rock, yang berakar pada blues, jadi mirip mata serangga: ada banyak faset pada dirinya.

Menjelang awal 1970-an itu eksperimen para musikus, yang sebagian dibarengi dengan penggunaan lysergic acid diethylamide atau LSD–obat yang menimbulkan halusinasi dan yang di masanya sedang “kekinian”–melahirkan apa yang disebut sebagai aliran psychedelic. Selain mereka yang memang tekun memproduksi musik ini, misalnya Jefferson Airplane, Grateful Dead, dan The Doors, ada pula yang semata-mata menumpang tren, kalaupun bukan bereksperimen, di antaranya The Rolling Stones, The Beatles, dan Pink Floyd.

Boleh dibilang, bagaikan menghadapi wilayah baru yang eklektik–hasil dari kecenderungan lompat pagar–itulah impresi dari peralihan konsumsi kopi robusta ke kopi arabika. Tak ada garis pemisah tipis di antara keduanya.

Selama ini banyak dari kita terbiasa dengan kopi yang disajikan di warung (saya jadi ingat Mbah Mat, langganan di masa sekolah dulu), diseduh dari bubuk yang dikemas dalam sachet, atau sekurang-kurangnya yang disiapkan lewat mesin espresso di kafe mentereng tempat kita sesekali nongkrong (biasanya saat masih belum menjauh dari hari gajian). Tanpa bantuan gula, semua itu hanya memaksa kita menyeruput pahitnya hidup, eh, kopi. Tapi gula, bagaimanapun, adalah unsur yang dibubuhkan belakangan; ia bukan bagian alami dari kopi dan sama sekali tak memperkaya tekstur–kecuali hanya memberi rasa manis. Dengan kopi jenis arabika, alih-alih robusta yang memang jadi “standar” konsumsi hampir di mana-mana, kita jadi seperti penggemar The Beatles yang pada 1966 baru pertama kali mendengarkan Tomorrow Never Knows.

Aransemen lagu di urutan terakhir album Revolver itu dibangun dengan pukulan drum yang seakan-akan timbul tenggelam dan terdengar seperti tabla, dengung sitar yang melayang-layang, suara vokal yang seolah-olah melipir ke dunia “lain”, solo gitar yang alurnya terbalik, dan efek loop yang mengulang-ulang bebunyian. Majalah Rolling Stone menggambarkan lagu berdurasi tiga menit ini, setelah materi-materi sebelumnya–seperti Eleanor Rigby, I’m Only Sleeping, dan She Said She Said–yang merupakan “langkah berani ke wilayah tak dikenal”, sebagai “lompatan dari tebing”.

Penggambaran itu bisa jadi kelewat ekstrem. Tapi kopi arabika pun bisa diperlakukan serupa.

Dengan seduhan yang tepat, arabika–yang banyak ragamnya, tergantung varietas dan sesuai asal-usulnya; dari sinilah orang mengenalkan istilah single origin–memunculkan kandungan dan tekstur rasa yang masuk ke kategori “berani” atau bahkan “lompatan”, seperti yang berlaku untuk sebagian materi album Revolver dan Tomorrow Never Knows itu. Jika harus disebutkan, pada dasarnya ada tiga cita rasa pada kopi arabika: manis, asam, pahit. Tapi, dari waktu ke waktu, karakter yang subtil, sering membikin khayalan melayang ke mana-mana, bisa juga terasa bermunculan–aneka buah, rempah, kacang-kacangan, coklat. Ini seperti yang terjadi pada banyak lagu dari masa psychedelia.

Rasa-rasanya, dari kesamaan itu, kita bisa pula menyebut kopi dan psychedelic dalam satu tarikan napas. Persis seperti kopi dan sepeda. Atau kopi dan… entah apa lagi.

Purwanto Setiadi

...a journalist, music enthusiast and passionate cyclist who has been here and there, but hasn't been everywhere.

Anda mungkin juga suka...

3 Komentar

  1. Smm menulis:

    Tatal dari bongkahan cita rasa intektual dan artistik seperti (artikel) ini, saya harap terus ditulis, agar memperkaya imajinasi komunitas ini; ngopi, sepedah dan entah apalagi. Thanks

  2. Tulisan Mas Malela deadlinenya Jumat ya 🙂

  3. Smm menulis:

    ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *