Mari bicara matematika. Bagi banyak orang, bidang yang satu ini kerap menjadi momok. Seringkali perut mulas lebih dulu saat soal-soal matematika, misalnya, disodorkan dalam ujian. Tapi bagi sebagian yang lain, matematika begitu mudah dan mengasyikkan. Bagi saya? Dia sama seperti kopi: menyimpan banyak misteri.

Kita, misalnya, tak pernah bisa menduga atau menebak hasil akhir dari sebuah persamaan matematika yang diujikan. Yang bisa kita lakukan adalah menguasai dasar teorinya, kemudian menikmati prosesnya, sebelum akhirnya menemukan jawaban—yang bisa jadi tak terduga. Sama seperti kopi, Anda harus mengetahui dulu karakter kopi yang hendak Anda minum, lalu menikmati proses menyeduh dari alat yang Anda pilih, sebelum Anda menemukan rasa dari kopi Anda: pahit, manis, asam atau hambar.

Misteri yang mengasyikkan itu saya kenal pertama kali pada kelas 1 sekolah dasar. Saat itu guru aljabar—dulu belum bernama matematika—meminta kami, muridnya, membawa potongan-potongan lidi yang diikat dengan gelang karet. Dari potongan-potongan itu ia kemudian mulai memperkenalkan bilangan. Angka 5, misalnya, merupakan penggabungan lima batang lidi. Lalu ada operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Semua dijelaskan dengan hitung-hitungan sederhana jumlah lidi.

Suatu kali, saya yang bersemangat menghitung potongan lidi, penasaran ingin tahu: di mana sebenarnya ujung dari perkalian? Berapa lidi yang harus saya kumpulkan? Ini misteri yang harus saya pecahkan. Lalu saya memutuskan mulai menghitung dari perkalian yang menurut saya tak banyak: 100 x 100. Dalam prosesnya, meski saya sudah memotong-motong habis satu sapu lidi di pekarangan rumah, jumlah 10.000 tak juga terpenuhi. Saya justru mendapat hasil akhir ini: orang tua saya mengamuk.

Tapi dari “drama” sapu lidi itu, saya menemukan pengetahuan-pengetahuan baru—tentang definisi “tak terhingga”, misalnya—juga imajinasi-imajinasi yang berloncatan tak terduga. Dari pengenalan bilangan-bilangan itu, saya juga jadi tahu bahwa matematika punya manfaat yang luar biasa: dari hal-hal praktis seperti transaksi jual-beli, menghitung untung-rugi perusahaan, menentukan digit inflasi negara, hingga penjelajahan ke ruang angkasa. Matematika juga mampu menunjukkan kekuatan dan keindahannya di jagat raya. Ia terbukti menjadi salah satu instrumen paling penting untuk mengungkap misteri penciptaan alam semesta.

Lalu apa hubungannya dengan kopi?  Tak cuma terhadap sesuatu yang sebesar jagat raya, matematikawan dengan “senjatanya” yang ampuh itu juga menaruh minat menyelami dunia yang subtil. Jika mereka bisa meringkaskan alam yang maha luas dalam persamaan-persamaan matematika yang sederhana, mereka juga yakin bisa mengkuantifikasi jagat maha kecil di sepotong benda kecil. Benda itu, salah satunya, adalah biji kopi.

Saya membaca cerita menarik ini di BBC beberapa waktu lalu: cerita tentang para matematikawan yang tengah mengumpulkan “potongan-potongan lidi” untuk mengungkap misteri rasa di secangkir kopi. Para peneliti yang berkumpul di University of Limerick di Irlandia itu punya pertanyaan sederhana: apa sesungguhnya yang membuat secangkir kopi terasa sempurna? Adakah kopi yang sempurna itu? Ketika seseorang menyatakan tengah menikmati kopi yang sempurna di waktu yang sempurna, kapan dan pada titik mana sebenarnya kesempurnaan itu bisa terjadi?

Jika kesempurnaan itu bisa mereka temukan, mereka membayangkan kegiatan menyeduh pada manual brew, misalnya, akan semudah membuat kopi instan. Tak ribet dan efisien. Cukup dengan menuangkan takaran kopi ideal yang sudah mereka temukan, begitu pula rasio kopi dan air yang paling pas, berapa suhu yang bisa mengoptimalkan ekstraksi kopi, berapa ukuran gilingan yang tepat, hingga berapa kandungan air yang paling ideal di sebuah biji kopi dalam proses pasca-panen—maka siapa saja bisa menikmati kopi dengan mudah.

Proyek memburu “yang sempurna” itu mereka mulai pada November tahun lalu. Tak ada target kapan penelitian itu akan selesai. Yang jelas, para periset itu saat ini tengah mengumpulkan jutaan data yang akan menjadi variabel penentu keberhasilan eksperimen tersebut. Mereka selanjutnya akan merancang model matematika khusus untuk pelbagai mesin kopi.

Petualangan mengungkap misteri rasa itu jelas tak mudah. Pada sebiji kopi saja ada lebih dari 1.800 komponen kimia. Komponen mana atau perpaduan komponen mana yang menyumbang rasa pahit, manis, dan asam, tak ada yang tahu. Begitu pula kopi dari jenis apa, juga dari ladang kebun dengan perlakuan seperti apa yang ideal? Ada lebih dari 50 negara yang membudidayakan tanaman kopi dengan hasil jutaan ton.

Minuman ini juga paling banyak dikonsumsi di dunia. Ada lebih dari18 juta mesin kopi yang terjual setiap tahun di Eropa saja. Jumlah cangkir yang disesap para penggemar kopi di seluruh dunia juga tak sedikit: 2 miliar cangkir setiap hari! Peneliti terdahulu menyebut bahwa bahan, tekstur dan warna cangkir juga mempengaruhi rasa kopi. Apakah seluruh variabel itu akan diperhitungkan? Berapa banyak pula kopi yang harus diminum para peneliti? Bagaimana mereka mengkalibrasi lidah masing-masing?

Saya membayangkan sebuah penelitian yang rumit, kompleks, lama dan nyaris mustahil. Saat menjajal berbagai macam rasio kopi dan air di rumah saja, aksi coba-coba—tak bisa disebut penelitian—saya itu sering berakhir berantakan. Rasio itu dimulai dari yang rendah seperti 1:8 atau 1:9, hingga rasio lebar 1:15 seperti yang sering digunakan di kafe-kafe profesional. Bahkan Speciality Coffee Association of America (SCAA) menggunakan coffee to water ratio 1:18. Semua perbandingan itu saya coba.

Dengan menggunakan kopi yang sama, alat seduh yang sama (V60), ketel, suhu air, waktu seduh, dan ukuran gilingan kopi yang sama, saya pun memulai perjalanan menemukan “ujung” kenikmatan kopi dari “eksperimen” rasio. Saya lebih dulu menentukan bahwa kopi yang nikmat buat saya adalah kopi yang tak pahit (cukup sedikit pahit), ada rasa manis (makin manis makin enak, apalagi manis buah-buahan), dan sedikit asam. Aroma? Saya menganggap, dengan kopi yang sama, pasti punya aroma yang sama.

Maka percobaan pun dimulai. Dan layaknya seorang matematikawan, saya mencatat semua yang terjadi. Hasilnya? Saya memuntahkan kopi yang saya minum dari rasio kecil karena terlalu pahit. Sebaliknya saya mencatat rasa hambar, layaknya minum teh encer, dari rasio yang tinggi. Pada dua rasio itu, saya tak hendak sok tahu dengan menyimpulkan bahwa dua rasio itu tak ideal buat V60. Kesimpulan itu bisa salah, karena nyatanya saya sering menikmati kopi yang sangat enak di kedai-kedai kopi yang terbiasa dengan rasio tinggi maupun yang memilih rasio rendah. Saya cuma bisa membatin, “namanya juga coba-coba, maklum penyeduh amatiran.”

Nah, pada rasio tengah, seperti 1:12, 1:13 atau 1:14, saya menemukan pengalaman rasa yang berbeda. “Ini kopi enak, saya suka.” Beberapa kali menyeduh pada rasio itu pun, saya tetap merasakan kopi dengan tingkat kepahitan, asam dan manis yang pas atau seimbang. Istri saya pun bersetuju dengan saya (awas kalau bilang tak enak).

Lalu foto-foto kopi hasil seduhan itu kami unggah ke Instagram. Beberapa kawan kemudian memberi komentar yang menyenangkan. Tapi dengan caption foto penuh angka-angka, seperti “kopi 20 gram, rasio 1:13, suhu 90 derajat, grind size 4,5, blooming 30 detik, brewing 3 menit”, seorang kawan yang tak paham makna angka-angka itu memberi komentar begini: “Saya tak suka kopi. Ternyata untuk menghasilkan kopi yang enak butuh matematika. Saya makin tak tertarik.”

Saat itu saya serasa kembali pada “drama” ludesnya sapu lidi puluhan tahun lalu. Pahit.

Join the Conversation

1 Comment

  1. maNtap ceritanya nya ^^ sampai” sekarang saya sudah paham apa artinya perbandingan ,hihi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *