Coffee Diary Kultur

Batman-Robin, Sepeda-Kopi

Ada yang bilang, sepeda dan kopi adalah pasangan yang serasi, seperti ikan dan kentang, Starsky dan Hutch, Rizzoli dan Isles, Batman dan Robin. Karena saya bukan peminum kopi kelas berat dan canggih, sehari paling dua cangkir di pagi hari hasil seduhan menggunakan french press, saya skeptis saja. Tapi, sejak di kantor rutin diselenggarakan kegiatan mengopi bersama, dulu pernah sepekan sekali, yang dipromosikan dengan hashtag #ngopidikantor, saya punya kesempatan yang panjang untuk mengujinya. Dan memang benar.

Kombinasi bersepeda dan mengopi sudah lazim di ajang balap tahunan Tour de France, malah sudah merupakan tradisi. Para pembalap biasanya menyeruput espresso gratis yang disediakan sponsor di zona-zona pemberangkatan (lazim disebut village depart). Mungkin tujuannya untuk mengusir kantuk. Tapi hubungan antara pembalap profesional dan kopi sebetulnya lebih daripada itu.

Pada 1960-an pabrik dari Italia yang memproduksi mesin pembuat espresso bermerek Faema mulai mensponsori satu tim pembalap sebagai ajang promosi. Banyak perusahaan yang berkaitan dengan kopi kemudian mengikuti jejak Faema, hingga kini. Federacion Nacional de Cafeteros de Colombia yang menghimpun petani kopi Kolombia, misalnya, pernah membiayai tim balap sepeda Cafe de Colombia. Saeco, perusahaan lain dari Italia yang memproduksi mesin pembuat espresso rumahan, mensponsori tim balap sepeda profesional yang dipimpin Mario Cipollini, seorang spesialis sprint.

Dewasa ini banyak pembalap sepeda yang bahkan tergolong ahli kopi, masuk dalam kategori connoisseur–orang yang pengetahuannya mendalam dan bisa menilai secara fair. Kenapa?

“Sepeda dan kopi itu pasangan yang selaras. Beberapa jam awal dari bersepeda itu selalu distimulasi secangkir kopi di pagi hari. Bersepeda santai ke kedai kopi terdekat merupakan standar di hari yang malas, tak peduli apakah Anda di Amerika, Australia, Italia, Spanyol, atau Belgia. Dari para amatir hingga para profesional, menyaksikan sebuah road bike, sepeda balap, yang keren diparkir di luar kedai kopi sungguh bisa dipahami,” kata Ted King, pembalap sepeda profesional dari Amerika Serikat.

Intinya: ada kebiasaan, ada rutinitas. Dari sana kemampuan apresiasi berkembang; kebutuhan mengopi tak lagi bisa dilayani hanya dengan seduhan berbahan kopi hasil produksi massal atau jenis asal-asalan. Apa kopinya, seberapa takarannya, dan bagaimana menyeduhnya–yang sangat boleh jadi tampak rumit bagi kebanyakan orang–jadi penting.

Tentu saja, bukan hanya pembalap profesional yang punya hubungan erat dengan kopi. Russ Roca, fotografer yang merupakan salah seorang pendiri The Path Less Pedaled, website yang mempromosikan dan mengadvokasi kegiatan bersepeda di Amerika, umpamanya. Mengaku sebagai pecandu kopi, pria asal San Francisco yang kini yang bermukim di Portland, Oregon, ini tak pernah berhenti mencari alat sedu kopi yang sempurna untuk dibawa touring dan camping, atau memancing (hobinya yang lain). Dia menuliskan kesan-kesannya, atau membuat video blog tinjauan produk, setiap kali menemukan sesuatu yang baru.

Saya tak yakin bisa secanggih dan semilitan itu. Tapi, sejauh yang telah saya alami, dalam tempo singkat sebenarnya, tak sulit untuk sekadar menemukan kenikmatan mengopi di sela-sela kegiatan bersepeda. Mulanya saya merasakan hal ini jika #ngopidikantor dilaksanakan bersamaan dengan jadwal saya bersepeda ke kantor. Belakangan saya bisa mengatur momen mengopi sendiri untuk sampai ke kesempurnaan itu.

Saya bukan pengguna road bike dan tak biasa mengebut, tapi, soal sepeda dan kopi, saya menyukai motto di topi sepeda yang beberapa waktu lalu saya beli: Drink coffee, pedal fast.
———-
*Tulisan ini, dengan judul “Sepeda dan Kopi”, pernah diunggah sebagai status Facebook; diperbarui sedikit

Purwanto Setiadi

...a journalist, music enthusiast and passionate cyclist who has been here and there, but hasn't been everywhere.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *