Coffee Diary

Menilai Pasangan dari Rasio Kopi

KAMU punya pacar atau calon gebetan seorang barista. Lalu dia ingin melamarmu atau menembakmu. Jangan buru-buru “mengiyakan” meski kamu sudah merasa cocok. Tanyakan ini: “Kalau nyeduh kopi main rasio berapa?”

Jika dia berkata, “Loh ngapain nanya rasio”, balas keheranan dia dengan, “sudah jawab saja, aku cuman pengen tahu.” Ingat ini rasio saat menyeduh dengan V60 ya, yang paling dasar. Lalu dengar baik-baik jawabannya dan perhatikan panduan di bawah ini: 

Ada empat keribetan yang hakiki saat kita menyeduh kopi. Pertama soal ukuran gilingan biji (seberapa kasar atau halus), kemudian ada suhu air (antara 88-90 derajat atau 90-92 derajat). Lalu soal berapa lama menyeduh (sekitar 2.30 menit plus blooming atau di atas itu). Nah yang terakhir dan paling ribet adalah soal rasio. (Oya buka tautan ini kalau ingin tahu soal keribetan-keribetan kopi).

Secara garis besar rasio adalah perbandingan antara kopi dengan air. Ketika saya pertamakali belajar menyeduh sekitar medio Desember tahun lalu di acara #ngopidikebun, instruktur saya dari Malabar Mountain Coffe Bogor mengajarkan rasio 1:8. Artinya, untuk 1 gram kopi dibutuhkan 8 gram air. Jadi jika kita menggiling 20 gram kopi, maka hasil akhir setelah digrujuk air adalah 160 gram.

Tidak ada standar baku untuk rasio. Setiap orang punya selera masing-masing. Kafe-kafe di Jakarta rerata menggunakan 1:12 atau 1:13. Bahkan Asosiasi Kopi Spesialti Amerika (SCAA), dalam salah satu jurnal mereka, menyebut bahwa “To achieve the Golden Cup Standard, the recommended coffee-to-water ratio is 55 gram per liter, ± 10 percent” . Setelah saya baca terjemahannya ya sekitar 1:18.

Rasio ini akan sangat menentukan rasa dari kopi. Kopi dengan rasio 1:8 pasti memilliki rasa yang lebih kental dari 1:12. Kenapa seseorang memilih menggunakan 1:10 lalu yang lain 1:12 adalah soal selera. Tidak ada yang benar atau salah.

Nah, tapi setidaknya begini: ketika calon (pacar atau tunanganmu) berkata ia biasa menggunakan rasio 1:8 atau 1:10 maka dia adalah tipikal pasangan yang bermain di zona nyaman. Tipikal orang yang tidak suka mencari tantangan. Bisa jadi minim improvisasi, IYKWIM ;).  

Kenapa? Dalam dunia kopi ada dua kesalahan dasar tukang seduh. Pertama adalah rasa bitter alias pahit mengganggu dan aneh di lidah. Kedua adalah watery atawa terlalu banyak air. Orang Jawa menyebutnya keenceran. So para penyeduh rasio 1:8 dan 1:10 tidak akan menemukan masalah dengan dua problem ini.

Nah, beranjak pada calon yang menggunakan 1:12 atau 1:13. Biasanya mereka adalah tipe orang yang berani keluar dari zona nyaman tapi masih berhitung dengan situasi kondisi. Hidupnya juga cenderung standart. Kira-kira kalau kamu ulang tahun paling diajak makan di resto tempat pertama kencan sambil beromansa. Atau “makan malam lilin” alias candle night dinner.

Rasa seduhan dengan rasio ini sangat seimbang antara asam (acidity) dan ketebalan (body). Kecendurangan bitter dan watery juga tipis. Kemungkinan berhasil dalam tiap seduhan 80 persen.

Tipe berikutnya adalah 1:14. Mereka adalah orang yang suka mencari tantangan. Para penyeduh tipe ini tahu bagaimana cara membahagiakanmu. Mereka punya tujuan yang menggebu-gebu tapi akan langsung puas dengan hasil yang didapat. Misalkan, seduhannya sudah dikatakan enak maka dia sudah puas.

Dan dia mudah diterima di lingkungan manapun sama seperti hasil seduhan dengan rasio tersebut. Beberapa kali acara #ngopidikantor, saya mengamati: rerata orang–mereka yang tidak biasa minum kopi arabika seduhan manual atau pecinta kedai kopi asal Amerika berwarna hijau–lebih suka rasio 1:14. Sebab rasanya ringan baik body maupun acidity.

Berikutnya adalah para penantang bahaya, mereka yang meninggalkan zona nyaman, mereka yang terkadang gagal tapi tidak kapok untuk mencoba lagi, dan tidak pernah puas dengan hasil saat ini. Yaitu tipe pemain rasio lebar 1:15 – 1:16 – 1:17.

Menyeduh dengan rasio lebar rawan watery dan bitter. Sehingga, para penyeduh tipe ini sangat memahami kopi sama seperti mereka paham bagaimana mengayomi pasangannya. Mereka tahu bagaimana memperlakukan jenis kopi Java Preanger yang cenderung ringan agar tetap kaya rasa.

Tipe yang belajar banyak teknik untuk mendapatkan rasa maksimal. Mereka jeli melihat apa pentingnya menuang hanya di tengah, kapan harus berhenti sejenak untuk membiarkan air turun mengekstrasi kopi, dan berapa total brewing. Pun dia belajar dari kesalahan-kesalahan saat menyeduh.

Bagaimana hasil seduhannya: Ijar Karim, salah satu pendiri #ngopidikantor, mengatakan rasio lebar seperti merentang karet. Rawan putus. Namun, jika berhasil kita bisa menemukan jejak rasa (notes) pada kopi dengan tepat. “Semakin direntang akan semakin jelas jejaknya, kalau terlalu rapat kesannya ngumpul,” kata dia satu kali. (Ada tiga pendiri #ngopidikantor yang kamu bisa baca di sini)

Tipe ini tentunya sangat setia. Mereka tahu dengan rasio lebar ada peluang untuk gagal. Tapi mereka akan terus belajar.

Terakhir, tipe “gelas emas” SCAA alias 1:18. Sepertinya tipe yang jarang. Dan saya sendiri enggak yakin V60 dengan rasio 1:18, bikin 1:15 saja ketar-ketir. Kalau memang ada terimalah dia. Karena bisa jadi ini adalah mitos midas si tangan emas.

So, tipe mana pasanganmu? Oya jangan gara-gara postingan ini lalu kalian tolak si dia ya. 

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *