Coffee Diary Travel

#NgopidiJepang: Menikmati Kopi di Negara Terbaik di Dunia

Pada bulan April tahun ini, berbekal tiket promo, saya dan keluarga saya jalan-jalan ke negara yang kata orang-orang “negara terbaik di dunia” – entah apa alasannya – yaitu Jepang.

Selain mengunjungi obyek-obyek wisata di negara yang sangat tertib dan menurut saya selera desainnya – untuk segala hal dari mulai desain pakaian hingga papan penunjuk arah di jalan – sangat tinggi ini, saya dan Ayah saya yang kebetulan juga penggemar kopi, menyempatkan diri untuk mencoba 2 toko kopi di sana.

Dua toko kopi yang kami kunjungi adalah ‘Fuglen’ di kota Tokyo dan ‘Kurasu’ di kota Kyoto.

Kami sadar bahwa keinginan mencoba kopi single origin di Jepang akan jadi hal yang sia-sia karena Jepang bukan negara penghasil biji kopi. Toko-toko kopi di sana pasti membeli biji kopi dari negara lain.

Namun,didorong oleh rasa penasaran kami serta keinginan saya untuk menambah konten di akun Instagram (hehe), saya dan Ayah saya tetap pergi. Alasan lain kami keukeuh #ngopidiJepang adalah ketersediaan kertas penyaring kopi (filter) di hampir seluruh mini mart yg kami kunjungi. Akhirnya, kami berkesimpulan bahwa menyeduh kopi secara manual adalah kebiasaan di banyak rumah tangga di sana. Ini membuat kami penasaran akan kemampuan menyeduh para Barista lokal.

First (coffee) stop, Fuglen.

Yang ada di pikiran saya pertama kali begitu memasuki toko kopi bergaya Skandinavia ini adalah, “Wah, semua orang yang datang ke sini seolah-olah ‘keluar’ dari majalah Monocle”. Jika Anda pernah atau sering membaca “kitab kaum Hipster” ini, Anda pasti memperhatikan bahwa kebanyakan orang-orang yang ditampilkan di majalah ini berbusana “kekinian” : Cardigan, celana 7/8, sepatu pantofel, kacamata bulat.

Ya kira-kira begitulah penampilan para pengunjung Fuglen yang saya perhatikan sore itu. Hal lain yang saya perhatikan adalah banyaknya jumlah pengunjung bule dari Eropa Timur, jika saya tidak salah menginterpretasikan bahasa mereka.

Di Fuglen saya memesan Hot Latte sedangkan Ayah saya memesan kopi El Guayabo dari Honduras dengan teknik seduh pour over menggunakan Kalita wave.

Sambil menunggu pesanan kopi kami, saya mencari tempat duduk yang kosong. Agak susah, karena hari itu Fuglen tampak ramai pengunjung. Entah karena tempatnya yang relatif kecil atau karena memang toko kopi ini salah satu yang paling populer di Jepang. Walaupun ramai, Fuglen tetap terasa tenang bagi saya karena kebanyakan para pengopi di sana datang untuk numpang bekerja. Jadi, mereka tampak fokus dengan laptop masing-masing tanpa ngobrol sedikit pun dengan orang lain. Mereka yang datang dengan beberapa teman tanpa membawa laptop juga tampak mengobrol dengan suara sangat pelan. Tampaknya ini budaya Jepang yang dipatuhi di tempat manapun di negara ini.

Setelah si Barista menyerahkan pesanan kami, kami berjalan ke tempat duduk kami di area luar untuk menikmatinya.

Hot Lattenya tidak meninggalkan kesan apa-apa buat saya. Sebaliknya, Ayah saya langsung jatuh cinta pada sesapan pertama ketika minum kopi pesanannya. Beliau langsung memutuskan untuk membeli biji kopinya untuk dibawa pulang. Saya yang nyicip kopi ini juga berpendapat bahwa kopi ini enak. Bodi medium bercampur dengan note jeruk dan coklat. Tipe rasa kopi yang saya sukai. Meskipun begitu, untuk dijadikan favorit, saya masih memilih biji kopi lainnya yang tidak dijual di Fuglen 🙂

Terlepas dari ini, pengalaman ngopi di Fuglen adalah salah satu yang paling menyenangkan bagi saya. Ada rasa gembira yang saya tidak temukan alasannya. Mungkin ini yang disebut anak-anak jaman sekarang sebagai positive vibe. Bisa jadi karena sore itu udara dan suasana Tokyo terasa pas untuk menikmati kopi sambil melihat para penduduk lokal yang berjalan pulang ke rumah masing-masing  – kebetulan Fuglen berlokasi di dekat daerah perumahan – mengenakan pakaian kantor yang stylish. Bisa jadi karena saya berhasil membeli server dan manual grinder impian saya yang ternyata dijual di Fuglen dengan harga lebih murah daripada di Indonesia.

Saya cukup yakin karena alasan yang ke-dua.

Beberapa hari setelahnya, saya dan keluarga saya pindah ke Kyoto, tempat coffee stop ke-dua kami, Kurasu.

Suasana di Kurasu banyak berbeda dengan Fuglen. Meskipun sama-sama kecil dan tampak menjadi tempat pilihan orang-orang untuk bekerja, Kurasu terasa seperti toko kopi sederhana di dekat rumah Anda di mana Anda sering tak sengaja bertemu dengan orang yang Anda kenal. Hangat oleh sapaan serta senyuman dari sesama pengunjung serta dari para Barista.

Menu kopi saya dan Ayah saya pagi itu adalah Tropical Paradise dari Dominika dan Popayan Cauca dari Kolombia. Lagi-lagi pesanan Ayah saya lebih enak. Hampir mirip dengan kopi yang dipesan beliau di Fuglen, note jeruk dan coklatnya bercampur dengan seimbang, namun yang saya rasakan ada sedikit rasa anggur dan rempah. Bikin nagih 🙂

Tapi, keinginan saya untuk membawa pulang biji kopi Kolombia ini akhirnya kalah dengan keinginan saya untuk membeli dripper kayu Yasukiyo di sana. Lumayan juga saya menahan godaan untuk tidak memborong jualan Kurasu lainnya yang sungguh menarik, dari mulai sendok kopi, cangkir dalam beberapa ukuran, hingga teko bergaya tradisional. Kebanyakan terbuat dari kayu dengan warna-warna pastel. Jepang banget.

Ketika sedang berdiskusi di depan rak jualan Kurasu, seorang pengunjung rupanya memperhatikan kami dan langsung bertanya, “dari Indonesia juga ya?”.  Akhirnya kami mengobrol lumayan panjang, membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kopi hingga tempat kami kuliah dulu. Rupanya kami tampak sangat asyik mengobrol hingga salah satu Barista di sana bertanya apakah kami saudara. Ketika kami menjawab bahwa kami baru kenal saat itu juga, ia hanya tersenyum sambil berkomentar, “Wah, hebat ya bisa langsung akrab”.

Di Kurasu saya kembali merasakan kegembiraan misterius seperti di Fuglen. Kali ini saya yakin karena kombinasi dari kopi yang enak, para Barista yang begitu baik hati dan ramah melayani saya, Ayah saya, serta para pengunjung lainnya, juga barang-barang jualan yang ‘menggoda iman’.

Saya sekarang sepertinya mengerti kenapa Jepang dianggap sebagai negara terbaik di dunia.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *