Sangat kecil peluang seorang pengopi tak menyadari kaitan antara kopi dan energi yang melimpah. Di pagi hari (ini waktu normal mulai mengopi, ‘kan?), begitu kafein merasuk ke dalam otak dan tubuh, memacu denyut jantung dan merangsang sistem saraf, letupan energi akibat “doping” kafein yang khas itu bakal sulit disangkal. Setiap pengopi menginginkan kondisi ini, dari waktu ke waktu, kalau bisa.

Tanpa melihat prosesnya, yang sangat boleh jadi peliknya melampaui kerumitan musik King Crimson, perubahan dari keadaan lesu ke keadaan riang dan energik itu mudah mendorong timbulnya kesimpulan bahwa mengopi bisa membuat kita bahagia. Ini kesimpulan yang membesarkan hati, dan mungkin menghalau perasaan bersalah karena terlalu mencintai kopi. Tapi benarkah?

Sebelum meyakini hal itu, tak ada salahnya pengopi mencari tahu lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak segera setelah secangkir kopi memasuki tubuh. Ini bisa dimulai dengan memahami bahwa di dalam kepala kita bermukim apa yang disebut kortisol dan serotonin. Kortisol lazim disebut hormon stres, sedangkan serotonin adalah neurotransmitter atau pengirim sinyal antarsel saraf yang memancarkan “kebahagiaan”. Keduanya ada dalam jumlah yang seimbang.

Tergantung penyebabnya, produksi kortisol maupun serotonin bisa terganggu. Jika serotonin berkurang, bahan kimiawi kebahagiaan menurun, bisa timbul perasaan gelisah dan depresi. Sebaliknya, jika tingkat serotonin melampaui kortisol, timbul gejala jantung berdebar, perasaan bingung, dan mungkin badan menegang, saat itulah kita mempunyai terlalu banyak bahan kimiawi kebahagiaan. Jadi, merawat keseimbangan kortisol-serotonin terhitung penting.

Di situlah kopi bisa berperan: mengembalikan keseimbangan kortisol-serotonin.

Secangkir-dua cangkir kopi akan membangkitkan semangat tanpa menimbulkan efek buruk terhadap sistem saraf. Kafein dalam cangkir-cangkir kopi itu memacu produksi serotonin, yang melipatkan kegembiraan. Serotonin, di lain pihak, merangsang naiknya produksi kortisol, yang mempertajam konsentrasi dan menjaga kesiagaan sistem saraf. Tapi kondisi ini ada batasnya.

Yang kerap luput dari perhatian banyak pengopi adalah batas itu. Kopi berpeluang menimbulkan kecanduan. Andaikata efeknya bagus, suasana hati yang gembira dan penuh semangat itu bertahan dalam derajat yang wajar, tak masalah. Dalam kenyataannya, pada kopi tak pernah dicantumkan label yang seharusnya ada, yang memperingatkan bahwa kopi “tak bisa menjamin adanya konsentrasi dan kegembiraan terus-menerus”. Semakin banyak konsumsi kopi, tak serta-merta melipatkan kebahagiaan; sistem saraf malah bisa jadi korban.

Memang, selalu berlaku keajaiban dalam banyak hal; dalam urusan mengopi, kita mungkin takjub bahwa Voltaire dan Honore de Balzac, keduanya penulis dari Prancis, misalnya, bisa menghabiskan puluhan cangkir sehari. Tapi panduan umum yang disahkan lembaga-lembaga kesehatan adalah ini: meminum kopi lebih dari tiga atau empat cangkir per hari sudah masuk ke kategori kebanyakan–dan manfaat magis kopi pun lenyap.

Kecuali kita punya daya tahan seperti Voltaire (dia meninggal di usia 83 tahun), atau para pengopi “edan” lainnya, tak salah bila kita menghindari godaan untuk memperbaiki suasana hati, setiap kali sedang murung, dengan mengopi.

Published by Purwanto Setiadi

...a journalist, music enthusiast and passionate cyclist who has been here and there, but hasn't been everywhere.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *