Desa Wae Rebo pertama kali terlihat dari Pos pintu masuk desa adat.
Travel

Mitos Kopi Wae Rebo

[aesop_gallery id=”633″ revealfx=”off”]

 

MENYESAP kopi Wae Rebo Flores nyaris menjadi mitos bagi saya. Di kafe-kafe nge-Hitz yang ada di Jakarta dan sekitarnya pun barang ini susah ditemukan. Mereka yang pernah meminum kopi ini berkata, “Ada rasa seperti kayu manis.” Saya jadi semakin penasara. ¬†Untungnya, akhir April lalu, saya berkesempatan mengunjungi Flores. Dan sejak di Jakarta saya sudah berniat bakal mematahkan mitos itu.

Hari-hari pertama di Flores saya habiskan untuk berburu foto peringatan ibadah paskah di Larantuka. Baru pada hari kelima,–dari total sepuluh hari petualangan saya di Flores– saya dan teman-teman punya waktu senggang ke Wae Rebo.

Untuk sampai ke Wae Rebo, kami memulai perjalanan dari Ruteng yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Manggarai. Butuh waktu sekitar empat jam menggunakan mobil ke arah barat daya Ruteng untuk sampai ke desa terdekat dengan Wae Rebo yaitu Desa Denge. Dari Denge, kami jalan kaki menuju Wae Rebo.

Sepanjang perjalanan Denge-Wae Rebo, kami bertemu banyak penduduk Wae Rebo yang turun gunung untuk menukar hasil bumi mereka yaitu kayu manis dan kopi dengan kebutuhan sehari-hari. Mereka ramah. Selalu tersenyum ketika berpapasan dengan rombongan.

Rasa lelah saya pupus ketika samar-samar tercium bau kopi dan kayu manis. Benar, setelah berjalan selama empat jam hamparan kebun kopi dan kayu manis menyambut.¬†Ada satu tradisi unik saat kami tiba di pintu desa Wae Rebo. Kawan saya memukul kentongan yang ada di sana. “Untuk memberi tahu penduduk desa bahwa ada tamu datang,” kata teman saya. “Jadi mereka bisa menyiapkan jamuan.”

Sama seperti kopi Wae Rebo yang menjadi mitos bagi saya. Desa ini juga nyaris seperti cerita-cerita dongeng. Hanya ada tujuh rumah berbentuk kerucut yang di sebut Mbaru Niang. Kami memasuki salah satunya, yaitu milik Tetua Adat Pak Rofinus Nompor, yang membacakan doa-doa dalam Bahasa Manggarai untuk keselamatan sekaligus ucapan selamat datang.

Setelah basa basi sebentar, baru saya bertanya ke Pak Rofinus Nompor , yang juga tetua adat Wae Rebo, untuk mencari kopi itu. Pada mulanya, gara-gara kawan-kawan bercerita indahnya kopi Wae Rebo, saya membayangkan proses pasca panen di sana juga bagus.

Nyatanya: kopi yang sudah dipetik dijemur begitu saja di atas batu dan rumput yang lembab. Karena sifat kopi adalah katalis yaitu menyerap aroma yang ada di sekitanya, kopi yang saya bawa ke Jakarta berbau apek. Menurut teman saya di Jakarta, “Rasanya seperti air cucian beras.”

Saya berkayakinan jika para petani ini mendapat pelatihan dengan baik mereka akan menghasilkan rasa kopi yang dahsyat. Bagaimana tidak, mereka punya kayu manis. Bayangkan jika si kopi menyerap aroma kayu manis dengan baik. Pasti rasanya juga dahsyat. Pada akhirnya, kopi Wae Rebo akan selalu menjadi mitos bagi saya.

 

 

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *