Coffee Diary

Mencari Jejak Kopi dari Lagu Patah Hati

KAWAN saya yang gondrong, bertampang dukun, tapi suka lagu cinta ujug-ujug berkata, “Lagu patah hati yang hebat itu dibuat oleh musisi yang pernah sakit hati.” Maksud kawan ini kurang lebih: pengalaman sejauh apa si musisi ini tersakiti akan menentukan kualitas musiknya. Kejam.

Gara-gara omongannya ini, saya yang malam itu sedang melepas penat setelah tenggat mendadak mendapat ide untuk menulis notes alias jejak rasa pada kopi. Kemudian, saya menghubungi Kang Ananta Prastowo Wahyudi, Qgrader dari Malabar Mountain Coffe Bogor. Saya bertanya, “Kang, dulu waktu sekolah QGrader berarti nyoba macam-macam buah macam apricot ya? Kok bisa ada Qgrader nentuin notes Apricot?”

Notes alias jejak rasa merupakan bagian paling penting dari kopi arabika. Saya pernah menulis sedikit soal notes. Yang paling umum ya: gula tebu, wangi pisang, jeruk mandarin, apel hijau, atau coklat bahkan hazelnut.

Kalau nonton video di YouTube soal kontes nyeduh internasional, peserta biasanya akan menjanjikan kepada juri notes apa yang akan muncul. Nah, penilaian juri adalah seberapa jauh si peserta ini bisa menepati janjinya. So, seperti kata seorang kawan saya, “seorang lelaki jangan berjanji kalau dirasa tidak bisa menepatinya” #tsah).

Kembali ke Kang Ananta, dia menjawab, “Saya enggak pernah makan apricot.” Ia mengatakan untuk menentukan sebuah notes, biasanya hasil kesepakatan beberapa Qgrader.

Jadi begini analoginya: Ada tiga orang berkumpul. Si X sudah banyak mencicipi buah-buahan, Si Y tidak terlalu banyak, Si Z lebih sedikit lagi. Ketiganya disodori gelas untuk cuping atau menilai si kopi.

Si X kemudian berkata, “Saya pernah makan berry dan ini asamnya seperti ini.” Si Y yang juga pernah mencoba berry sepakat. Sementara si Z karena tidak pernah mencoba tentu akan ikut saja. Satu notes berry ketemu. Dan begitu seterusnya. Z misalnya kemudian menemukan notes coklat dan dua lainnya sepakat, maka jejak ini akan dicantumkan.

Tapi bagaimana jika hanya X saja yang pernah mencoba berry sedangkan lainnya tidak. Saya rasa ini berry,” kata X. Tapi Y bilang, “Duh saya enggak pernah nyoba berry, tapi ini cenderung jeruk mandarin.” Z punya pendapat lain. Maka, kata Ananta, mereka tetap akan mencantumkan notes-notes hasil pendapat masing-masing ke dalam kemasan kopi. Ananta mengatakan pada akhirnya menentukan notes akan kembali pada pengalaman QGrader.

Sama seperti musisi yang membuat lagu. Seorang musikus, kalau dia patah hati hanya gara-gara teleponnya tidak pernah disaut, paling mentok-mentok buat lagu macam “Direject-direject aja”. Kurang perjuangan dia. Coba kalau anaknya ngotot pasti sudah membuat lagu macam “Barisan Para Mantan-Endank Soekamti”.

Nah, Tulus bisa jadi lebih kaya pengalaman saat membuat “Pamit”. (Kebetulan spotify saya mendendangkan lagu ini). Coba liat liriknya: Izinkan aku pergi dulu / Yang berubah hanya Tak lagi kumilikmu / Kau masih bisa melihatku / Kau harus percaya / Kutetap teman baikmu. (Mampus enggak nih, syairnya endes banget).

Pun menentukan notes, jika QGrader dari rumah sangrai itu tidak pernah memakan apricot maka jejak ini tidak akan dicantumkan pada bungkus kopi. Makanya, kata Ananta, tugas QGrader adalah terus belajar menambah pengalaman. 

Karena menentukan jejak rasa berkelindan dengan pengalaman seseorang tak heran ada notes-notes tidak umum seperti mawar dan melati. Bahkan ada rumah sangrai kopi yang menulis notes Pasar Minggu: Belimbing-kedondong-Apel Merah-Gula Jawa-Coklat-Kayu Manis-Wine. Lengkap. Toh, kata Ananta, hal itu sah-sah saja. “Selera dan pengalaman seseorang tidak bisa diperdebatkan,” kata Ananta.

Seorang musikus dan QGrader juga punya satu tujuan. Menyampaikan kesan dan rasa yang ia ciptakan kepada pendengar atau penyesap kopi. Misalnya, Mereka yang tidak pernah merasakan telepon terus-terusan ditolak pasti akan mengganggap lagu macam “direject” itu alay. (Saya termasuk yang menganggap ini alay banget). Pun mereka yang tidak pernah ditinggal ketika sedang sayang-sayangnya juga akan menganggap lagu “Pamit” biasa saja. (Kalau ini beda cerita lagi)

Nah, pengalaman menentukan notes ini juga akan turun ke peminum. Bayangkan nama notes ini “Stone Fruit”. Pernah dengar? Kalau belum, Saya sudah googling dan menemukan “buah batu” ini rupanya masih satu keluarga dengan peach dan apricot. Bagi saya yang tidak pernah memakan buah ini ya tidak takjub. Malah bertanya-tanya, seperti apa rasa peach itu.

Berbeda ketika saya menyesap kopi beraroma melati. Bayangan saya adalah truk teh pengangkut melati yang saban malam Kamis lewat di rumah saya di Tegal. Truk ini jadi senjata ibu-ibu di kampung untuk menakut-nakuti anaknya agar tidak main di malam hari.

Dan pada akhirnya, notes alias jejak rasa akan berkelindan dengan after taste alias kenang rasa.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *