Di mana pun, di tempat-tempat mengopi (kafe, coffee shop, atau warung kopi), satu hal yang hampir selalu membuat saya “bete” adalah musik yang diputar. Perasaan jelak ini semakin menjadi-jadi apabila saya kebetulan masuk ke kedai-kedai kopi itu sendirian.

Dari sekian banyak kafe, saya mendapat kesan mengopi dipandang sebagai momen bagi orang untuk melipur hati yang sedang gundah, atau menikmati suasana romantis karena sedang berduaan dengan pacar, istri, pasangan; atau sekurang-kurangnya rehat sejenak dari kerja, untuk melepas lelah. Karena itu kepada mereka disuguhkan “daftar putar” berisi lagu-lagu yang easy listening, yang mudah masuk ke telinga. Boleh dibilang, ini semacam top 40 songs yang biasa dimainkan house band berbagai kafe.

Tampaknya anggapan itu pula yang mendasari penyusunan playlist untuk menemani orang mengopi seperti yang bisa dijumpai di Spotify, umpamanya. Sulit menemukan daftar yang menyeberangi batas-batas sekadar “kuping-able”, kategori jazz, atau bersifat ambient. Padahal sangat boleh jadi orang justru sedang membutuhkan injeksi semangat ketika memutuskan untuk singgah ke peracik kopi langganannya, khususnya di pagi atau siang hari.

Untuk mereka yang “nagih” dorongan “moril” semacam yang dipidatokan para motivator, mendengarkan Goodbye Pork Pie Hat dari Charles Mingus, misalnya, bisa malah menimbulkan perasaan tertekan (atau ingat tagihan kartu kredit)–betapapun, secara komposisi, tetap terasa canggihnya sentuhan khas hard bop yang hangat dan soulful. Dikepung lagu-lagu sejenis, pahitnya hidup bisa terasa berlipat bila seduhan kopi pesanan ternyata meleset di sesapan lidah.

Saya setuju dengan Murray Carpenter, penulis buku Caffeinated: How Our Daily Habit Helps, Hurts, and Hooks Us, yang bilang ada banyak lagu bagus untuk urusan kopi. Dan ada fakta yang juga sulit dinafikan, seperti dia akui, bahwa “musikus tampaknya suka minum kopi, dan mencipta dan bermain [musik] saat mereka minum kopi”. Musik yang lahir dari momen-momen itu bisa berjenis apa saja.

Di tahun 1972, Ike Turner melahirkan Black Coffee, nyanyian tentang orang-orang merdeka yang “berkulit putih tapi berjiwa [orang kulit] hitam”. Lagu berirama rhythm and blues yang dilantunkan Tina Turner–ketika itu masih berstatus istri Ike–ini diubah aransemennya menjadi blues rock yang mengentak oleh Humble Pie pada 1973. Bagi Carpenter, lagu ini cocok “untuk mereka yang mau keluar bersenang-senang di malam hari, atau bahkan setelah Anda pulang dan ingin suasana ramainya tetap terasa”.

Sebetulnya, di samping hal ihwal yang berkaitan dengan irama dan tempo, yang juga bisa jadi pertimbangan dalam memilih lagu untuk teman mengopi adalah pengalaman apa yang kisahnya dituturkan melalui liriknya. Mengopi, bagaimanapun, bukan semata-mata soal minuman. Dan pengalaman atau asosiasi yang terkait tak selalu bersifat soliter–seperti yang pada umumnya dikira; lagu One More Cup of Coffee yang dinyanyikan Bob Dylan, misalnya, bicara tentang sifat sosial minum kopi.

Mengingat hal itu, sebagai teman menyeruput kopi-kopi favorit saya di rumah, saya bahkan tak ragu menyusun playlist berisikan lagu-lagu yang lahir di masa dan didorong oleh semangat psychedelia menjelang akhir 1960, ketika penggunaan lysergic acid diethylamide, obat yang menimbulkan halusinasi, sedang meluas. Aneh? Tidak juga. Kopi toh identik dengan kecanduan, walau, kata Carpenter lagi, “jelas kecanduan yang bisa diterima.”

Buat saya, musik apa saja masuk asalkan efek langsung maupun tak langsung dari mengopinya jelas: tak ada kegiatan yang serta-merta jadi berhenti total.

 

—–

*Tulisan ini dibuat sambil menyeruput seduhan Arabica Peaberry Gunung Halu dan mendengarkan Dream Theater’s Twelve-step Suite

Published by Purwanto Setiadi

...a journalist, music enthusiast and passionate cyclist who has been here and there, but hasn't been everywhere.

Join the Conversation

4 Comments

    1. di kupingku hampir sama saja dengan goodbye pork pie hat, atau bahkan lebih ngelangut–kalau bukan muram. tapi tergantung tujuan dan suasana ngopinya sih. ?

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *