HINGAR bingar Lebaran di Tegal kali ini ditandai dengan berdirinya Transmart. Lengkap dengan Roller Coster yang kata orang Tegal “Numpak odong-odong sing gawe jantung copot, mak tratab.”

Transmart hanya satu simbol “kota besar” yang masuk ke Tegal dalam dua tahun terakhir ini. Sebelumnya, muncul waralaba macam Waroeng Steak-Richeese Factory-dan jaringan bioskop yang up to date, serta gerai tas Elizabeth.

Seorang jakwir asal Jakarta ngomong, “Emang wong Tegal ekonomi wis apik apa bisane akeh nemen toko moderen.” Saya menjawab, “Wis, ndeleng bae kae akeh kafe neng Tegal.” Yup, Berbarengan dengan simbol-simbol kota besar itu, kafe-kafe juga mulai menjamur di Tegal. “Kafe neng Tegal rame terus,” kata seorang kawan yang menetap di Tegal.

Nah, para pegiat “Third wave” alias gelombang ketiga di dunia kopi juga ikut meramaikan wabah kafe ini. Makanya menu “manual brew” arabika juga mulai nyempil di daftar menu. Para pecinta seduh manual ini pun membuat komunitas: Sebat alias Serumpun Barista Tegal. Kelompok ini mewadahi para penikmat kopi Arabika tanpa gula dari Brebes-Tegal-Slawi-Pemalang.

Alat macam rokpresso dan aeropress sudah menjadi pelengkap di meja barista. Sepanjang libur Lebaran saya mencoba meloncat-loncat di beberapa kafe. “Jumlahe akeh mas, sepuluh kafe ndean ana,” kata seorang barista di salah satu kafe. Sayang, daya jangkauku hanya bisa di empat kafe. So berikut ulasannya (catatan: urutan ini berdasarkan waktu kunjung saya)

 

1. Wiji Kopi

Kafe yang interiornya bergaya bangunan setengah jadi ini terletak di Jalan Werkudoro, Slerok. Jejere Alfamart Slerok. Nah, di kafe ini saya berkenalan dengan biji kopi asal Gunung Slamet. Namanya, Biji Kopi Pak Sanam. “Tapi kie isih rahasia mas,” kata si barista. Menurut dia, proyek Pak Sanam ini masih terbatas. Si barista mengatakan, “Nanti ada waktunya di launching.”

Saya memesan V60 Pak Sanam yang diproses Fully Wash. Dengan rasio 1:13, rasanya okelah kalau begitu. Body dan acyd seimbang. Apa notesnya, nah karena masih proyek awal, si barsita belum memutuskan apa notesnya. Tapi saya mencium aroma jagung rebus khas proses black honey.

Wiji Kopi ini juga sekaligus rumah sangrai. Di pintu masuk ada satu mesin roasting. Beberapa kedai kopi di Tegal mengambil biji hasil sangrai Wiji Kopi.

Nah, dari Wiji Kopi ke arah selatan (bisa tanya tukang parkir arah Rumah Sakit Umum Kardinah), ada satu tukang tahu aci. Toko oleh-oleh khas Tegal ini ada persis di jembatan Kejambon, namanya Tahu Murni Putra Bu Umi (Eh daripada nanya ke arah mana rumah sakit Kardina, tanya saja ke tukang parkir ini tahu di mana, mereka juga pasti tahu).

Atau ke arah timur, tanyakan Sate Kambing Metro. Salah satu the best sate kambing tegal. Dagingnya empuk. Beda dengan Sate Khas Jakarta atau Madura, Sate Tegal lebih juara. Cocok untuk makan berat setelah ngopi.

 

2. Kedai Kasmaran

Menggunakan VW Kombi Kuning, Kedai ini buka lapak di bawah videotron Lapangan Alun-Alun Kota Tegal. Jadi sangat direkomendasikan ngopi kalian mangan-mangan khas Tegal di alun-alun seperti Kupat Glabed, Ponggol Setan, atau Soto Tauco Tegal (yang suka diklaim orag Pekalongan) di Warung Senggol.

Tapi, saat saya berkunjung ke sana mereka sedang menepi dulu ke sebuah kedai kecil di daerah Mangkukusuman (Tanya tukang parkir “potong rambut Mangkukusuman” pasti tahu. Karena daerah itu memang ramai tukang cukur tradisional). “Nanti setelah libur lebaran balik lagi pakai kombi,” kata si barista.

Di bandingkan tiga kedai lain, saya lebih suka di Kasmaran. Alasan pertama mereka menggunakan rasio lebar 1:15. Yang kedua, si kafe memang 80 persen fokus pada manual brew arabika. “Saya membatasi hanya pada smoothies,” ujar Jamal, Barista kafe tersebut. “Seperti squash tidak main.”

Jamal mengatakan gelombang ketiga sudah masuk Tegal sebenarnya sejak 2015. Namun, baru booming setahun terakhir ini. Khususnya setelah banyak kafe tumbuh. Ya tapi tentu saja, penerimaan manual brew masyarakat masih kurang. Masyarakat masih memilih latte atau capuchino.

Makanya, kata dia, Sebat mulai mengenalkan seduh manual dan kopi Arabika. Sebelum puasa, komunitas ini pernah menggelar acara ngopi bareng di Alun-Alun Kota Tegal saat car free day.

 

3. Papa Brew

Di Tegal ada satu makanan bernama Ketupat Blengong. Yaitu sayur ketupat warna kuning yang dibuat dari campuran kedelai dengan sampingan daging blengong. Apa itu blengong? Dia adalah unggas perkawinan bebek dengan entok, tidak usah repot-repot memikirkan bentuknya. Yang penting rasanya. Nah, makanan ini sebenarnya berasal dari Brebes, tapi tenar di Tegal.

Salah satu kawasan untuk menikmati Kuat Blengong adalah Tegal Sari. Di sana kita bisa menikmati Blengong sambil bengong di pinggir sawah. Karena lokasinya memang mewah alias mepet sawah.

Nah, tidak jauh dari sentra Blengong Tegal Sari, ada perumahan elit bernama Citraland. Di ruko Citraland inilah Papa Brew berdiri. Tempatnya fancy, eksteriornya instgramble kalau kata anak zaman sekarang.

Seduhan kafe yang berdiri pada medio 2016 ini juga enak. Saya kok lupa mencatat ya apa yang ku pesen. Tapi V60 dan Kalitanya boleh. Sayang malam itu mereka kehabisan filter aeropress.

 

4. Boss’A Cafe

Kafe yang ada di Jalan Semeru, tidak jauh dari Balai Yasa Kota Tegal ini kehabisan stok Arabika saat saya datang. Jadilah saya hanya nonton si barista memompa Rokpresso. “Tinggal Lampung Robusta mas,” kata dia. Oh oke, saya malah teringat sebuah warung Swike di deket situ yang sekarang sudah gulung tikar.

 

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *