Tips dan Alat

Kopi Tubruk, Membumikan Kopi Spesialti

Yos Rizal Suriaji, Pemimpin Redaksi ngopidikantor.com memiliki puluhan jenis alat seduh manual di rumahnya. Dari V60, Kalita Wave, hingga entah apa namanya dan apa kelebihannya. Latar belakang militansi Bapak Itu bisa dibaca di salah satu artikelnya: Bedebah Kopi.

Bagi yang punya passion dan power seperti Pak Bos kami tersebut, itu bukan hal sulit untuk dilakukan. Tapi masyarakat umum pasti akan berpikir belasan kali untuk itu, bahkan untuk sekadar hijrah dari mengkonsumsi minuman berperisa kopi ke kopi spesialti.

Salah satu cara membuat peminum kopi palsu menjadi peminum kopi sungguhan adalah dengan memudahkan mereka. Seenak dan seaman apapun kopi berkualitas tidak akan mereka sentuh setelah melihat “seramnya” ritual menyeduh.

Kopi tubruk adalah jawaban, selain sederhana dan mudah, cara seduh ini juga yang paling akrab dikenal di masyarakat. Selain itu, cupping kopi juga menggunakan metode ini.

Dengan menubruk, kopi akan terekstraksi maksimal, sehingga notes yang dihasilkan akan lebih kaya. Kelemahannya, hasil seduhan kurang smooth, tapi masih sangat layak untuk dinikmati.

Untuk mengoptimalkan hasil seduhan kopi tubruk, berikut langkah-langkahnya. Cara ini pertama saya dapat dari sebuah roaster di Pondok Jagung, Tangerang Selatan dan ternyata caranya seragam dengan banyak penggiat kopi gelombang ketiga lain. Yang pasti agak beda dengan cara menyeduh kopi tubruk di rumah umumnya.

 

Air

Gunakan air yang kadar mineralnya rendah supaya tidak mempengaruhi rasa kopi. Seorang sumber di Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia menyarankan menggunakan Pure Life dari Nestle. Panaskan air dengan cara apapun hingga mendidih

 

Cangkir

Gunakan cangkir ukuran 200-250ml yang bersih. Untuk memastikan kebersihannya, cangkir bisa diisi dulu dengan air mendidih tadi, diamkan beberapa saat lalu buang air bilasannya. Ini bisa menghilangkan kotoran, debu, bau, minyak, dan sisa sabun cuci.

 

Bubuk Kopi

Siapkan biji kopi spesialti yang akan diseduh. Bean ini bisa didapatkan di coffe shop yang banyak menjamur saat ini, seperti Anomali, Kopikina, 1/15, dan lainnya. Bisa juga langsung ke tempat roasting seperti Kopi Katalis, Morph, dan lainnya. Harganya berkisar Rp 60-90 ribu per 200 gram. Jika dianggap terlalu mahal bisa mencari di pasar tradisional atau toko penjual kopi seperti Sari Murni di Jatinegara, pastikan kopinya berjenis Arabika, harganya sekitar Rp 25 ribu per 200 gram.

Giling biji kopi menjadi bubuk yang tidak terlalu halus, kira-kira sedikit lebih halus dari ukuran gula pasir. Jika belum punya alat giling, saat membeli bean bisa minta digilingkan. Supaya bubuk tidak terlalu lama disimpan dan menjadi tidak segar, sebaiknya tidak usah terlalu banyak membeli kopi gilingan, cukup maksimal 200 gram.

 

Blooming

Masukan 18 gram bubuk kopi, atau kira-kira 3-4 sendok teh ke dalam cangkir. Tuang air panas hingga membasahi seluruh bubuk kopi, lalu diamkan 30 detik. Proses ini dinamakan blooming, gunanya menghilangkan karbondioksida yang membuat rasa sepat pada hasil seduhan dan membuat perut berasa kembung.

 

Seduh

Setelah itu tuang air panas secara merata sampai memenuhi cangkir. Diamkan empat menit dan tidak perlu diaduk. Seorang sumber menyebutkan jika diaduk akan over ekstraksi, sehingga rasa kopi akan pahit.

 

Nikmati

Setelah empat menit kopi siap dinikmati. Sebaiknya nikmati tanpa tambahan apapun termasuk gula. Cermati rasanya, selain pahit kopi arabika hasil seduhan akan mengeluarkan aroma harum dan berbagai rasa. Umumnya asam, fruity, semu manis seperti karamel, dan lainnya. Setiap single origin akan berbeda rasa (notes)-nya.

Banyaknya air dan bubuk kopi dapat disesuaikan menurut selera. Selamat menikmati dan mengapresiasi kopi sigle origin dari seluruh Indonesia.

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *