JANGAN sekali-kali punya pacar di Jogja sebab kau akan terperangkap kenangan manakala kembali ke kota ini. Jogja saja sudah sesak oleh kenangan, apalagi kalau punya mantan. Itu kata beberapa orang yang pernah tinggal di Jogja.

Saya tak setuju. Ungkapan tadi hanya untuk orang-orang berhati lemah! Saya pernah punya pacar di Jogja (dan tinggal tujuh tahun di sini), tapi yang saya inginkan ketika kembali ke sini adalah menjelajahi kedai-kedai kopinya, bukan menziarahi kenangan. Long live coffee snobs!

Sayang sekali karena waktu yang sempit dan urusan yang padat, hanya tiga kedai kopi yang bisa didatangi pada saat saya ke Jogja, pekan pertama puasa tahun ini. Tiga kedai ini dipilih secara acak dan kebetulan. Acak karena tak direncanakan jauh-jauh hari. Kebetulan karena diajak teman ke sana atau pas saya dekat dengan lokasi kedai.

Saya tak akan bilang enak atau tidak enak. Tiap kopi punya karakter. Tiap barista punya keandalan.

 

Cafebrick

Berkonsep kafe, Cafebrick menyediakan menu casual dining juga. Saya datang ke menjelang magrib bersama seorang teman. Dialah yang memilih kedai kopi di Jalan Damai ini—bila Anda menuju Kaliurang, di sekitar kilometer 8 belok kiri. Ceritanya sih untuk buka puasa. Maka, menu yang dipesan pertama-tama adalah makanan untuk berbuka.

Selanjutnya tentu saja saya pesan kopi. Saya memilih Gayo Wine karena penasaran dengan rasanya. Diembel-embeli “wine” karena konon notes wine-nya terasa banget. Saya pesan kopi ini diseduh dengan V60. Cafebrick bisa menyeduhkan pesananmu dengan Chemex, flat-bottom, Aeropress, hingga syphon. Mereka juga menyediakan kopi berbasis espresso. Tapi itu kan “gelombang kedua”.

Benar saja, saat kopi saya datang, wangi anggurnya menguar. Sebagaimana kopi lainnya yang diproses natural, rasanya pun manis. Tapi notes atau jejak rasa alkoholnya sangat kuat. Ini karena permentasi yang optimal pada saat proses pascapanen. Sebagian orang bilang karena fermentasi berlebihan. Apapun, Gayo Wine patut dicicipi.

Per sajian Gayo Wine dapat dinikmati dengan Rp 40K. Lainnya, Rp 24K—diseduh dengan alat seduh manual apapun.

 

Studio Kopi

Kedai kopi ini punya banyak koleksi biji kopi, dari dalam maupun luar negeri. Studio Kopi tak hanya menyeduhkan kamu kopi, tapi juga menjual bijinya.

Tempat ngopi yang terletak di Babarsari ini juga sebuah roastery. Mereka punya Ruang Sangrai, yang khusus menyangrai kopi. Menurut seorang pengelolanya, mereka membeli kopi dalam bentuk green beans, lalu menyangrainya sendiri.

Saya datang ke sini malam-malam dan memesan Puntang Natural diseduh dengan V60—ini standar saya menyeduh kopi. Entah kenapa saya pesan kopi ini. Saya lupa. Hasil seduhannya di bawah ekspektasi saya.

 

Analog

Pengakuan: saya datang ke sini karena “kecelakaan”. Sebetulnya malam itu saya bersama seorang teman hendak ke Klinik Kopi di sekitar Jalan Kaliurang KM 7,8. Bukan karena kedai itu merupakan salah lokasi syuting film AADC 2 saya hendak kemari. Teman saya merekomendasikannya karena tempat dan kopinya yang asyik. Tapi pada Ahad malam itu Klinik Kopi tutup.

Kami kemudian mendatangi beberapa kedai kopi. Sayangnya, pada pukul sembilan malam lewat itu, kedai-kedai itu tak buka. Belakangan kata beberapa teman, bukan karena sudah lewat pukul sembilan malam tempat minum kopi tutup, sejumlah kedai di Jogja memang libur pada malam Senin.

Kami lalu melaju ke Selokan Mataram. Teman saya ingat bahwa di utara kampus UNY, dekat perempatan Kanisius, ada sebuah kedai kopi kecil yang ia lupa namanya. Dia sendiri belum pernah kemari.

Bolehlah. Yang penting ngopi dulu. Besok pagi saya pulang ke Jakarta.

Setibanya di kedai kopi yang kemudian kami tahu namanya Analog, saya pesan Gayo Heirloom. Nama “heirloom” biasanya menempel di kopi Ethiopia. Mungkin gara-gara itu saya ingin mencicipinya.

Saya minta pesanan saya diseduh dengan V60. Alasannya, hasil seduhan lebih seimbang ketimbang diseduh dengan Chemex atau Kalita Wave, dan mengoptimalkan notes kopi. Tapi ini kita bahas lain kali.

Saat disesap, kopi bersih dari jentik-jentik pahit. Sebagaimana kopi asal Gayo, varietas ini berbodi tebal. Kenang rasanya teh dan tebu lamat-lamat.

Beck, salah seorang pengelola Analog, bercerita bahwa kopi tersebut diperoleh dari The Creator, roaster di daerah Terban. Semula biji kopi Gayo Heirloom yang belum disangrai akan diekspor ke luar negeri. Tapi karena pengurusan ekspor yang lama, akhirnya beans dilepas di dalam negeri.

Yang membuat rasanya unik, kata Beck, kopi tersebut diproses dengan cara Kenya (Kenyan washed). Bila pada proses “washed” umumnya kopi hanya dicuci sekali lalu dibiarkan berfermentasi dan kemudian dikeringkan, dengan proses Kenya kopi dicuci dua kali dan berfermentasi dua kali pula.

Oya, harga segelasnya Rp 20K.

 

Demikianlah, penziarah kenangan. Ini bukan catatan terakhir saya tentang ngopi di Jogja.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *