PADA suatu waktu ketika saya kedatangan tamu kerabat. Penampilan alat seduh kopi V60 dengan ceret leher angsa, dripper, saringan (filter) kertas, dengan dibumbui cerita tentang kopi hasil comot sana, comot sini, ditambah sedikit gaya menyeduhnya ”memukau” para tamu—yang hanya kenal menyeduh kopi sachet menggunakan ceret dapur biasa.

Hasil seduhan, itu urusan kemudian.

Setelah membuat tamu terpesona—ini sebenarnya hanya perasaan saya saja—kemudian, datanglah ”godaan” yang menghadang: ingin mencoba alat seduh lain.

Berkumpul dengan sesama anggota komunitas #ngopidikantor, saling tukar informasi tentang kopi ditambah melihat atau mendengar ada teman yang baru membeli barang makin menumbuhkan hasrat membeli alat baru.

Kita tahu, kini segudang alat-alat seduh kopi dijajakan, di kafe-kafe dan toko online. Aneka gimmick penjualan, diskon besar-besaran disertai foto-foto produk yang kinclong jadi sangat menggiurkan. Menggoda iman.

Membeli barangnya pun sangat mudah. Hanya butuh komputer untuk meng-klik lantas mentransfer uang tanpa harus beranjak dari kursi. Satu-dua hari kemudian barang pesanan sudah di tangan. Semudah itu.

Membuka situs online ibarat melewati etalase toko di mall. Kita “dipaksa” atau memaksakan diri menyaksikan etalase yang menampilkan barang menggiurkan untuk dibeli meskipun banyak yang tidak dibutuhkan.

Saya termasuk yang tergiur.

Saya browsing di sebuah toko online yang menjual kopi dan alat-alat seduh kopi terkenal di Indonesia. Toko ini menyediakan bermacam-macam alat seduh mesin dan manual serta perlengkapannya, gilingan kopi manual dan yang menggunakan listrik, dan banyak lagi yang berhubungan dengan kopi. Barang-barangnya dipajang menarik untuk dilihat. Siapa tahu ada yang bisa dibeli.

Mulai dari seduh manual. Pilih Brewers (toko ini sebagian besar menggunakan bahasa Inggris), klik Syphon. Prosesnya agak unik. Air di bola kaca di bawah mengalir ke wadah berisi kopi di atasnya bila dipanaskan. Kemudian air kopi mengalir lagi ke bola di bawah. Di bawah bola kaca terdapat api untuk pemanas air menggunakan spiritus, gas, listrik, dan yang paling baru halogen (beam).

Alat seduh ini menarik untuk atraksi menyeduh. Konon, proses nyeduh menggunakan syphon yang unik itu sering membuat hadirin dalam acara #ngopidikantor terpesona. Pertama kalinya saya mencicipi hasil seduhan syphon di MM Café, Bogor. Semua rasa jadi smooth di lidah. Saya tertarik untuk membeli.

Pilih Brewers, klik Chemex. Bentuknya cantik seperti tubuh wanita mengenakan baju ketat dan ikat pinggang lebar. Kalau diperhatikan alat ini mirip V60 bedanya dripper dan server-nya dijadikan satu. Praktis. Dua alat menjadi satu. Saya tandai untuk membeli.

Pilih Brewers, klik All in One Coffe Maker. Klik Cafflano. Seperangkat Cafflano all in one coffee maker ini terdiri atas: drip kettle yang merupakan bagian tutup atas digunakan sebagai ceret, foldaway hand-mill grinder adalah penggiling mini, metal filter dripper penyaring  yang terbuat dari bahan metal, dan tumbler cup yang berbahan stainless steel.

Karena bentuknya kecil alat ini jadi mudah dibawa ke mana-mana. Siapa tahu bisa dibawa mudik Lebaran. Saya pertimbangkan untuk membeli.

Masih di Brewers ada Espro Coffee Travel Press. Proses nyeduhnya sama dengan french press kelebihannya hasil seduhnya bisa tetap panas sampai 4-5 jam seperti termos dan bisa dibawa ke mana-mana. Nah, seandainya punya alat ini saya bisa ngopi di mobil dalam perjalanan. Saya tertarik untuk membeli.

Ceret yang saya punya masih model yang kecil dan murah. Saya akan mencari model yang baru dan besar.

Pilih Brewers lalu klik Kettles. Hampir seratus model ceret leher angsa beragam merk dan berwarna-warni, masing-masing seperti menonjolkan keindahan bentuknya. Ada yang ceret biasa dan ada ceret yang menyatu dengan kompor listrik dilengkapi pengatur suhu. Three in One. Nah, ini incaran saya.

Perjalanan terakhir, pilih Equipment klik Espresso Machine. Di situ tersedia Automatic, Manual/Semi Automatic Machine and Coffee Maker. Saya tak tertarik.

Syphon yang saya incar out of stock ketika saya akan meng-klik beli. Petugas toko tidak tahu kapan datang lagi barangnya. Sementara itu teman saya bilang, sebetulnya proses kerja Syphon sama dengan menyeduh kopi tubruk. Betul juga. Meskipun masih berharap, saya jadi mikir lagi untuk membeli. Bagaimana dengan Chemex? Proses seduh Chemex sama dengan V60 yang seperti biasa saya gunakan. Kenapa mesti beli?

Cafflano dan Espro menarik untuk dimiliki, tapi khawatir tak banyak terpakai karena saya sekarang banyak berada di rumah dan tidak mudik. Sedangkan ceret three in one itu memang praktis, tapi kalau saya beli, ceret, pemanas air listrik, dan termometer yang lama bisa tak terpakai. Mubazir.

Walhasil, saya seperti pulang dari mall dengan tangan hampa. Tak ada yang jadi dibeli.

Singkat cerita, saya pun kembali ke alat seduh semula: french press dan V60. ”Gini aja udah senang sayanya”, meniru kata Aji Yuliarto dari #ngopidikantor. Lagi pula, V60 sudah mampu mengeluarkan kompleksitas rasa, kata Didin Natadisastra, ahli seduh dan Manager MM Café, Bogor.

Itulah, kalau hendak membeli sesuatu saya selalu mempertimbangkan apakah butuh atau tidak. Bukan suka atau tidak. Sifat yang sulit dihilangkan (apalagi kalau duit lagi pas-pasan).

Pada akhirnya, terlalu banyak pertimbangan atau perhitungan seperti itu kita seperti tidak menikmati hidup, kata sebagian orang. Padahal, sekarang begitu banyak jenis alat seduh kopi yang bagus, unik, dan indah untuk dikoleksi. Seyogyanya, kalau memang mampu membeli tak usah mempertimbangkan perlu atau tidak. Beli saja dan nikmati, mengapa tidak?

Carpe diem. Reguklah hari.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *