URUSAN beli alat kopi bisa jadi “pelik” jika sudah berkeluarga. Setidaknya itu yang saya–sebagai lajang–tangkap dari kawan-kawan #ngopidikantor yang sudah berkeluarga. “Harus mengajukan proposal ke is3 dulu,” begitu kata Praga, salah seorang kawan yang wajahnya mirip Rio Dewanto, ketika sedang membahas apakah perlu membeli Bialeti Brikka. (Ini salah satu tulisan Praga)

Kemudian, banyak cara kreatif dari para suami untuk “menyuap” istrinya. Salah satu yang paling ampuh, berdasarkan riset di #ngopidikantor, adalah dengan rajin membuatkan Affogato. Yups, hidangan penutup campuran antara espresso dengan es krim. Tak tanggung-tanggung si kawan membuat affogato dengan es krim Walls Magnum. “Biar lebih mevvah,” kata dia.

Nah, yang menarik kawan ini tidak membuat espresso dengan mesin macam La Marzoco atau Simonelli. Jangankan mesin yang harga satu unitnya sudah bisa buat DP rumah tipe 36 di Cisauk, Tangerang, barang seperti Handpresso atau Rokpresso saja si kawan tidak punya. Dasar kekuatan kepepet demi membeli alat, si kawan menggunakan Aeropress untuk membuat espresso. (Belakangan Praga pemer punya Bialeti).

Tim #ngopidikantor mulai iseng-iseng menggunakan aeropress untuk membuat espresso pada awal Maret lalu. Suatu pagi, salah satu editor situs ini, Anton Septian, datang dan pamer hasil kuliah dia di Universitas YouTube: Cara Membuat Espresso dengan Aeropress. Hasilnya: krema dari espresso juga muncul. Rasanya pun boleh dibilang cukup.

Nah untuk tahu bagaimana caranya bisa lihat di video ini. Kalau sudah nonton bisa lanjut ke alinea di bawah. Sebab, saya tidak akan bicara langkah-langkah yang sudah jelas di YouTube itu. Tapi saya akan bicara beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin membuat espresso dengan Aeropress atau kami sebut sebagai Aeropresso.

1. Gelas Penadah Kuat
Jangan berpikir untuk menekan Aeropresso di server semacam Yami atau Hario. Kacanya yang tipis bisa pecah. Sebab, untuk menghasilkan espresso dari Aeropress dibutuhkan daya tekan yang luar biasa besar. Entah berapa bar karena enggak pernah hitung. Tapi sebagai gambaran Handpresso saja memiliki tekanan sampai 16 bar. So #ngopidikantor menyarankan pembaca menggunakan gelas selai (jar glass) yang lebih tebal dan kuat.

2. Punya Tenaga Besar
Berat badan saya 90 kilogram (sekarang turun jadi 85 kilogram #penting) ketika mencoba Aeropresso pertamakali. Dengan berat seperti itu saja kadang si plugger Aeropress tidak mau turun. Malahan dia mendorong balik ke atas karena tekanan panas dan bubuk kopi yang rapat. So kalau berat badan pembaca di bawah saya dan tidak pernah olahraga, saya sarankan cari kawan yang mau membantu. (NB: Jangan percaya video YouTube yang keliatannya gampang banget pas di tekan. Berat bos).

3. Jangan Layani Permintaan Masal
#ngopidikantor menggunakan 15 gram kopi giling halus. Menggunakan rasio 1:2, hasil akhir espresso tidak lebih dari 30 gram. Saya saja berpeluh ria ketika pertamakali menekan Aeropresso. Bayangkan jika ada banyak orang yang minta dibuatkan Espresso dengan modal Aeropress. Saya berani jamin kita bakal gempor kebanyakan menekan. Tangan rasanya cenut-cenut. Syukur ada yang mau bantu gantian menekan. Kalau tidak? gempor tangan.

4. Punya Gebetan, Pacar, atau Istri
Ini syarat paling penting, kalian tidak perlu berepot-repot dengan trik ini jika masih melajang atau jomblo. Siapa yang mau kalian pamerin? Kalau masih jomblo dan ingin Affogato, datang saja ke kafe, siapa tahu dapat gebetan.

Tips dari Mas Aji, founder #ngopidikantor: Selipkan potongan dadu cupscake (saya berimprovisasi dengan Oreo dan cheese cake) di bawah es krim agar si dia semakin jatuh hati.

***

“Repot ya,” begitu batin Pemred #ngopidikantor, Yos Rizal, suatu siang saat kami berkunjung ke rumahnya. Sambil mesem-mesem melihat rekan-rekannya membuat Aeropresso, Mas Yos mengeluarkan Rokpresso. “Coba pakai ini saja,” kata dia. Seketika itu juga derajat Aeropresso langsung anjlok.

Tapi tidak bagi saya, Aeropresso tetap punya kenangan dan cerita sendiri dalam sebuah perjalanan. Yups, siapa juga mau repot-repot bawa Rokpresso ketika traveling dengan si dia.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *