Sudah menjadi rumus: yang didapat dengan instan akan cepat pergi. -anonim-

Di dalam sebuah kamar hotel melati, Naomi (Marrisa Anita) menyodorkan secangkir kopi kepada Gia (Adinia Wirasti). “Mmm mm mm manis manis,” kata Gia sembari mengerutkan keningnya dan menyerahkan gelas yang baru ia sesap sedikit kepada Naomi. “Kopi di sini semua digulain,” kata Naomi sembari tertawa.

Naomi meneruskan, “Aku pernah pesen kopi enggak pakai gula, udah gitu bapaknya ngeliatin, dipikir aku dukun.” Mendengar cerita ini Gia tertawa. Ia pun bertanya. “Yang paling kamu kangenin dari New York apa? Naomi menjawab, “Rokok di balkon apartemen sambil minum kopi.” Gia menimpali, “Such a good coffe.” Keduanya tertawa.

Dua paragraf itu merupakan penggalan film “Selamat Pagi, Malam” yang disutradarai Lucky Kuswandi. Saya tidak ingin berbicara soal film yang tayang pada Juli 2014 ini. Saya lebih tergelitik di 90 detik adegan–dari durasi 90 menit–antara Naomi dan Gia yang berbicara soal kopi manis di kamar Lone Stars Hotel itu.

Naomi dan Gia merupakan “kawan akrab” (kenapa saya kasih petik, karena ada maksud khusus yang harus pembaca tonton sendiri filmya) jebolan sekolah seni di New York. Naomi lebih dulu balik Indonesia, belakangan Gia menyusul. Perubahan gaya Naomi setelah pulang ke Indonesia ini yang sering membuat Gia berkerut. Salah satunya soal kopi.

Pada awal Februari 2015, Huffington Post menurunkan artikel ringan soal gaya orang Abang Sama (ingat bukan Paman Sam karena pelafalan Uncle dalam Uncle Sam adalah “Angkle” sehingga konsiten dengan AS–Amerika Serika–bukan PS–Paman Serikat). Salah satu bagian artikel menyebut: 52 persen orang Amerika tidak menambahkan gula saat minum kopi, 14 persen menggunakan Splenda, 7 persen memakai gula putih, 4 persen stevia, dan 3 persen sisanya sirup perisa.

So jika ditotal, 52 persen tidak memakai gula atau pemanis sedangkan sisanya pakai. Di Indonesia, saya belum menemukan riset semacam ini, tapi setidaknya saya yakin angkanya bisa lebih banyak yang menggunakan pemanis (baik gula pasir putih-gula rendah kalori-atau susu manis). Wajar jika Gia yang baru tiba dari Amerika sampai berkerut-kerut saking manisnya.

Setidaknya tiap tim #ngopidikantor menyeduh di mana pun, delapan dari sepuluh orang akan bertanya, “Ada gula enggak?”. Tentu kami menjawab: tidak ada dan menjelaskan soal hebatnya kopi spesialiti.

Salah? Mengutip kata-kata Raja Julian (karakter lemur menyebalkan dalam film Penguin of Madagascar), “Ini bukan saatnya main salah-salahan.” “Soal selera,” kata salah satu kawan mencoba berdamai. Nah, kalau mau main salah-salahan, jelas pelakunya adalah: industri kopi sasetan.

Kenapa? Sebab mereka menjual bubuk berperisa kopi tapi dicap sebagai kopi asli. Dengan modalnya yang besar, mereka terus mengkampanyekan bahwa kopi instan adalah sebenar-benarnya kopi. Lihat saja jargon-jargon mereka. Ada yang bilang 100 persen kopi asli, atau biji pilihan terbaik. (Terbaik dari terburuk iya, seorang kawan petani bilang kadang ada industri besar yang mengambil sisa-sisa kopi panen yang jelek).

Saya berani bilang itu kopi perisa dan tipu-tipu karena dari segi harga saja sudah tidak masuk akal. Satu saset kopi dijual seharga Rp 1.500,-, Padahal biji kopi arabika kemasan 250 gram saja harganya antara Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu (ini yang standard). Yang mevvah bisa sampai Rp 200 ribu per 100 gram.

Belum kalau kita menilik komposisinya. Mayoritas industri tidak jujur. Hanya menulis Kopi bubuk 25 persen, lah sisanya apa? Kalau kita googling, lebih banyak bahayanya ketimbang manfaat kopi saset. (Saya sudah meninggalkan jenis kopi ini sejak SMA, selalu mual setiap minum kopi saset). Sisi positifnya berbagi rezeki kepada pedagang kopi keliling. (Tapi saya enggak mau berdebat soal ini, tar kayak larangan tembakau dan petaninya).

Lagian sesuatu yang instan pasti tidak akan meninggalkan kesan (Kecuali mi instan). Makanya ada pepatah Tuhan melihat proses. Pun makanya, kawan saya ditolak gara-gara PeDeKaTe yang terlalu cepet, dah main nembak.

Di sisi lain, dengan memposisikan kopi saset sebagai kopi yang asli, maka kita sudah mengecilkan peran petani kopi yang serius. Bayangkan jika kemudian kopi identik dengan saset. Bagaimana kerja keras petani kopi yang serius. Ya serius dalam hal menanam sampai proses penjemuran alias pasca panen. Mereka ingin menghasilkan kopi terbaik dengan aneka notes.

Kopi-kopi terbaik ini, bukan kopi saset, yang akan diadu dengan kopi luar negeri. Dan kabar baiknya: kopi serius alias spesialti asli Indonesia sudah mulai banyak peminatnya di luar negeri.

Saya khawatir budaya ngopi di Indonesia, mempersepsikan kopi sebagai saset. Tengok pas lebaran, tak sedikit tetangga yang menyediakan stok kopi saset.

Pada akhirnya saya masih menerima kawan-kawan yang mencampur kopi spesialti dengan pemanis (walopun rasanya enggak enak, baru Lebaran kemarin saya mencoba sisa om yang mencampur Arabika Natural dengan gula). Setidaknya mereka mulai menerima kopi spesialti dan meninggalkan saset.

So bongkar kebiasaan lama. Dengan benar-benar membongkar kebiasaan ngopi saset menjadi kopi spesialti giling sendiri.

 

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *