Hampir 30 menit lamanya saya bertinggung di hadapan kloset pada Jumat dini hari, 30 Juni 2017 lalu. Selama itu, lebih dari sepuluh kali saya jackpot alias muntah. Ironis, malam itu saya wasted di toilet ketika sudah hampir setahun tak menyeruput alkohol.

Kalau harus mencari kambing hitam penyebab mabuk kemarin, saya akan menuding dua orang pemilik kafe yang saya kunjungi malam itu, Sandi dan Aat. Beberapa jam sebelum saya tepar di toilet, mereka berdua terus-terusan menyeduh dan menyorongkan bergelas-gelas kopi ke hadapan saya. Tentu saja saya tak kuasa menolak, apalagi kopinya enak. Rupanya hal ini malah membuat saya overdosis kafein.

Mencekoki kopi seakan jadi kebiasaan Sandi dan Aat setiap kali saya datang ke kafe mereka, 7Sleepers Coffee di Jalan Tebet Dalam X, Jakarta Selatan. Padahal saban berkunjung, permintaan saya dibuatkan satu-dua gelas kopi saja. Tapi kemudian saya ingat, saat berkunjung ke 7Sleepers kemarin, perut sedang kosong. Dan nongkrong di 7Sleepers ketika lambung belum terisi adalah kesalahan besar, soalnya di sana belum tersedia makanan. Meskipun, di menu kafe tercantum beberapa pilihan snack seperti croissant, roti daging, bitter ballen, dan sushi.

Sandi (kiri) dan Aat, pemilik 7Sleepers Coffee

“Belum ada nih, tempatnya masih terbatas,” kata Sandi kalau saya menanyakan menu makanan. Pernah sekali waktu, di 7Sleepers saya mencicipi roti goreng isi tuna yang rasanya cukup nendang dan bikin kenyang. Sayang, menu ini tidak tersedia setiap saat. “Masih fokus di kopi dulu.”

Meski belum konsisten dengan menu makanan, kafe 7Sleepers yang buka sejak 7 Mei 2017 sudah punya koleksi kopi dan opsi penyeduhan lumayan lengkap. Di bagian single origin, mereka menyediakan metode seduh pour over, vietnam drip, cold drip (ditulis cold brew), tubruk, dan french press. Harganya mulai Rp 15 – 25 ribu. Sedangkan untuk minuman espresso based, tersedia cappuccino, latte, macchiato, mochaccino, dan affogato. Harganya rata-rata Rp 25 ribu pergelas.

Biji kopi andalan mereka adalah Java Preanger, Minang Solok, atau Bourbon Gayo yang digoreng di Kopi Katalis, Mampang, Jakarta Selatan. Kalau stok sedang banyak, 7Sleepers menjual beans-beans itu dalam kemasan 250 gram. Saat beruntung, ada koleksi beans mancanegara di 7Sleepers, seperti dari Ethiopia atau Kolombia yang bisa dicicipi.

“Kami tidak eksklusif pada biji kopi lokal, karena kopi luar juga enak-enak. Kami ingin orang lain ikut menikmati, dengan harga terjangkau,” kata Aat. Selain menonjolkan harga minuman yang murah, Aat dan Sandi ingin pengunjung kafenya merasa betah seperti di rumah sendiri. Untuk menerjemahkan konsep “rumahan” itu, mereka kerap menyeduhkan kopi kepada tamu, padahal tidak diminta. Cara ini efektif membuat pengunjung (seperti saya) kerasan.

Cupping di 7Sleepers Coffee

Hal lain yang membuat kafe ini enak ditongkrongi adalah keberadaan turn table plus sejumlah keping piringan hitam. Koleksinya mulai dari Barry Manilow, Morrissey, sampai Arctic Monkeys. Jika pemutar piringan hitam tidak dinyalakan, Sandi akan memasang lagu dari ponselnya yang disambungkan ke pelantang suara. Pilihan lagunya selalu oke untuk membangun mood santai. “Kalau mau pilih lagu sendiri juga boleh.”

Di kafe ini tersedia jaringan internet melalui WiFi, sehingga layak dijadikan tempat bekerja. Tapi saya lebih memilih mengobrol dengan Sandi dan Aat kalau sedang main ke 7Sleepers. Terlebih Aat senang bercerita soal kisah hidupnya yang penuh warna. Pria 38 tahun ini pernah menjadi anak punk, sampai akhirnya kini mempelajari tasawuf sekaligus praktisi tarian sufi (tarian Dervish).

Saya membayangkan, mungkin kisah hidup Aat itu lah yang membuat Sandi sering nongkrong di kedai kopi milik Aat di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada tahun lalu. Ya, sebelum membuka 7Sleepers bersama Sandi, Aat punya kedai kopi semipermanen berbentuk gerobak bernama The Shelter. “Kopi ini kan minumannya Nabi, ada nilai filosofis dan religiusnya,” ujar Aat menyebut alasan dia memilih berbisnis kopi.

Karena sering bertemu, Aat lalu mengajak Sandi membuka kedai bersama-sama. Waktu itu The Shelter baru berjalan setengah tahun. Aat ingin punya tempat berjualan kopi permanen. “Capek kalau di gerobak,” kata dia. Gayung bersambut, Sandi yang sudah lama gemar ngopi dan punya mesin espresso di rumahnya, memang bercita-cita punya kafe sendiri.

Setelah mematangkan ide dan menyamakan visi, mereka lalu mulai mencari tempat. “Awalnya mau buka di sekitar Fatmawati atau Cipete, Jakarta Selatan, tapi harga sewa tempat terlalu mahal,” kata Sandi. Kebetulan salah satu teman mereka, Essam, menawarkan paviliun kantornya di Tebet untuk dijadikan kafe. “Jadilah saya, Aat, dan Essam patungan untuk membangun 7Sleepers.” Nama 7Sleepers diambil dari kisah Ashabul Kahfi, atau 7 pemuda Efesus yang mengasingkan diri di gua pada tahun 250 sebelum masehi. “Kami terinspirasi kisah ini,” ujar Sandi.

Suasana 7Sleepers Coffee

Dua bulan berjalan, 7Sleepers belum terlalu ramai dikunjungi konsumen umum. Para regulars 7Sleepers adalah teman-teman Sandi atau Aat sendiri. Di depan kafe pun hanya ada satu papan bertuliskan menu-menu kopi yang disediakan, belum ada plang penanda kafe ini. Kapasitas bangku dan meja di kafe juga belum terlalu banyak. “Pelan-pelan lah,” ujar Sandi.

Sandi berkeinginan 7Sleepers menjadi semacam kuali lebur bagi para konsumennya. Sejauh ini, kalau saya boleh menilai, dia cukup berhasil. Sandi selalu mengenalkan setiap tamunya ke tamunya yang lain. “Karena sifatnya rumahan, gue maunya orang nyaman di sini, bisa cair dan saling akrab.” Para pengunjung yang kebanyakan teman-teman Sandi sendiri akhirnya mengajak teman-temannya yang lain untuk ngopi di sana.

Dengan segala keterbatasannya, 7Sleepers buat saya sudah cukup asik buat nongkrong berlama-lama. Pun, meski sudah dibuat menderita akibat mabuk kopi pada malam Jumat lalu, saya tak kapok kembali ke kafe ini. Setidaknya sekarang saya menyiapkan diri dengan mengisi perut sebelum bertandang ke sana lagi.

*Foto-foto oleh Budhi Santoso

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *