”NGOPI dulu, ah, buntu nih…”, seseorang berkata seraya beranjak dari kursi meja komputernya ke meja tempat kopi bubuk, gula, dan termos air panas yang disediakan kantornya. Tak lama, segelas kopi panas berada di samping komputernya. Ia pun menyeruput sambil berharap lead tulisan akan segera didapat. Ia salah seorang penulis di Majalah Tempo.

Konon, menemukan lead yang bagus itu tidak mudah. Ia harus menemukan kalimat panjang (alinea) di awal tulisan yang mampu memancing dan memikat pembaca agar terus mengikuti cerita sampai selesai. Kira-kira begitu. Semua itu tentu membutuhkan waktu pemikiran yang lama dan stamina yang prima.

Menulis setiap minggu di bawah tekanan deadline memang bukan tugas ringan. Ketukan jari-jemari di papan ketik seakan-akan berpacu dengan detak-detik jarum jam. Adrenalin di dalam tubuh kian meningkat. Ia tahu terlambat menurunkan tulisan akan berakibat berantai mulai dari pracetak, percetakan, sampai sirkulasi. Karena kalau terlambat sampai ke pasar bisa berakibat berkurangnya oplah majalah. Belum lagi kena sanksi dari atasan yang bisa mempengaruhi penilaian prestasinya.

Karena tugas berat itu sebagian besar penulis merasa membutuhkan stimulan, butuh “dopping”. Maka, minum kopi yang disediakan kantor jadi pilihan utama. Gratis pula.

Personel Bagian Kreatif Tempo yang harus menunggu tulisan dari para penulis sampai larut malam, bahkan sering tembus dini hari, mengisi waktunya dengan ngopi. Dan para ilustrator yang sedang mencari inspirasi ide gambar merasa perlu menenggak secangkir kopi. Begitu juga di bagian lain dengan alasan yang lain pula.

Ditambah lagi kewajiban mengikuti rapat perencanaan, rapat checking, dan rapat-rapat lainnya yang mungkin tak menarik (sehingga sering bikin ngantuk) membuka peluang karyawan untuk minum kopi. Rata-rata sekitar dua kilogram kopi bubuk per hari kerja yang dikonsumsi oleh karyawan Tempo.

Entah sejak kapan munculnya anggapan ini: tak bisa menulis tanpa secangkir kopi. Yang pasti sejak tahun 80-an saat saya mulai bekerja di Majalah Tempo. Berlokasi di Proyek Senen, Blok II. Lantai III, Jakarta Pusat, waktu itu peralatan menulis masih berupa mesin tik manual. Sedangkan untuk mengedit, mencoret, atau menambahkan kata menggunakan ballpoint di atas kertas doorslag.

Pada masa itu, selain menulis di bawah tekanan deadline, para penulis juga menulis di bawah tekanan penguasa. Tak boleh menulis ini dan mengeritik itu. Setiap waktu bisa ditelpon (artinya ditegur) oleh Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) bila memuat tulisan yang menurut pemerintah bisa ”mengganggu stabilitas politik”. Merancang kulit muka pun butuh kehati-hatian agar gambarnya tak menyinggung pribadi atau penguasa.

Ancamannya bisa berujung pada pembredelan. Pada 1982 Tempo dibredel karena menulis tentang bentrokan antara pendukung partai Pemilu. Sebulan kemudian diizinkan terbit kembali. Tulisan yang mengeritik pemerintah karena membeli kapal perang bekas dari Jerman Timur pada 1994 membuat penguasa tidak merasa nyaman. Juni 1994 Tempo kembali dibredel.

Saya membayangkan sulitnya para penulis di masa itu untuk membuat tulisan bagus dalam situasi tertekan seperti itu. Sebab, seperti melukis atau menggambar, menulis pun membutuhkan kebebasan dan suasana hati (mood) yang bagus.

Nah, aroma kopi juga dipercaya bisa membangkitkan mood. Beberapa tulisan ilmiah tentang kopi menyatakan bahwa mengkonsumsi kopi dengan kadar kafein antara 100-200 mg (kandungan kafein dalam secangkir kopi sekitar 85 mg) bisa meningkatkan performa seseorang dalam bekerja dan mengubah suasana hati menjadi lebih baik dan tubuh mengalami peningkatan aktifitas yang cukup untuk mengusir kantuk. Kandungan kafein dalam kopi dipercaya membuat tubuh tetap segar bahkan merasa lebih berenergi.

Di bagian Redaksi, terutama, saya lihat sebagian besar mengetik naskah didampingi segelas kopi. Pada tahun 80-90-an kantor belum menyediakan termos air panas. Kopi diseduh berdasarkan pesanan oleh office boy dengan air mendidih langsung dari ceret di dapur.

Dan biasanya, ngopi diselingi merokok untuk yang biasa merokok. Kita tahu, pasangan serasi kopi adalah rokok. Kombinasi ini dipercaya sangat ideal. Minum kopi memacu denyut jantung sedangkan merokok dianggap bisa memperlambat. Klop.

Ketika berkantor di Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, anggota staf Redaksi yang tak bisa meninggalkan kebiasaan merokok dikonsinyir di suatu ruangan yang di langit-langitnya dipasangi alat pengisap udara (exhauster). Kami menyebutnya ruang akuarium.

Kini, kebiasaan ngopi di kantor berbeda. Bila bosan dengan minuman yang dianggapnya itu-itu lagi, para pekerja kantoran, terutama kalangan anak mudanya bisa mencari alternatif minuman kopi di luar. Tak sulit menemukan kafe-kafe yang menyediakan caffe latte, cappuccino, americano untuk dibawa ke kantor atau memesan lewat online untuk sekadar menemani bekerja. Dan yang suka pamer biasanya berswafoto dengan minumannya untuk diunggah di media sosial.

Sedangkan bandrek, wedang jahe sebagai alternatif minuman sehat saya lihat kurang mendapat tempat sebagai pendukung bekerja. Mungkin khawatir dibilang ndeso?

Kehadiran komunitas #ngopidikantor di Tempo sudah berperan dengan harapan dapat mengubah kebiasaan ngopi di kantor dengan terus-menerus mengenalkan biji kopi spesialti jenis Arabika hasil produk dalam negeri dalam berbagai rasa. Lalu menyajikannya dengan berbagai alat seduh dan diminum tanpa gula.

Seperti menyeduh kopi, apapun alat untuk menyeduhnya, yang diharapkan adalah hasil akhirnya: rasa yang prima. Begitu pula dalam hal menulis, tak menjadi soal apakah menulisnya menggunakan mesin tik manual atau komputer, dan perlu didampingi secangkir kopi atau tidak, yang diharapkan pembaca adalah hasil akhirnya: tulisan yang prima.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *