Lagu jelek akan menyempurnakan bencana kopi yang tidak enak.

Selain mengkurasi kopi bermutu, kedai kopi spesialti juga akan menjaga penampilan interior dan eksterior. Mas Praga, editor ngopidikantor.com pernah menceritakan pengalamannya ngopi enak di kedai yang sumuk. Walau akhirnya menikmati, pasti ayah satu anak itu tidak dapat meresapi sesapan kopinya secara maksimal.

Begitu juga musik, para pemilik kedai akan secermat mungkin memilih playlist yang diputar. Saya membayangkan tidak akan ada musik metal di 1/15 atau lagu dangdut di Sensory Lab. Semua lagu akan disusun berdasar cocok-tidak cocok dengan suasana dan positioning kedai.

Ananda Badudu dari Banda Neira pernah diundang bernyanyi saat #ngopidkantor menyeduh di kantor Tempo. Melodi tenang yang mengiringi lirik puitis sungguh melengkapi nikmatnya Blue Batak waktu itu.

Selain itu Kendra Paramita, ilustrator sampul majalah Tempo dan Eidelweis, barista juga punggawa Qlue juga sempat berduet membuat sahdu suasana #ngopidikantor beberapa waktu lalu. Mungkin karena kopi yang diseduh, bahkan petikan gitar Mas Kendra dipercaya lebih bernuansa Payung Teduh dibandingkan petikan gitar Is.

Terakhir suara gitar bernuansa latin Idrus Shahab, Redaktur Pelaksana Tempo juga pernah membius para pendengar yang kala itu sedang menyesap single origin #ngopidikantor.

Musik enak dan Kopi nikmat, cocok!

Lalu apakah musik yang enak akan mendongkrak kopi yang tidak enak? Juga sebaiknya, apakah kopi yang enak akan membuat musik jadi lebih enak didengar? Yang pasti salah satunya akan membunuh yang lain. Itu jika melihat negatifnya.

Awalnya tulisan ini akan merekomendasikan pasangan ideal dan tidak ideal. Tujuannya positif, kebalikan dari yang tadi: salah satunya bisa mendongkrak yang lain.

Memahami kedua premis itu saja agak membingungkan apalagi memadu-madankannya, akhirnya saya putuskan untuk memadukan duet bencana musik dan kopi. Kayaknya akan lebih mudah. Pasangan-pasangan di bawah ini saya yakini bakal sukses merusak hari-hari saya:

 

Ku Yakin Sampai di Sana (SBY) x Aroma (Bandung)

Saya pernah kuliah sebentar di Jurusan Filmologi, sebuah bagian dari Jurusan Sinema, Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Di sana kami, eh saya (sebagai mahasiswa satu-satunya) mempelajari sejarah dan kritik film. Dosen saya pernah menyitir Pramoedya Ananta Toer:¬†“Seorang terpelajar harus sudah berbuat¬†adil sejak dalam pikiran…” Haram hukumnya dan tidak masuk akal menilai sebuah film sebelum menontonnya.

Walau tidak suka Susilo Bambang Yudhoyono (akan berpanjang-panjang jika alasannya ditulis di sini) saya tidak bisa serta merta menilai lagu ciptaannya buruk sebelum mendengarkannya. Dan ya, saya pernah mendengar lagu yang dibawakan Rio Febrian ini.

Seperti Kopi Aroma, lagu ini dibuka dengan PHP.

Kopi yang harum namanya (bukan aromanya) ini banyak direkomendasikan orang. Teringat pesan dosen saya, puluhan kali saya mencicip kopi ini sebelum berkesimpulan dan yakin bahwa kopi ini betul-betul tidak enak.

Menurut saya rekomendator kopi ini tidak paham benar kopi atau memang seleranya sudah mentok. Kopi Aroma itu tidak enak paling tidak karena faktor ini: robusta atau disangrai gosong. Sisanya adalah gimmick. Cuma susu kental manis yang bisa menyelamatkannya.

Seorang teman yang mendapat resep dokter untuk minum kopi asli tanpa gula awalnya hanya tau Kopi Aroma. Sehari dia minum tiga cangkir kopi itu sampai akhirnya suka. Lalu dia kenal kopi spesialti arabika, sejak itu dia tidak mau menyentuh kopi Aroma. Sekarang dia sudah sembuh dari penyakitnya dan menjadi manajer sebuah kafe di Bogor.

Saya mendengarkan Ku Yakin Sampai di Sana setelah menyingkirkan segala ketidaksukaan saya pada SBY. Mendengarkan dengan harapan tinggi, seperti saat akan menilai Kopi Aroma. Bagaimana tidak, lagu ini dinyanyikan oleh Rio Febrian, lalu intronya mengingatkan pada lagu berkelas macam Dirimu (Gank Pegangsaan). Saya yakin pemusik dan orkestranya juga yang terbaik, jangan main-main ini lagu karangan presiden.

Tapi lama-kelamaan menurut saya lagu ini seperti kehilangan tenaga dan kehilangan arah. Banyak lagu slow yang tetap bertenaga seperti lagu-lagunya Frank Sinatra juga Leonard Cohen, bahkan lagu keroncong. Sebagai lagu penyemangat, irama dan liriknya cenderung cengeng.

Bisa membayangkan menyeruput Kopi Aroma, apapun variannya sambil mendengar lagu Ku Yakin Sampai di Sana? Pahit, sepahit semangat lagu SBY.

 

Mars Perindo x Kopi Oleh-oleh

Tidak perlu muluk-muluk membandingkan Mars Perindo dengan L’Internationale. Jauh!

Ada dua kemungkinan jika kita dicekoki sebuah lagu secara terus menerus: makin suka atau muak. Mars Perindo termasuk kategori yang kedua. Bayangkan, saya yang jarang menonton TV saja hapal dan terganggu dengan lagu mars Partai Persatuan Indonesia milik Pak H. Ary Tanoe ini.

Lalu di mana dosa kopi oleh-oleh? Yang saya maksud bukan kopi hibah dari orang-orang yang paham kopi, tapi oleh-oleh dari teman atau kerabat yang hanya tau kita suka kopi. Mereka kerap mengoleh-olehi kopi dari berbagai tempat tugas atau plesir.

Kopi oleh-oleh ini biasanya dijual di tempat wisata, stasiun, terminal, atau bandara. Teman atau kerabat baik hati yang hanya tau kita suka kopi tanpa pikir panjang akan membelinya, apalagi di kemasan tertera kopi tersebut khas dari tempat itu. Ciri-cirinya kemasan kopi sangat mewah walau kadang seleranya tidak bagus dan kopi sudah digiling halus.

Saya dan #ngopidikantor sering mendapat kopi semacam ini, karena tidak minum-able kebanyakan kopi ini berakhir sebagai pengharum ruang atau dihibahkan kembali ke teman yang biasa mengkonsumsi kopi dengan tambahan gula.

Sayangnya seringkali kopi oleh-oleh ini tidak dilengkapi informasi yang memadai tentang produsennya, jadi kita kesulitan untuk bertanya varietas, proses pasca panen, profil roasting, dan notes-nya. Kita juga akan kesulitan komplain jika kopi yang diberikan berlabel arabika tapi aroma dan rasanya robusta.

Soal protes itu pernah saya lakukan melalui akun Twitter yang untungnya saat itu tertera di kemasan sebuah kopi oleh-oleh. Seorang kolega membawa oleh-oleh sekantung kopi dalam kemasan unik (berbentuk anyaman bambu) sepulang dari tugasnya di sebuah daerah di Indonesia Timur. Pada kemasan kopi tersebut tertera bahwa jenis kopi yang sudah digiling halus itu adalah arabika.

Setelah diseduh saya yakin aroma dan rasanya adalah robusta, lalu saya tanya melalui akun twitter produsen kopi tersebut. Satu-dua mention Twitter saya tidak digubris. Twitter ketiga saya cc ke akun Twitter Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (@YLKI_ID). Seperti kebakaran jenggot, produsen kopi meminta maaf dan berjanji mengganti kopi yang sesuai dengan label pada kemasan.

Kopi oleh-oleh rawan dengan penipuan, mereka menjual kopi berkualitas rendah dengan harga yang sangat tinggi. Seperti janji muluk partai politik yang dikemas rapi dalam sebuah mars berselera rendah.

 

Semua Lagu Bon Jovi x Kopi Robusta

Saya tidak suka aja keduanya. Kecuali mungkin fine robusta dan Patience, eh itu Guns n’ Roses ding.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *