DUA Geisha menyambut kedatangan saya di Marina Bay Cruise Centre, Singapura, Ahad lalu. Saya menerima tawaran mereka. Yang pertama mengecap saya dengan hentakan rasa yang memenuhi mulut. Yang kedua; tidak kalah kuat. Meski agak tipis tapi menyisakan kenangan sesudahnya.

“Mas Lendra, ini grup kopi,” tiba-tiba teringat Mas Ajibon menegur saya. “Bukan stensil.” Oya ding, Pembuka tulisan ini kalau diteruskan bisa diberi label; Enny Arrow. Mumpung lagi rame dibahas gara-gara diskusinya di Semarang dilarang polisi. Dan saya bisa memilih judul “Desah Cinta Di Kapal Pesiar” atau “Gumul Ombak Marina Bay”. Tapi ini bukan soal geisha dari Jepang. Karena ini blog kopi maka yang saya maksud adalah varietas Arabika Geisha–ada yang menyebutnya Gesha.

Sore itu, Marina Bay Cruise Centre menjadi tuan rumah bagi Festival Kopi Singapura 2017. Acara ini sudah dibuka sejak Jumat, dua hari sebelumnya. Kawan-kawan #ngopidikantor meminta saya berangkat. Mereka patungan guys, manis sekali kawan-kawan ini. Gantinya saya harus menulis. Ini kayak nyuci sendiri. Dan bagi temen-temen yang suka nyuci sendiri, tahu kan bagian termalas: NYETRIKA.

Festival itu dibagi dua sesi: pagi dan sore. Kawan-kawan membelikan saya sesi sore pukul 4.30 PM sampai 10 PM. Tapi karena sejak kecil saya selalu masuk sekolah paling awal, maka saya sudah di Marina Bay Cruise Centre sejam sebelum pintu dibuka. Dan panitia ini bener-bener on time, jam 4.30 teng baru mereka buka.

Ratusan pengunjung yang sudah mengantri pun menyeruak masuk. Tidak berebut kayak di stadion-stadion Indonesia. Tertib. Sebab, isi tas juga diperiksa. Di ujung pintu masuk lantai satu, pengunjung berhadap dengan enam stan kafe kopi. Oya detail petanya buka sini saja.

Nah, dua di antara enam itulah yang menyodorkan gesha. Yaitu InCafe–huruf “E”-nya ada jambulnya kayak pepet dalam aksara hanacaraka–dan Common Man Coffe Roaster Academy. Incafe, kedai kopi asal New Zeland, menyajikan Geisha andalan mereka dengan French Press. Makanya tebal dan penuh dimulut. Sedangkan Common Man menggunakan pour over.

Sambutan yang menarik. Ini baru festival. Ya meski untuk icip-icip harus bayar. Tapi saya dapat gratis dan ini dibahas ditulisan lain.

Di lantai 1, ada sekitar 70 kedai kopi dan makanan yang ikut. Tentu makanan hanya pemanis, kira-kira enam booth saja. Termasuk stan Jepang yang membawa teh dan sake ^^. Sedangkan di lantai 2 ada delapan stan. Saya keasyikan berbincang dengan mbak-mbak manis sehingga tidak ingat kalau di lantai 2 ada pameran juga.

Edan ini festival. Mereka tidak jualan alat. Juga bukan disi dinas-dinas perkebunan. Para kafe ini benar-benar bersaing “menjual” biji andalan mereka. InCafe misalnya membangkan geisha yang ditanam organik. “Rasanya beda, harganya juga beda,” kata si penjaga stan. Soal harga nanti ditulisan lain.

Common Man membawa lima mesin seduh otomatis. Marco, mereknya. Mas-mas penjaga stan mengatakan mereka sengaja membawa alat untuk memudahkan presentasi. Para penjaga Common Man memang mempersilahkan pengunjung icip-icip tiga kopi andalan mereka hari itu dari Ethiopia dan Panama (dua gesha dan satu catuai). Sembari icip-icip, penjaga stan menjelaskan notes, proses pasca panen, sampai asal-usul biji.

Makanya, mereka membawa mesin seduh otomatis. Alasannya, “Agar lebih mudah saat menjelaskan.” Di kafe, mereka menggunakan seduh manual. 

Compound Cafe Co bahkan membuka sesi cuping untuk pengunjung. Sepuluh gelas kopi beraneka ragam dari Papua Nugini, Ethiopia, sampai Tanzania, ditubruk untuk cuping. Mereka menjelaskan soal jejak rasa pada kopi dan bagaimana menyesap rasa kopi tersebut. Tapi tidak seperti cuping pro yang langsung menyesap dari sendok dan membuang ke gelas. Kali ini si kopi harus disendok dan dituang ke gelas baru disruput. “Nanti orang biasa enggak mau kalau sendoknya dicelup-celup”.

Kalau ingin menghiasi instagram dengan gambar kita sedang late art–meski gagal–,pengunjung bisa merapat ke Hook Cafe. Mereka menyediakan demo menjadi barista komplit. Dari membuat espreso sampai late art. Saya menolak mencoba karena harus melepas stiker gratisan. Panitia memang memberikan dua stiker untuk ditukar dengan kopi di stan tertentu. Dan punya saya masih utuh sampai akhir. 

Ada juga geng Jepang yang membawa alat seduh dari emas. V60 24 karat kata mereka. Rasanya, masih kata mas-mas sales yang wajahnya mirip Shinji Okazaki, penyerang Leicester City, ini lebih enak dari metal.

Saya sebagai orang Indonesia sebenarnya sempat tergelitik dengan satu stan bernama Medano. Si mas-mas penjaga bilang mereka mengambil biji dari Indonesia. Khususnya sekitar Sumatera Utara. Tapi sayang, kalau mau coba harus bayar. Ingat urusan bayar jadi sensitif karena saya datang sebagai bagpacker. Ku kira dengan menjual nama dari Indonesia bakal dapat gratisan.

Jepang membetot perhatian rerata pengunjung. Selain mas-mas Shinji Okazaki yang menjual v60 24 karat. Negeri ini juga mendatangkan Good Coffee: “Roasted in Japan”. Bagaimana ya menyebutnya: mereka ini semacam kurator yang telah mengkurasi biji-biji terbaik dari rumah sangrai di Jepang.

Selama pameran ada lima rumah sangrai dibawa oleh “roasted in japan”: Hoshikawa Kafe, Trunk, Glitch, And Coffe Roaster–yang lambangnya kaya Resimen Scout dalam anime Attack on Titan–dan Passage Coffee. Edan rasanya endes banget. Dan mereka terlihat kompak tidak berhenti-berhenti menyeduh.

Saya lihat di Instagram beberapa penikmat kopi Singapura. “Roasted in Japan” juga mendatangkan Shuichi Sasaki dari Passage Coffee. Dia ini pemenang Aeropress Championship 2014.

Pecah habis ini acaranya. Dan saya menutup gelaran hari itu dengan secangkir Hunkute seduhan Ibu Yuko dari “Roasted in Japan. Yang diberikan gratis, karena kasihan kepada saya. Tapi, gara-gara menenggak puluhan gelas kopi di Festival itu saya jadi susah tidur. Sial. Tapi saya terpuaskan dan terngiang Geisha yang mahal itu.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *