Kecuali memang tak menyukainya, bersepeda sesungguhnya bukan kegiatan yang ribet. Bagaimana memulainya saja yang mungkin jadi perkara rumpil–biasalah, sama dengan kegiatan lain yang bertujuan menggerakkan badan, ia bakal terasa intimidatif bagi siapa pun yang sudah terbiasa dengan kemudahan sarana transportasi bermesin, kalaupun bukan bermalas-malasan. Jika hal itu bisa diatasi, selebihnya adalah siasat untuk menyemangati diri, memelihara motivasi secara terus-menerus.

Sangat boleh jadi ada orang yang membutuhkan kegiatan bersepeda, seperti orang perlu kopi untuk menghalau kantuk; saya tahu ada yang tak bisa berhenti melakukannya, seakan-akan bahkan di saat tidur pun mimpinya bersepeda. Tapi kebanyakan orang, yang sudah rutin menjalaninya sekalipun, tak selalu bisa dengan enteng mengeluarkan sepeda, lalu mengayuhnya hingga puluhan kilometer sebelum kembali ke rumah. Mereka membutuhkan alasan yang kuat untuk itu, setiap saat.

Setelah rutin bersepeda dua tahun lebih, untuk menuju ke kantor (dulu), sekadar cari angin atau malah bepergian antarkota, atau ke warung tak jauh dari rumah, saya bisa merasakan ada yang hilang ketika berhenti melakukannya beberapa lama–misalnya di bulan puasa. Pada saat seperti itu keinginan untuk bersepeda bisa muncul hampir tak tertahankan, seperti pengaruh dadah. Meski demikian, sesekali saya juga merasa harus punya dalih atau tujuan tertentu untuk menempuh perjalanan yang mungkin beberapa atau belasan kilometer saja.

Dalam hal itulah dua hal ini berperan penting, setidaknya pada waktu belakangan: teman dan kopi.

Pertama kali ada peran teman dalam kegiatan bersepeda saya adalah ketika seorang kawan dari masa sekolah minta diajak. Terbiasa “mengukur jalan” sendiri, saya merasa senang dengan bayangan akan ada kompanyon bersepeda. Saya juga gembira dengan kenyataan bahwa ada kenalan yang hendak mencoba menggunakan lagi kereta anginnya yang selama ini lebih banyak menganggur atau digunakan tapi ala kadarnya. Dengan senang hati saya balas pesan tertulisnya, “Siap!”

Sejak itu teman jadi salah satu alasan saya menyusuri jalanan di Jakarta dan sekitarnya, juga di tempat yang lebih jauh lagi. Teman jadi pemacu semangat. Sejauh ini telah ada rute-rute yang saya jalani bersama teman; ada sejumlah perjalanan yang saya tempuh semata-mata untuk bertemu dengan sahabat, bersilaturahmi.

Mana yang lebih menyenangkan dari trip-trip itu? Keduanya punya kesan masing-masing dan menerakan jejak emosional, mungkin bahkan spiritualnya–seperti kopi meninggalkan jejak dan kenang rasa di kalangan sufi di Yaman di masa lampau–yang tak bisa saling mengalahkan. Saya setuju dengan kata-kata John Graham, sorang kontributor Bicycle Thailand, bahwa “berapa pun jarak, kecepatan, atau tujuannya, berada di atas sepeda dengan teman-teman seperjalanan yang baik sejauh ini adalah cara paling bagus untuk melalui hari”.

Di antara perjalanan-perjalanan saya dengan atau demi teman itu kopi juga memainkan rolnya. Kopi, dalam hal ini, bisa sekadar ada, sebagai suguhan, apa pun macamnya (maaf buat penganut Gelombang Ketiga garis keras), bisa pula merupakan pusat perhatian dan penyebab utama suatu perjalanan. Seorang teman meyakini kopi dan sepeda bersaudara. Dengan hadirnya kenalan/kawan/sahabat, saya kira perkerabatan itu jadi lebih lengkap, jika bukan sempurna.

Tentu saja, saya masih lebih sering bersepeda sendiri. Agar pengalaman segitiga sepeda-kopi-teman itu tak benar-benar lenyap, saya menyisipkan kunjungan ke kedai kopi, selain sejak awal sengaja hendak blusukan atau sekadar menghirup udara segar. Menyesap kopi seduhan orang lain, mencoba kopi jenis anyar, atau membeli biji untuk mengisi persediaan di rumah merupakan momen yang terasa baru setiap saat. Mungkin tak sepenuhnya menggantikan yang hilang tadi. Tapi selama ada kopi, kata seorang kawan pengopi dan pesepeda, semua bisa cair.

Published by Purwanto Setiadi

...a journalist, music enthusiast and passionate cyclist who has been here and there, but hasn't been everywhere.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *