Meninggalkan kopi tubruk tradisional, yang umumnya bisa didapatkan di sembarang warung, saya beralih ke metode seduh manual dengan menggunakan French press. Secara prinsip, metode ini, ya, tubruk juga. Bedanya ada pada pengepresan bubuk kopi setelah proses ekstraksi dianggap cukup. Pengepresan itu, dilakukan dengan saringan berbahan (umumnya) metal, bertujuan menghalau bubuk kopi ke dasar wadah alat seduh–dan, konon, sekaligus akan menghentikan proses ekstraksinya.

Yang membuat saya malas berurusan dengan kopi tubruk tradisional, mula-mula, adalah serpihan biji kopi yang mengambang di permukaan hasil seduhan. Bisa saja serpihan itu disisihkan dan diangkat dengan sendok, lalu dibuang. Tapi, tentu saja, ini menambah kerepotan sebelum kenikmatan kopi benar-benar bisa disesap. Selain serpihan itu, hal lain adalah gangguan ampasnya. Tak masalah kalau ampas ini tetap mengendap di dasar cangkir, tapi bukan begitu kenyataannya ‘kan.

Bertahun-tahun banyak di antara pengopi harus menghadapi situasi itu. Saya percaya ada yang tak keberatan. Saya sendiri sekubu dengan mereka yang mengumpamakannya dengan situasi ketika jam beker sudah menyalak di pagi hari, padahal rasa kantuk belum benar-benar pergi. Seperti mereka, saya ingin terbebas dari keharusan membuang serpihan biji kopi dengan mengorek-ngorek gigi. Dan saya lalu menemukan French press–alat seduh manual yang terdiri atas wadah berbentuk piala atau silinder (bisa juga semacam gelas beker), saringan bundar yang ukurannya pas dengan diameter wadahnya, dan tangkai penekan.

Di seluruh dunia, French press punya beraneka macam sebutan–caffettiera a stantuffo, cafetière à piston, coffee plunger, press pot, dan lain-lain. Tapi, menurut hikayatnya, semua itu sebetulnya bersumber pada cikal bakal yang sama: sebuah desain yang konon diproduksi di Prancis pada awal abad ke-20, yang lalu, pada 1929, dipatenkan oleh seorang perancang dari Milan bernama Attillio Calimani. Pada 1958, Faliero Bondanini mematenkan versinya yang lebih sempurna dan memproduksinya di Martin SA, sebuah pabrik klarinet, dengan merek Melior. Di kemudian hari, setelah popularitasnya terangkat berkat film The Ipcress File pada 1965, French press makin luas tersebar di Eropa melalui Household Articles Ltd., sebuah perusahaan Inggris, dan Bodum, produsen alat-alat dapur dari Denmark.

Secara ringkas, begini prinsip kerjanya yang sederhana: kopi diseduh dengan mengimbuhkan serbuk dari biji kopi pilihan ke dalam wadah seduh, kemudian menyiramnya dengan air panas. Waktu yang dibutuhkan sampai ekstraksi dianggap cukup biasanya empat sampai lima menit. Setelah itu perangkat pengepresnya dipasang dan tangkainya ditekan perlahan-lahan sampai serbuk kopi tertahan di dasar wadah.

Untuk mendapatkan hasil seduhan yang memanjakan pengopi dengan aroma dan rasa yang sesuai dengan karakter biji kopinya (pastikan jenisnya arabika), beberapa hal dan langkah mesti dilalui. Sebagaimana metode seduh manual lainnya, tak ada satu pun di antara persyaratan-persyaratan itu yang bisa dikompromikan. Derajat gilingan, jumlah serbuk kopi, volume dan suhu air, lama waktu ekstraksi, semuanya harus tepat. Itu pun setelah syarat profil sangrai biji kopinya dipenuhi.

Dibandingkan dengan metode tubruk tradisional, beralih ke French press boleh dibilang ibarat mendengarkan Marillion di album Misplaced Childhood versi deluxe edition, yang merupakan hasil racik ulang di studio (remix) dengan teknologi high-resolution. Segala unsurnya seakan-akan jadi bermunculan memenuhi indera; mulut bagaikan mengecap jejak rasa yang bulat, kental seperti adukan sirup. Bagusnya lagi, jika gilingan biji kopinya tepat, rata tingkat kekesatannya, kopi yang dihasilkan pun relatif bersih dan lembut.

Berdasarkan pengalaman setiap kali singgah di coffee shop, rasa kopi seperti itu tak pernah bisa ditandingi oleh seduhan dengan metode lain. Kecuali menyeduh sendiri di rumah, di kedai-kedai kopi itu saya hampir tak pernah memesan kopi yang diseduh dengan French press. Seduhan-seduhan yang saya peroleh, umumnya sengaja saya minta dibuat dengan metode saring, selalu lebih enteng (tak selalu berarti hambar), meski aneka jejak rasa yang terkandung di dalam jenis kopinya bisa muncul lebih tegas, seperti siang tanpa awan yang menyingkap jelas apa pun di cakrawala yang jauh.

Jadi, pertanyaan “sejuta dolar”-nya adalah ini: Apa yang membuat saya bertahan sehari-hari menggunakan French press? Kenapa, bagi saya, hasil seduhannya… ehem, istimewa–katakanlah begitu?

Pada dasarnya, yang jadi penentu adalah keleluasaan yang bisa didapat dari French press. Mula-mula, tentu saja, hal ini berkaitan dengan filternya, yang memungkinkan apa yang disebut koloid dan lipid lolos dalam jumlah besar. Saringan kertas, yang jauh lebih rapat, cenderung menghadang, persisnya menyerap, partikel-partikel yang berperan membubuhkan rasa ini. Di samping itu, penyeduh memegang kendali penuh atas proses ekstraksi sekaligus masa rendam serbuk kopi–yang bisa digunakan untuk menentukan seberapa “tebal” kopi yang hendak dihasilkan.

Tentu saja, di lidah pengopi yang terbiasa dengan hasil seduhan melalui cara lain, misalnya saring, bukan itu rasa terbaik sebuah seduhan. Penjelasannya mungkin bisa panjang. Sangat boleh jadi juga akan terdengar lebih meyakinkan. Tapi, pada akhirnya, ini bisa diredam jadi masalah selera saja.

Jika dianalogikan dengan kemampuan kuping mendengarkan musik, dalam batas tertentu, hasil seduhan bisa diserupakan dengan kualitas suara yang dihasilkan vinyl/piringan hitam dan compact disc/CD. Di luar sana ada perdebatan abadi tentang mana yang lebih baik di antara keduanya. Yang tak sepenuhnya dipahami, atau minimal kurang dimunculkan, adalah fakta bahwa, berdasarkan kemampuan reproduksi suara, tak ada peluang sama sekali vinyl bisa mengungguli CD. Alasan pembenar bagi pendapat yang bertahan bahwa vinyl lebih superior hanyalah bebunyian yang sebetulnya mengganggu tapi secara subyektif justru dianggap “alami” dan menyamankan telinga, seperti desis dan keresek-keresek.

Saya memilih tetap mendengarkan musik dari CD (kecuali jika di Spotify memang telah tersedia) karena kemampuannya itu–di samping alasan ongkos, tentu saja. Begitulah pula pertimbangan saya untuk tetap menyeduh kopi dengan French press, sebuah alat yang keberadaannya sudah lebih dari seabad.

Published by Purwanto Setiadi

...a journalist, music enthusiast and passionate cyclist who has been here and there, but hasn't been everywhere.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *