[aesop_gallery id=”1009″ revealfx=”off” overlay_revealfx=”off”]

Dari berbagai acara menyambut Hari Kopi Internasional (1 Oktober) yang digelar di seluruh Indonesia, saya memilih untuk mengunjungi Yogyakarta.

Mencicip berbagai kopi nusantara menjadi alasan utama, supaya bisa punya alternatif kopi jagoan baru dan terhindar dari kutukan beberapa single-origin yang membuat saya tidak bisa move-on seperti selama ini.

Alasan lain adalah: Yogyakarta. Siapa yang tidak punya kenangan di kota itu. “Jogja saja sudah sesak oleh kenangan, apalagi kalau punya mantan.” tulis Anton Septian, Redaktur ngopidikantor.com di salah satu artikelnya.

Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar #MalioboroCoffeeNight yang sekaligus untuk memperingati hari jadi Kotanya yang ke-ke 261 (7 Oktober 2017). Mereka meyeduh 10 ribu cangkir gratis semalam suntuk sejak Senin (2 Oktober 2017) jam 22.00 hingga Selasa jam 6 pagi. Sebanyak 40 meja seduh disediakan bagi kedai, roastery, dan berbagai usaha yang bergerak di bidang kopi untuk ikut menyeduh.

Sebetulnya 10 ribu bukan angka yang fantastis. Jika dibagi 40 penyeduh artinya tiap penyeduh hanya menyeduh 250 cangkir. Sebagai perbandingan, rata-rata #ngopidikantor menyeduh 200 cangkir dalam 2 jam.

Saya yakin akan banyak sesi ngobrol antara penyeduh dan pengunjung, karena mereka punya sekitar delapan jam–waktu yang saya habiskan di kereta untuk bisa menghadiri acara itu.

Dengan bekal dua alasan yang sangat kuat itu saya memesan tiket kereta Jakarta-Yogya PP dan hotel. Wisnu, teman sekolah yang kebetulan sedang mengantar istrinya pulang kampung bersedia menemani saya. Dia juga pencinta kopi spesialti, jadi jarak Prambanan-Malioboro dengan enteng dilajunya malam itu.

Menjelang jam 22.00 kami meninggalkan hotel yang letaknya tidak jauh dari Jalan Malioboro. Kami membayangkan sepanjang Jalan Malioboro akan ditutup malam itu khusus untuk menyeduh kopi.

“Di kampung gue di Jakarta orang hajatan aja bisa nutup jalan.” Kata Wisnu, “Apalagi hajat Pemkot kayak gini.”

Sampai di Jalan Malioboro seperti tidak ada apa-apa. Becak, becak motor, andong, sepeda, sepeda motor, mobil, pedagang kaki lima, dan turis berlalu lalang seperti biasa.

Menuju Mal Malioboro baru sayup-sayup terdengar ada keriuhan. Tapi semakin mendekati bagian depan pusat belanja itu, Jalan Malioboro mulai menjadi lautan manusia. Sulit mencari episentrum acara yang kami tuju karena untuk bergerak saja tidak leluasa.

Setelah berdesakan seperti penonton konser musik kelas festival, kami sampai di depan salah satu meja seduh. Seorang barista agak gugup menuang air panas dari ketelnya ke dripper v60. Puluhan tangan berdesakan siap menadah dengan cangkir kertas yang disediakan panitia. Terlihat hanya server berkapasitas 450 mililiter siap menampung hasil seduh di bawahnya., kemungkinan mendapat kopi semakin tipis.

Di belakang para penadah yang sudah siap dengan cangkirnya, ratusan penonton yang juga siap menadah saling berdesakan. Pemandangan serupa terjadi di meja-meja sebelahnya.

Kami putus asa dan memutuskan untuk keluar dari kerumunan, mencari udara segar. Karena sejak tiba di Yogya kami belum kena kopi setetes pun dan kami merasa tidak mungkin mendapat kopi di acara itu kami putuskan untuk mencari kedai kopi terdekat.

Amri salah satu anggota grup Whatsapp Alumnus #ngopidikebun menyarankan untuk ke kedai kopi Mataram yang letaknya tidak jauh dari lokasi acara itu.

 

Kedai Kopi Mataram

Dari kejauahan terlihat logo Illy, kopi blend espresso terkenal dari Italia. Agak kecewa membayangkan kedai itu hanya menjual espresso based.

Tapi begitu masuk kedai yang berada di Jalan Mataram itu, belasan bungkus single-origin dari berbagai daerah menyambut.

Selain potongan rambut poni baristanya, yang juga menarik dari kedai ini adalah cara menjual kopi spesialtinya. Kemasan roasted bean dari berbagai daerah tadi masing-masing berisi 50 gram, harganya berkisar Rp 25-35 ribu per bungkus, tergantung asal, jenis, proses pasca panen, dan varietasnya.

Untuk menyeduh kopi itu, perlu ongkos lima ribu rupiah per gelas 150 mililiter. Jadi jika ingin menyeruput kopi di kedai itu, kita harus merogoh uang untuk membayar bean 50 gram dan ongkos menyeduhnya. Sisa roasted bean bisa dibawa pulang.

Sekilas terdengar mahal, untuk secangkir kopi kita perlu membayar bean seharga Rp 30 ribu (misalnya), ditambah ongkos menyeduh lima ribu rupiah. Jadi secangkir kopi harganya Rp 35 ribu. Tapi jangan lupa, kita masih punya sisa bean yang kita beli.

Coba bandingkan jika kita memesan lima cangkir.

Bean
Rp 30 ribu (misalnya)

Seduh
5 x Rp 5 ribu = Rp 25 ribu

Total
Rp 30 ribu + Rp 25 ribu = Rp 55 ribu

Harga per cangkir
Rp 55 ribu/5 cangir = Rp 11 ribu

Bandingkan dengan kedai lain. Relatif lebih murah.

Malam itu saya memilih Java Malabar (Rp 34 ribu) untuk membandingkan dengan Malabar yang biasa saya sesap.

Wisnu memesan Bean Peaberry dari Ijen (Rp 27 ribu), berdasarkan pengalaman dia lebih menyukai peaberry karena body-nya lebih tebal.

Barista berponi lucu itu menyeduh masing-masing 10 gram kopi yang sudah digiling dengan 150 gram air panas menggunakan dripper v60.

Aroma dan rasa Java Malabar hasil seduhan seusai dengan yang saya tau: manis dengan aroma gula aren. Kemudian saya minta barista mengurangi air menjadi 130 gram pada seduhan kedua, hasilnya Malabar yang lebih enak.

Sedangkan Peaberry Ijen tidak sesuai keinginan, nyaris seperti Robusta.

 

#MalioboroCoffeeNight

Jam 12 malam kedai Mataram tutup, kami kembali ke Malioboro dengan harapan massa sudah berkurang dan bisa leluasa icip-icip kopi, jika beruntung bisa ngobrol dengan para penyeduh dan panitia. Tapi keadaan masih sama seperti saat acara dimulai, bahkan para pengunjung terus berdatangan. Setiap meja seduh disemuti manusia yang rasanya mustahil untuk ditembus.

Putus asa untuk yang kedua, kami putuskan untuk pulang ke hotel dan kembali lagi sekitar jam 2 pagi.

Walaupun kerumunan masih ada, tapi kemungkinan mendapat kopi jelas ada setelah kembali dua jam kemudian.

Akhirnya cangkir pertama #MalioboroCoffeeNight kami dapatkan, kopi tubruk itu sangat watery. Lalu kami menuju lapak berikutnya, para pengerumun lapak ini lebih banyak memotret baristanya yang terihat fotogenik. Jadi dengan leluasa saya bisa menadah kopi hasil seduhannya. Hasil seduhan v60 tersebut tidak ada rasanya, untuk tidak mengulang kata watery.

Sampai saat ini saya tidak ingat kopi dari mana dan apa nama kedua lapak tadi, saya tidak ingin mencari tau lebih jauh karena tidak terlalu bisa dinikmati seduhannya.

Kedai berikutnya menarik, tidak ada kopi di atas meja, mereka memamerkan gelang dan kalung yang terbuat dari roasted bean. Biji arabika, spesialti pula.

“Manfaatnya tidak ada, selain ornamen estetis, mungkin juga sebagai pengharum, itu juga paling lama berumur tiga bulan.” Kata pemilik lapak dengan tidak antusias.

Tapi ketika ditanya hasil penjualan dia menjadi semangat. “Alhamdulillah sebulan bisa seribu item, diekspor ke Hong Kong, Cina, dan Jepang.” Sebuah gelang dibanderol Rp 35 ribu.

Selesai mengobrol dengan produsen gelang unik itu kami ingin mencicip kopi dari lapak lain, waktu baru menunjukkan jam 3.30 tapi terlihat mereka sudah kehabisan bean dan cangkir kertas. Alat-alat seduh sudah diringkesi, menyisakan meja-meja bertaplak putih yang kosong.

Pengunjung yang masih bertahan hanya bisa menikmati musik di dua panggung kecil. Sekitar jam enam pagi panitia membagikan seribu sarapan gratis berupa nasi gudeg dan pecel.

***

Ini sekadar obrolan teman lama saat meninggalkan #MalioboroCoffeeNight menjelang pagi.

“Seharusnya sepanjang jalan Malioboro ditutup. Jadi bisa lebih leluasa dan tertib.” Wisnu menekankan sekali lagi.

Dia mencoba memberi solusi “Kalo perlu setiap lapak dikasih pembatas buat antre. Pengunjung jadinya enggak bisa maksimal menikmati kopi kalo begini.”

Saya mencoba adil “Kata siapa? Mungkin karena kita kurang militan berebutnya.”

“Kata gua barusan. Coba elu liat, ada bule antre enggak dari tadi? Kalo ada juga cuma segelintir.”

Join the Conversation

1 Comment

  1. Ini kali kedua bagi icip2 kopi gratis yg gagal menurutku. Yg pertama pas 17 agustusan di jalan Prawirotaman. Gagalnya adalah, mana bisa kopi dinikmati dg keruyukan begitu ? Lagi jg, baristanya udah tergagap2 duluan diserbu banyak orang. Di malioboro kmrn lebih gila lagi, dr rumah sy memang tidak berniat memburu kopi. Sy ibgin melihat antusiasme orang aja.

    Btw, artikel di atas bikin sy tambah minder aja….

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *