Maafkan pengetahuan geografis saya.

Sejak akrab dengan kopi spesialti, saya menjadi kenal dengan banyak single-origin, salah satunya berasal dari lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Tapi saya sama sekali tidak paham ada di mana kedua gunung tersebut. Bahkan awalnya saya kira berada di Jawa Timur.

Hingga pekan lalu bahkan saya masih abai dengan Temanggung, Kabupaten di kaki sisi Timur kedua gunung tersebut. Temanggung seperti tidak berkepentingan dalam hidup saya. Saat perjalanan darat menuju Semarang, Yogyakarta, atau Solo misalnya, kita tidak akan melalui Temanggung.

Bisa juga itu terjadi karena saya kurang piknik. Bahkan saya belum pernah mampir ke dataran tinggi Dieng. Tempat wisata sejuta umat yang sangat bersentuhan dengan Temanggung.

Sampai akhirnya Temanggung masuk ke dalam peta bumi saya pekan lalu, ketika leaflet Festival Kopi Temanggung mampir ke beberapa grup Whatsapp yang saya ikuti.

Saya penasaran seperti apa kopi dari Temanggung, leaflet itu mengiming-imingi puluhan kopi berkualitas dari Temanggung bisa dicicipi di Festival tersebut.

Setelah sedikit browsing saya baru paham sebagian lereng gunung Sindoro dan Sumbing ternyata berada di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Saya teringat pertama kali mencicip single-origin Sindoro-Sumbing yang dikirim Studio Kopi, Yogyakarta. Itu adalah salah satu kopi yang mengejutkan ketika pertama kali dicicipi. Rasanya sangat kaya, body-nya rendah, acidity-nya lumayan, saya kembali ingat ada note tembakau juga.

Berbekal iming-iming dan informasi awal itu saya putuskan untuk mengunjungi festival kopi tersebut. Festival berlangsung 20-22 Oktober 2017. Empat orang teman penikmat kopi spesialti dari komunitas #KopiMalamMinggu bergabung. Lumayan mengurangi pengeluaran uang bensin, tol, dan akomodasi karena ditanggung bersama. Kami juga bisa gantian menyetir.

 

Temanggung

Setelah keluar dari jalan tol Pejagan-Pemalang di Brebes, kami menyusuri kota-kota pantura ke arah Timur: Tegal, Pemalang, dan Pekalongan. Sebelum sampai Kendal, peta Google mengarahkan kami menuju Selatan melalui jalan kecil, berbelok, menanjak, menurun, sepi, kadang kanan-kirinya hanya dipenuhi pepohonan besar saja melalui Medono, Limpung, Tersono, dan Sukorejo. Lalu kami sampai di Jalan Kabupaten Temanggung yang lebih besar.

Sejak meninggalkan pantura, udara mulai terasa sejuk. Ketika tiba di Kota Temanggung, sore itu suhu udara sekitar 21° Celsius, Suhu malam hari mencapai 16° Celsius. Menurut app altimeter, ketinggian kota ini adalah 800 mdpl. Kota Temanggung sangat bersih, tidak ditemukan sampah di sepanjang jalan kota itu. Jalan-jalan bagus dan tidak ada kemacetan, lalu lintas banyak diatur satu arah. Trotoar juga tersedia sangat memadai. Sekilas kota ini sangat nyaman untuk ditinggali karena sejuk, bersih, dan teratur.

Kami menginap di Hotel Indraloka yang letaknya tepat di seberang Gedung Pemuda Kowangan, Temanggung, lokasi Festival Kopi Temanggung 2017. Hotel dengan interior klasik yang terkesan mewah ini tertata rapi dan bersih.

Bagian terbaik dari hotel ini adalah rate-nya yang relatif murah. Yang lebih mengejutkan adalah harga makanan di restoran Daun Mas yang terdapat di bagian depan hotel, sebagai contoh harga satu porsi Mie Jawa atau Pecel Lengkap dibanderol hanya Rp 15-20 ribu. Relatif murah untuk ukuran restoran hotel, apalagi rasa enaknya dan porsinya besar. Yang menarik pecel di hotel ini menggunakan daun Lembayung, rasanya seperti daun pepaya dengan harum aromatik.

Menurut BPS, Kabupaten Temanggung adalah salah satu penghasil Arabika terbesar di Jawa Tengah. Pada 2017 Luas kebun kopi Arabika di Kabupaten Temanggung mencapai 1.382,82 hektare. Sedangkan luas kebun Robusta di Temanggung mencapai enam kali lipatnya.

Kopi dari wilayah ini masuk dalam Indikasi Geografis Kopi Java Sindoro-Sumbing. Kopi merupakan komoditas kedua di Temanggung setelah tembakau.

 

Festival Kopi Temanggung 2017

Inilah agenda utama kami di Temanggung. Mencari tahu rasa khas kopi daerah ini. Sebanyak 32 stan yang memamerkan kopi di Festival Kopi Temanggung 2017 ini rasanya cukup untuk dijadikan contoh. Festival ini sudah memasuki tahun ketiga.

Stan pertama yang kami kunjungi adalah petani dari Candiroto yang memenangi juara satu versi Robusta pada kontes kopi Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) 2017. Karena akan kesulitan mencicip dan membedakan rasa Robusta akhirnya kami hanya mencicip produk Arabika mereka. Seperti beberapa single-origin dari produsen lain yang kami cicipi setelahnya, body Arabika ini lumayan tinggi dengan acidity medium. Mungkin terpengaruh kata “tembakau” yang selalu digaungkan, saya merasakan note tembakau juga pada setiap stan.

Di beberapa stan juga disediakan tembakau cacah dan kertas untuk melintingnya, gratis. Ada juga yang menjual cerutu dari daun tembakau lokal.

Tidak seperti Festival serupa di Yogyakarta, di Temanggung tidak ada icip-icip gratis, pengunjung membeli kopi yang mereka cicipi, harganya berkisar Rp 8-12 ribu per cup. Mungkin karena tidak gratis, tidak ada kerumunan yang mengepung setiap stan, sehingga kami bebas mengobrol dengan petani atau penyeduh.

Walaupun demikian beberapa stan menolak ketika kami akan membayar, mungkin karena kami banyak bertanya.

Ternyata tren proses pascapanen natural yang kebablasan juga terjadi di Temanggung. Stan yang menjual kopi winey ini cukup laku. Produknya berupa cold brew yang ditambah gula dan manual brew dengan v60 biasa. Mereka juga menjual bean Rp 40 ribu per 100 gram.

Di panggung utama, Sabtu malam (21/10), saat kami berkunjung itu sedang ada diskusi membahas bisnis kopi Temanggung. Terlihat di panggung Tuhar, Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Java Sindoro-Sumbing. MPIG juga membuka stan yang mewakili anggotanya. Menurut Mukidi, salah seorang anggota MPIG Kopi Java Sindoro-Sumbing mereka diminta memperkenalkan produknya di stand tersebut.

Agenda lain kunjungan kami ke Temanggung adalah melihat langsung kebun milik Tuhar dan Mukidi. Rumah Kopi Mukidi tidak ikut buka stan. “Saya sedang ada kesibukan, tapi jika festival diadakan di kota lain pasti saya ikut, karena lebih banyak pengunjung yang bisa diperkenalkan dengan kopi Temanggung.” Ketika ditanya alasan tidak ikut buka stan.

Minggu pagi sebelum mengunjungi kebun, kami kembali ke festival, menyambangi stan-stan yang belum dikunjungi. Di salah satu stan kami bertemu Erwin Gayo, seorang penggiat kopi dari Bandung. Dia seperti mengamini kesimpulan kami akan kopi Temanggung. Body tebal, acidity medium, dan note tembakau.

“Saya merasakan kopi-kopi Temanggung seprti kopi Jawa Barat, hanya minus sweet. Hanya ada satu yang balance antara body dan acidity-nya yaitu stan Tj & DeKa Coffee.” Kata Erwin.

Ketika ditanya kenapa nama Temangung tidak seharum nama Gayo atau penghasil kopi lain, Erwin berasumsi “Karena kapasitas produksinya tidak setinggi Gayo yang mencapai 80%.”

 

Rumah Kopi Mukidi

Monggo, pinarak…” sapaan ini keluar dari penduduk Dusun Jambon, Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu ketika kami baru saja turun dari mobil setelah parkir di lapangan sepak bola desa. Lapangan itu memanfaatkan bidang datar yang menurut pengamatan kami sangat jarang terdapat di Dusun tersebut. Maklum karena letak Dusun berada di kaki Gunung Sindoro dan Sumbing, tepatnya di lereng Sindoro, setengah jam berkendara dari hotel tempat kami menginap di Kota Temanggung.

“Kopi, ya?” Tanya ramah ibu yang sedang menggendong anak itu dari teras rumahnya di seberang lapangan, bahkan sebelum sempat kami bertanya.

Lalu dia menunjukkan arah jalan ke Rumah Kopi Mukidi, rumah yang kami tuju memang sangat terkenal di Dusun itu, dapat dipastikan orang asing yang datang ke Dusun itu adalah tamu Mukidi.

Awal kepopuleran Mukidi antara lain karena mendapat penghargaan Liputan 6 Award 2013 atas dedikasinya berkarya dan menginspirasi dalam kategori lingkungan hidup. Di samping itu sekitar setahun lalu humor-homor dan meme Mukidi yang sebetulnya tidak ada hubungan dengan dirinya menjadi viral, itu semakin meningkatkan kepopulerannya

Mukidi juga pernah mewakili Temanggung menjadi peserta kontes kopi spesialti Indonesia di Amerika Serikat 2015 lalu.

Monggo, pinarak…” Seorang ibu kembali menyapa kami ketika kami tiba di ujung jalan kecil bermakadam yang menuju rumah Mukidi.

Sekitar 50 meter dari ujung jalan itu terlihat rumah berwarna hijau, jika tidak ada mesin pengupas kulit ari biji kopi di depannya tidak ada yang istimewa pada rumah itu dibandingkan rumah lain di sekitarnya.

Kami langsung tau itu rumah yang kami tuju.

Monggo, pinarak…” sapa Mukidi sambil tersenyum dari balik meja seduh, lelaki kurus berkacamata itu mengenakan kaus putih dan ikat kepala. Ruang tamu rumah tersebut sudah diubah menjadi semacam kedai kopi. Empat meja kecil lengkap dengan kursi-kursinya memenuhi ruangan.

Di sudut ada etalase yang memuat beberapa bean yang dijual Mukidi, antara lain Kopi Jawa (kopi ini tidak disortir, jadi akan terdapat beberapa biji kopi yang pecah-pecah di dalam bungkusnya, Rp 10 ribu per 100 gram) dan Kopi Mukidi (spesialti, Rp 25 ribu per 100 gram).

Selain itu kopi juga dapat langsung dinikmati di Rumah Kopi Mukidi, harganya sangat murah jika dibanding kedai kopi di kota besar. Kopi spesialti yang diseduh dengan v60 hanya dibanderol Rp 10 ribu rupiah per cangkir.

Lantai dua sedang dibangun untuk penginapan, pemandangan dari lantai ini sangat indah. Tidak sabar menginap di sini dan terbangun di pagi hari dengan pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing di jendela kamar.

“Petani kopi mandiri adalah petani yang mengelola pertaniannya sendiri. Mulai dari mengolah lahan, penanamam, proses pascapanen, roasting, mempersiapkan kemasan produk hingga pemasarannya.” Mukidi menjelaskan kenapa dia sampai buka kedai kopi di tengah Dusun.

Lalu lelaki 43 tahun ini mengambil selembar kertas dan pulpen, dia menjelaskan kenapa mejadi petani mandiri itu sangat menguntungkan. Angka-angka luas kebun, jumlah batang pohon, hasil panen, dan harga jual dia tuliskan di atas kertas.

Inti kalkulasi itu adalah jika dari seperempat hektare kebun kopi, petani hanya mendapat Rp 120 juta setahun jika dia hanya menjual hasil panen berupa cherry kopi. Angka itu menjadi Rp 150 juta jika petani memproses menjadi green bean sebelum dijual. Lalu petani akan mendapat Rp 300 juta jika yang dijual sudah hasil sangrai. Yang fantastis pendapatan petani akan mencapai Rp 2 miliar jika petani tersebut juga menyeduh kopi sendiri untuk konsumennya.

Dari seperempat hektare kebun kopi, setiap tahun apa yang akan didapat petani sangat tergantung dari hasil akhir produknya.
Cherry kopi – Rp 130 juta
Green bean – Rp 150 jut
Roasted bean – Rp 300 juta
Menjual hasil seduhan Rp 2 miliar

Apa yang disampaikan Mukidi, sebagian bisa langsung dilihat di rumah itu. Di lantai atas yang belum sepenuhnya jadi terlihat cherry dijemur, itu adalah proses pascapanen natural.

Lalu di kamar lain di lantai bawah terlihat alat roasting kopi yang ternyata adalah rancangan Mukidi. Alat roasting sederhana berkapasoitas dua kilogram itu dijual tujuh juta rupiah. Yang membedakannya dengan alat roasting mahal adalah tidak adanya indikator suhu bean, hanya ada indikator suhu ruang pemasakan. Selain itu aliran keluar udara panas juga dibuat manual.

Sambil terus bercerita Mukidi memasukkan green bean ke mesinnya. Setiap sekitar lima menit dia mengeluarkan udara panas dari mesin itu. Saat suhu ruang pemasakan hampir mencapai 200° Celsius terdengar bunyi crack pertama, Mukidi mulai memeriksa warna bean, tidak lama kemudian proses sangrai selesai dengan profil light to medium. Biji kopi yang sudah kecoklatan dituang ke tampah untuk didinginkan.

Mukidi juga berjuang mengembangkan metode olah tanah berbasis konservasi atau pelestarian lingkungan. “Selama ini petani hanya mencangkul lalu tanahnya dibuang. Kebanyakan tidak mengenal terasering sehingga menimbukan erosi. Petani juga sering kali berorientasi pada hasil bukan pada konsep.” Katanya.

Lalu Mukidi bercerita keunikan petani kopi Temanggung, tenyata awalnya mereka adalah petani tembakau, lalu mengisi lahan kosongnya dengan kopi.

“Jika tembakau dipadukan dengan kopi, ada sirkulasi ekonomi yang tak akan pernah mati di tingkat petani. Panen kopi bulan Mei-Juli, sedang tembakau pertengahan Juli baru mulai panen sampai September.” Kata Mukidi

Sambil bercerita dan me-roasting, Mukidi dibantu istrinya Sumi (32) dan dua orang pegawai melayani tamu yang berdatangan. Kebanyakan hanya membeli bean untuk dibawa pulang. Mereka datang dari kota sekitar hingga Yogyakarta, ada juga yang hanya dari desa tetangga.

“Saya menyeduh untuk sendiri di rumah, pake French press.” Kata seorang remaja yang membeli dua bungkus Kopi Jawa bubuk. Dia mengaku berasal dari desa sekitar.

Menjelang Magrib seorang kurir perusahaan ekspedisi mengambil barang yang dipesan melalui Internet, menurut Mukidi setiap sore kurir itu menjemput barang yang dipesan online. Rencana berkunjung selama dua jam berakhir hingga hari sudah gelap, tersihir cerita Mukidi kami terpaksa membatalkan kunjungan ke kebun Tuhar di Lembah Posong.

“Kasihan Pak Tuhar,” kata Mukidi ketika kami cerita rencana kami semula. “Main film opo kuwi… cuma terlihat punggunge thok.” Fim yang dimaksud adalah Filosofi Kopi 2, film yang ikut mempopulerkan kopi Temanggung karena sebagian gambar diambil di kebun milik Tuhar.

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *