MULAI pertengahan September sampai Desember, setiap tahun daun pohon ginkgo dan maple di Jepang berubah warna dari hijau menjadi kuning dan merah seiring suhu yang semakin menurun, lalu berguguran. Masyarakat Jepang dan turis asing pada musim gugur biasanya menikmati perubahan warna ini (momiji) dengan mengunjungi hutan, taman, kuil, dan tempat lainnya.

Temperatur udara musim gugur berkisar 15°C siang dan akan turun jadi sekitar 11°C pada malam hari. Perlu memakai lapisan kaus heat tech di balik jaket agar tak kedinginan. Dan, ada satu lagi penghangat tubuh yang ampuh: ngopi.

Saya nonton suatu acara TV Jepang awal 2017, presenter acaranya menuntun pemirsa ke sebuah kafe kecil di Tokyo. Kenapa kesitu? Alasannya, katanya, ini sebuah kedai kopi yang terkenal bagi turis asing tapi kurang dikenal oleh orang Jepang sendiri. Ia ingin tahu kenapa bisa begitu. Sang presenter lalu mencoba seduhan kopi di situ. ”Oh, memang kopinya spesial,” katanya. Kedai kopi itu bernama Fuglen.

Musim Sakura lalu pertama kali kami mampir ke sana. Sekarang ini yang kedua kali.

Awal November 2017, Tokyo, selepas magrib. Begitu keluar dari Stasiun Harajuku kami berjalan ke arah selatan membelah Taman Yoyogi menembus malam dalam udara dingin musim gugur. Berangin. Daun pohon-pohon di sepanjang jalan mulai berubah warna. Ada yang menguning, ada pula yang menjadi merah. Kami berjalan tak perlu bergegas karena setiap Rabu, Fuglen buka sampai pukul 01.00. Ke sanalah kami menuju.

Malam itu kafe cabang Oslo, Norwegia, itu tak penuh, mungkin karena bukan pas week-end. Kafe di kawasan Tomigaya, sekitar 1,3 kilometer atau hanya 15 menit berjalan kaki dari Stasiun Harajuku, itu tak begitu luas, interiornya sederhana, tapi entah kenapa, buat saya selalu menarik untuk dikunjungi. Berada di jalan kecil dan sepi, sebagian besar pengunjungnya saya lihat kaum muda ”kekinian”. Mereka menikmati kopinya, ada yang sambil buka laptop, ada yang mengobrol tapi dengan suara pelan. Kafe ini juga menjual alat-alat seduh tapi tak banyak.

Malam itu mereka hanya menyediakan kopi dari Afrika. Tak bisa memilih. Padahal tadinya mau pesan El Guayabo, Honduras, atau kopi dari Amerika Selatan lainnya seperti yang saya beli di kafe ini musim semi lalu. Sayang gak dijual lagi. ”It’s finished, ” kata baristanya ketika ditanya apakah masih ada stoknya.

Kopi yang disajikan di Fuglen mereka sangrai sendiri. Fuglen memiliki tempat roasting, namanya Fuglen Coffee Roasters, berada di sebuah rumah kira-kira satu kilometer jaraknya dari kafe.

Saya dan istri memilih tempat duduk di bangku luar di pinggir jalan. Tak banyak orang berlalu-lalang di jalan. Tenang, adem. Tak terasa malam pun semakin larut, semakin dingin. Setelah menghabiskan secangkir kopi Kenya, kami beranjak kembali ke hotel. Besok akan melanjutkan perjalanan ke Nagoya.

Sebelum pulang saya membeli Duromina Cooperative, Agaro, Ethiopia. Variety: 1274 & Ethiopian Heirloom. Kalau baca taste di kemasannya: Flavor of Sparkling, Blood Orange, Hints of Fig and Peach Sweetness, saya berharap dapat rasa yang menarik.

Di Nagoya kami belum tahu kafe mana yang menyajikan specialty coffee, maklum, baru pertama kali ke sana. Ketika mencari bantuan lewat Internet saya menemukan suatu tulisan tentang kopi yang menyebutkan tujuh coffee roasters terkemuka di Jepang: Glitch Coffee Roasters, Fuglen Coffee Roasters, Paul Bassett, Trunk Coffee, Single Origin Roasters, Slow Jet Coffee, dan Mojo Coffee.

Pilihan jatuh pada Trunk Coffee. Kafenya ada di Nagoya. Kafe ini berdasarkan Google Maps hanya beberapa menit berkereta dari Stasiun Nagoya dan berlokasi tak jauh dari Stasiun Takaoka.

Berangkat dari stasiun kereta Nagoya dengan menggunakan jalur kereta bawah tanah Sakuradori Line. Perjalanan kereta menuju Stasiun Takaoka hanya tujuh menit setelah berhenti di empat stasiun. Setelah keluar dari stasiun hanya perlu berjalan kaki satu menit dari Exit 4 stasiun Takaoka. Tak sulit menemukannya. Pada kanopi di depan kafe tertulis jelas Trunk Coffee Bar.

Suasana kafe tidak begitu berbeda dengan Fuglen Tokyo. Ruangannya tidak begitu luas, interiornya sederhana. Kursi-kursinya tak baru bahkan pada beberapa kursi sofa sebagian joknya melesak pertanda sering diduduki. Alunan musik lamat-lamat terdengar di ruangan. Menurut cerita, yang empunya kafe memulai jadi barista ketika berkelana di Kopenhagen, Denmark. ”Di Denmark, barista adalah profesi yang populer”, katanya.

Siang itu, barista yang bertugas tiga orang wanita muda dan seorang pria. Tak seperti di Fuglen Tokyo, kemarin, di sini saya bisa memilih kopi selain dari beberapa negara Afrika, juga dari negara-negara Amerika Selatan. Bisa diseduh pakai cara seduh pour-over atau aero press. Silakan pilih, harganya sama.

Kopi yang dijual di Trunk Coffee ini rupanya disangrai di dalam kafe ini juga. Di ruangan terbuka di sebelah tempat nyeduh terpasang mesin sangrai Probatone 5 dan karung-karung berisi biji kopi teronggok. Setiap pengunjung kafe bisa melihatnya.

Beberapa kemasan kopi siap jual ditempatkan di meja. Tapi, tidak seperti di Fuglen, Tokyo, di sini saya agak bingung memilih mana yang akan dibeli karena taste-nya tak disertakan di kemasannya. Kita harus bertanya ke baristanya soal rasa yang dikandung pada setiap produk biji kopinya.

Sepasang anak muda Jepang yang mampir sekadar ngopi sehabis dari kantor butuh waktu agak lama untuk memilih jenis kopi mana yang akan mereka bawa pulang.

Saya minta diseduhkan kopi dari Guatemala pakai cara seduh pour-over. Rasanya ringan ya, mirip teh, kata istri saya. Kurang puas, kemudian saya mencoba Gedeb Ethiopia pakai cara seduh aero press. Lumayan, body-nya kuat dan muncul wangi ”jamu”.

Hari itu, kebetulan, kafe itu mengadakan acara cupping. ”Acara ini hanya untuk staf,” kata seorang barista. Delapan gelas berisi delapan jenis bubuk kopi berjejer di meja. Empat orang barista mengantre memegang satu-persatu gelas berisi bubuk kopi itu. Mengguncang gelasnya, lalu menghirupnya dalam-dalam.

Setelah semua kebagian, gelas-gelas bubuk kopi itu lalu diseduh air panas. Para barista kembali mengantre. Kali ini untuk menghirup wangi air kopi dari gelas-gelas itu. Pada sesi antrean terakhir, mereka masing-masing menyeruput seduhan kopi di setiap gelas dengan menggunakan sendok. Suara seruput-seruputan itu menarik perhatian pengunjung. Di akhir acara mereka menuliskan catatan.

Sebelum meninggalkan kafe saya membeli kopi Nicaragua Agropecuaria El Cielo hasil roasting-an Trunk Coffee. Tertarik membeli karena kemasan kopi itu dipajang dengan ditempeli kertas bertuliskan ”Juara Kompetisi Kopi 2017 di Nikaragua”. Pantas harganya lebih mahal dari yang lainnya.

Hari pun semakin sore. Setelah secangkir kopi Gedeb Ethiopia tandas kami keluar dari kafe kembali ke Stasiun Takaoka menuju Stasiun Nagoya. Di luar udara semakin dingin. Daun pohon maple di depan kafe berjatuhan diterpa angin musim gugur.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *