Para Amatir di Teras Paviliun

 

 

*secangkir catatan di ujung tahun

“Kita ini amatir,” kata pria salah satu penggagas komunitas ini. Hampir pagi, dengan berselimut ketenangan pesisir pantai Mata Ie, Sabang, Ijar Karim berceloteh. Ia mengungkapkan posisi #ngopidikantor di antara riuhnya populasi pelaku industri kopi dalam negeri.

Selama didaulat menyeduh oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di acara Sail Sabang 2017 (2-5 Desember 2017), di teras homestay kami kerap berbincang. Baik pagi ketika sarapan, maupun selepas menyeduh seharian.

Rumah sederhana berkonsep kayu itu memang membuat kami betah. Ditambah, tiap malam, suasana nyaris tanpa suara di perkampungan Mata Ie. Kecuali bunyi binatang, ombak menghantam karang, atau sesekali angin yang secara terang-terangan mencumbui dedaunan.

Seperti malam sebelumnya, Eko Punto memilih masuk kamar lebih dulu. Fokus sepanjang hari pada scale pasaran yang sekian menit mati itu ternyata cukup melelahkannya. Obrolan malam itu lantas menyisakan bang Ijar, Praga, Ulil (Jaringan Warkop Nusantara), Alvin (Aroma of Heaven), dan saya.

Kalau diperhatikan, saat asik bercuap, sebenarnya bang Ijar lebih mirip komika ketimbang fotografer berjam terbang tinggi.

Secara acak, ucapannya barusan mengingatkan saya, sewaktu titel Amatir tercantum pula di dalam album debut Matraman (2004) milik The Upstairs. Gagah mengusung musik new wave (baca: disko ala punker) di antara ingar-bingar garage-rock awal 2000-an, Jimi Multhazam Cs. kala itu cukup bermodalkan prinsip ‘Hajar bleh!’, mengutip Felix Dass, yang kemudian disimbolkan melalui nomor tersebut.

Metode tersebut selanjutnya sukses menempatkan The Upstairs sebagai band raja pensi hingga beberapa tahun berikutnya. Saya curiga, apakah kesamaan ini dikarenakan ketiga penggagas #ngopidikantor dulu sempat berkuliah di kampus yang sama dengan Jimi? Mungkinkah ‘Hajar bleh!’ semacam ide bawaan dari kampus Cikini?

Apa pun, saya bisa jadi sepakat dengan pernyataan bang Ijar di awal. Sebab di mata saya, komunitas ini semangatnya kelewat nge-punk; konsisten sebagai gerakan nirlaba yang bersenang-senang lewat seduhan kopi (dan sepeda lipat?).

Sesuai porsinya, #ngopidikantor cukup berperan menjembatani masyarakat untuk bisa merasakan kenikmatan kopi arabika spesialti melalui berbagai sesi icip-icip kopi gratis. Dari kantor satu, ke kantor yang lain. Everything in its right place.

Alih-alih mengamini lidah kami yang sekian lama bergumul dengan kopi arabika ditambah referensi tangan pertama dari para pelaku industri kopi, termasuk pemilik kebun hingga roastery, anggap saja kami khilaf, jika Anda sesekali mendapati kami nampak paham betul bak Q-Grader. Kalau mengutip kawan lama asal Sumatera Utara, “Macam pande (beep) saja abang ini!”

“Amatir, amatir, dan tiada mahir!” (The Upstairs)

Tenggelam di antara gaduh suasana expo Sail Sabang 2017, suara Hengky tetap jelas kepada saya. “Awalnya seperti bukan kopi, tapi pas sudah habis (tertelan) saya bisa kenali itu rasa kopi!” katanya tentang seduhan Gayo Abyssinia (Pantan Musara) keluaran rumah sangrai Imaji. Tidak hanya itu, kami juga memboyong beberapa kg beans dari micro roastery Kopi Katalis, Jakarta, untuk diseduh di ujung barat Indonesia.

Kian absurd, salah satu kru Bekraf asal Medan itu menambahkan, “Mirip obat batuk!”

Dengan berbagai alasan, saya selalu tertarik dengan tingkah para peminum kopi yang baru menjajal kopi arabika. Tidak menutup mata, mereka juga menggunakan indera pengecap yang sama dalam mengingat notes kopi yang menyembul pascaseduh. Saya kerap menemukan, meski sering kali ngawur, para peminum kopi kategori ini cenderung jujur dalam menerjemahkan rasa.

Untuk lebih lengkap soal jejak rasa kopi, silakan meluncur ke tulisan senior saya di artikel Kenang Rasa.

Perkara terasingnya cita rasa kopi Gayo dari lidah Hengky seketika menjadi ganjalan saya. Alasannya, tentu, karena adegan barusan terjadi di kota Sabang yang hanya beberapa jam perjalanan dari daerah penghasil salah satu kopi arabika terbaik, Takengon. Sialnya lagi, kegelapan yang melanda Hengky juga dialami oleh ratusan pengunjung expo yang sempat singgah di booth kami.

Ini bukan sekadar tentang memperkenalkan kebiasaan baru dalam menikmati kopi. Apalagi tak bisa dipungkiri, negeri ini juga merupakan produsen jenis robusta yang subur. Hanya saja, ketika lidah-lidah warga lokal sampai tidak mampu mengenali rasa kopi (arabika) dari tanah mereka, dan seakan tidak diberikan pilihan, buat saya itu masalah yang lain lagi.

Maka ketika ngopi di Kafe Raisa, sepekan sepulangnya dari Sabang, tim #ngopidikantor Goes to Sabang boleh lega. Terutama setelah iseng-iseng menghitung jumlah cangkir yang kami seduh di acara Sail Sabang 2017. Sekitar 1000 cangkir!

Tak terasa, selama empat hari, server-demi-server kami sajikan diselipi dengan obrolan hangat seputar kopi arabika spesialti beserta teknik menyeduhnya. Kami teringat menyaksikan, bagaimana wajah-wajah penasaran yang seakan tercerahkan. Atau setidaknya, lidah-lidah mereka yang kini tidak lagi asing dengan karakter kaya rasa khas kopi arabika. Asal tanah sendiri.

 

Selamat tahun baru 2018!

Banyak ngopi, banyak rejeki.

 

 

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *