Saya lupa kapan persisnya saya membaca laporan tentang betapa muramnya tren produksi kopi. Tapi sejak laporan yang disusun Climate Institute, sebuah lembaga nirlaba dari Australia, itu dipublikasikan dua tahun lalu siapa saja yang peduli sudah punya alasan cukup untuk mulai prihatin, dan mungkin gelisah, membayangkan betapa dalam rentang waktu 30-an tahun ke depan pasokan kopi bakal menyusut secara signifikan. Saya merasakannya setiap kali menyesap seduhan kopi favorit saya di rumah.

Laporan yang dikutip berbagai media itu memaparkan rincian bagaimana perubahan iklim global berpengaruh buruk terhadap pasokan kopi di seluruh dunia. Di dalamnya ditegaskan mengenai seriusnya ancaman suhu yang makin panas terhadap lahan perkebunan. Mengutip sebuah studi yang diterbitkan jurnal Climate Change pada 2015, disebutkan perubahan iklim “bakal mengurangi area yang cocok untuk [perkebunan] kopi di seluruh dunia sampai kira-kira 50 persen, menurut berbagai skenario emisi”.

Selain menyusutnya lahan, dikemukakan pula secara lebih gamblang bagaimana cuaca yang kian hangat meningkatkan ancaman penyakit seperti karat pada daun kopi dan berbagai hama. Dulu, pada 2011, serangan satu jenis kumbang menyebabkan produksi biji merosot dan menimbulkan kerugian tahunan hingga ratusan juta dolar.

Climate Institute tak berumur panjang; lembaga ini dibubarkan pada Mei tahun lalu. Tapi apa yang dikemukakan dalam laporannya, meski bagi kebanyakan peminum kopi sangat boleh jadi merupakan hal baru, tetap relevan dan merupakan fakta yang tak terbantahkan. Para petani kopi di seluruh dunia telah bergulat selama beberapa tahun terakhir menanggulangi dampak perubahan iklim.

Bisa dimengerti bila banyak di antara para petani yang memilih berhati-hati membicarakan masalah yang mereka hadapi. Mereka yang berterus terang, misalnya dengan mengakui betapa produksi tahunan cenderung turun dalam jumlah yang berarti, secara tak langsung membantu kita memahami skala kegentingannya. Kata-kata Doug Welsh dari World Coffee Research ini menegaskannya: “Saya lihat tak ada petani kopi yang tak percaya bahwa cuaca yang dihadapi tanaman kopi, dan bersamaan dengan itu penyakit dan produktivitasnya, berubah secara dramatis dalam satu dasawarsa terakhir. Tak ada perusahaan kopi di muka bumi ini yang cukup besar untuk menanggulangi tantangan perubahan iklim sendirian.”

Di Indonesia, data resmi dari Kementerian Pertanian, misalnya, masih memperlihatkan grafik produksi total yang merayap naik dari tahun ke tahun (hingga 2016)–meski lerengnya relatif landai. Tapi sangat boleh jadi data itu tak mencerminkan realitasnya, sebab tak sedikit sebenarnya petani yang mengaku produksinya menciut. Hal ini terjadi pula di sentra produksi kopi yang boleh dibilang besar seperti Aceh.

Kecuali ada langkah-langkah serius untuk menangani penyebab perubahan iklim, tak ada pilihan tindakan bagi petani kecuali mulai secara radikal memikirkan ulang bagaimana produksi dilakukan. Ada saran sederhana, misalnya dari Aaron Davis, peneliti senior di Royal Botanic Gardens, pinggiran London: investasi peralatan pemantau iklim sederhana, yang memungkinkan petani memahami dengan lebih baik risiko yang dihadapinya berkaitan dengan cuaca dan langkah penyesuaian apa yang mesti dijalankannya. Di luar itu, yang tetap tak terhindarkan adalah tindakan-tindakan yang tergolong “intervensi” seperti irigasi, manajemen pohon naungan dan pemulsaan tanah, terasering, pergantian spesies kopi, dan memilih spesies yang lebih tahan cuaca kering.

Bagaimana dengan konsumen, para penggemar kopi? Apakah tak ada yang bisa mereka lakukan untuk ikut membantu mencegah kemungkinan buruk itu menjadi kenyataan? Sayangnya, selain sepatutnya melengkapi diri dengan informasi tentang tantangan-tantangan itu, tak banyak yang bisa dilakukan. Di antara yang sedikit ini, seperti disarankan Climate Institute, adalah konsumen sebaiknya memilih merek yang dalam produksinya tak menghasilkan emisi karbon, yang menjamin pendapatan yang adil bagi petani kecil dan komunitasnya, serta yang membantu petani-petani itu membangun kemampuan untuk menghadapi perubahan iklim.

Untuk itu, konsumen memang perlu informasi yang lengkap sebagai dasar pengambilan keputusan atau untuk menentukan sikap. Secara nasional, seperti di bidang-bidang lain pada umumnya, informasi ini tampaknya belum sepenuhnya tersedia.

Dengan satu dan lain cara, acuh tak acuh tetap bukanlah pilihan. Tapi, tentu saja, tak disarankan memilih jalan pintas ini: menimbun kopi sebanyak-banyaknya.

 

Published by Purwanto Setiadi

...a journalist, music enthusiast and passionate cyclist who has been here and there, but hasn't been everywhere.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *