Selain hasil sangrai kopi yang tidak enak dan cara menyeduh yang serampangan, ada satu hal lain yang membuat kopi menjadi buruk rasanya dan bagi saya hal ini sangat esensial. Anda boleh tak setuju, sebab ini pendapat saya. Dan hal tersebut adalah: Gelas Saji.

Bagi saya, kopi yang enak dan cara seduh yang tepat akan menjadi berantakan jika gelas saji yang digunakan, mengutip anak muda zaman sekarang, “B aja” alias biasa saja. Apalagi kalau gelas sajinya jelek.

Jika saya datang ke kafe pun hal yang pertama saya komentari ketika kopi tersaji adalah gelas yang mereka gunakan. Saat ini, rata-rata kafe menggunakan gelas kaca kecil plus server mirip vas bunga. Selain Kurasu Singapura yang menggunakan cangkir “Arita TY series”, saya belum menemukan cangkir lucu lain. Makanya, saya melampiaskan obsesi saya terhadap cangkir lucu untuk ngopi di rumah.

Istri saya pun suka uring-uringan jika kami sedang jalan-jalan ke mall dan saya merajuk membeli gelas baru. Padahal di rumah sudah bertumpuk beberapa set gelas yang menurut saya sudah sangat bisa menaikan level kenikmatan minum kopi. Dua gelas teranyar yang saya miliki adalah mug dari seng bergambar Chairman Mao dan sebuah gelas dengan lambang “botol biru” alias blue bottle.

Gelas Ketua Mao (Mao Zedong) sebenarnya biasa saja karena berbahan seng, persis seperti gelas lurik yang sedang ngetren. Namun, kenang rasa kopi yang saya sesap jadi terasa lebih kuat dan revolusioner ketimbang gelas lurik.

Sementara itu, si mug Bluebottle yang merupakan oleh-oleh Mas Malela dari Jepang membuat kopi terasa lebih kawaii desune. Apalagi, mug itu dirancang untuk komuter. Cita rasanya lebih kuat ketika diminum di atas KRL.

Bukan tanpa alasan saya meributkan gelas saji. Mengutip dari artikel CNN (baca artikel lengkapnya di sini) rupanya warna cangkir mampu mempengaruhi rasa kopi. Dalam artikel itu dijelaskan, warna dan desain produk mempengaruhi persepsi konsumen. Seperti yang dialami oleh Louis Cheskin, psikolog yang juga pemasar. Louis meningkatkan penjualan margarin pada 1940. Dia mengusulkan kemasan margarin memakai warna kuning karena lebih mirip dengan mentega.

Saat ini, para peneliti dari Federation University Australia, percaya jika pemilik kafe, dan barista bisa meningkatkan penjualan kopi dan mendapat pelanggan lebih banyak. Hanya dengan mempertimbangkan warna mug mereka.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Flavour tersebut mengambil ide tersebut dari barista. Dua barista mengatakan padanya, saat kopi dikonsumsi dari mug keramik putih rasanya lebih pahit. Barista tersebut menyebut lebih banyak pelanggan mengeluh kopi jadi lebih pahit saat disediakan dalam cangkir keramik putih, daripada cangkir bening.

George Van Doorn, penulis penelitian yang juga dosen psikolog di Federation University Australia, melakukan serangkaian percobaan. Hipotesis itu diuji pada sejumlah relawan. Memang ditemukan, warna putih dapat meningkatkan penilaian intensitas dari rasa relatif kopi. Kesimpulan dari para peneliti, mungkin itu disebabkan oleh kontras dalam warna.

Apa yang menyebabkan gelas mempengaruhi rasa. Dalam beberapa penelitian dijelaskan bahwa persepsi visual rupanya mempengaruhi indra perasa manusia. Dalam sebuah video di kanal Youtube berjudul “How you’ve been making tea WRONG your entire life” keluaran BBC disebutkan gelas berwarna merah akan membuat minuman lebih terasa manis.

Alasannya, si peneliti mengatakan manusia kerap mengidentikan warna merah dengan sesuatu yang matang. Seperti apel merah atau mungkin rambutan. Kemudian, warna kuning cenderung membuat seseorang lapar. Persepsi keindahan bentuk dan warna ini lah yang kemudian membuat saya juga terobsesi pada gelas yang digunakan ketika menikmati kopi.

Bukan hanya di dunia kopi, para peminum wine sejati pun selalu cerewet soal gelas yang akan mereka gunakan untuk menyesap anggur. Tak heran, Riedel sebuah perusahaan gelas asal Austria, punya 300 model gelas wine yang mereka jual. Setiap gelas produksi Riedel harus mengikuti tiga parameter rancangan: ukuran, bentuk dan bibir gelas.

Ukuran akan bisa mengendalikan seberapa besar udara bersentuhan dengan anggur. Bentuk menentukan bagaimana cairan itu mengalir ke bibir gelas dan diameter bibir gelas mempengaruhi seberapa cepat anggur itu mengalir dan bagaimana anggur itu menyentuh langit-langit mulut. (Baca artikel lengkapnya di CNN edisi ini).

So saya suka uring-uringan sendiri jika masih ada kafe yang menyajikan kopi specialty dengan gelas ala kadarnya. Meski si seduhan sudah enak, jika gelasnya jelek maka rasa kopi juga akan ikut jatuh. Dan yang terburuk adalah jika ada kafe yang menyuguhkan gelas khusus capucino atau late untuk kopi hasil seduhan manual.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *