Kultur Telisik

Sejarah Berdarah Kopi Cianjur

Di meja seduh saya terhidang secangkir kopi Cianjur, Jawa Barat, beberapa hari ini. Ini secangkir kopi yang pernah mencatatkan sejarah gemilang kopi Nusantara di kancah dunia pada awal abad 18. Secangkir kopi yang melambungkan bupati mereka sebagai eksportir terbesar kopi pertama ke Eropa di masa kolonialisme.

Ini juga secangkir kopi yang meletupkan amarah. Petani kopi Cianjur di akhir masa kejayaan itu melakukan pemberontakan dengan memusnahkan kebun-kebun mereka. Lalu sang bupati yang dipuji Belanda itu dibunuh dengan sebilah condre–tusuk konde (ada yang menyebutnya keris). Ya, sejarah kopi Cianjur adalah sejarah yang berdarah.

Bupati yang dimaksud adalah Aria Wiratanu III. Ada yang menuliskannya Aria Wira Tanu III atau Aria Wiratanu Datar III. Dia tangan kanan kolonialisme ketika “Preanger Stelsel” diterapkan pada 1700-an di tanah Priangan ketika kopi menjadi komoditas andalan Belanda.

Gubernur Jenderal VOC pun memberinya gelar “bekende grooten koffie leverancier” (distributor besar kopi yang termasyhur). Namun, rakyat Cianjur hingga kini mengenangnya sebagai “Dalem Dicondre”, bupati yang dibunuh.

Angka-angka produksi dan ekspor kopi menunjukkan reputasi kabupaten ini. Sejak Aria Wiratanu III mengekspor kopi Arabica Priangan pada 1711, kopi Jawa merajai pasar kopi dunia. Belanda, melalui VOC, menguasai 75 persen perdagangan kopi dunia, menggeser Yaman, Turki dan Inggris. Dari jumlah itu, kopi Cianjur dan wilayah Priangan lainnya mendominasi 75 persen produksi kopi di seluruh Hindia Belanda.

Lewat “Preanger Stelsel”, VOC menggalakkan penanaman kopi lebih dari 2,1 juta pohon dan 1 juta tanaman buah pendamping (Robert E. Elson, 1994). Hasilnya, pada 1726, kopi yang dilabeli Belanda “Java Coffee” itu mulai membanjiri Eropa. Pada tahun itu ada lebih dari 2 ribu ton biji kopi yang diekspor. Cianjur berhasil menjual lebih dari 1,2 juta pikul kopi (senilai lebih dari 20 juta gulden, sekitar Rp 150 miliar nilai sekarang) pada 1724. Ini belum kopi dari tanah Sunda lainnya.

Tak mengherankan jika VOC pada tahun-tahun itu mengalami surplus keuangan. “Karena kopi Priangan, Belanda sempat menyebut kawasan tersebut sebagai “pelampung Belanda di Hindia Belanda”,” tulis sejarawan Sunda Saleh Danasasmita di buku “Sejarah Bogor Bagian 1”.

Kejayaan masa lalu itu rupanya hanya bersisa sedikit kini. Produksi kopi Cianjur yang punya wilayah enam kali DKI Jakarta itu saat ini berada di luar 10 besar daerah penghasil kopi di Jawa Barat, menurut data 2019. Sementara Jawa Barat menempati urutan ke-9 nasional.

Dengan produksi sekitar 250 ton setahun dengan luas areal tanam 2700 hektare, Cianjur tertinggal jauh dari Garut, apalagi dari kabupaten Bandung. Angka produksinya sepersepuluh Garut dan 1/30 kabupaten Bandung.

Kendati kopi dari Sarongge, Pacet di kaki gunung Gede-Pangrango, di Utara Cianjur, belakangan menggeliat, masih perlu upaya ekstra keras untuk mencapai apa yang menjadi cita-cita Bupati Herman Suherman “mengembalikan kejayaan masa lalu” Cianjur.

*

Priangan, menurut sejarawan Edi S Ekadjati dalam “Historiografi Priangan”, adalah wilayah di bagian Selatan Jawa Barat, terbentang antara Cianjur di sebelah barat sampai Ciamis di timur. Karesidenan Priangan sejak Juli 1818 terdiri dari Cianjur, Bandung, Sumedang, Limbangan dan Sukapura (sekarang Tasikmalaya). Cianjur menjadi ibukota karesidenan Priangan dan baru berpindah ke Bandung pada 1864.

Sebagai pusat kekuasaan kolonial di Priangan, Cianjur menjalankan instruksi apa yang sedang menjadi proyek besar VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie), perusahaan dagang yang sebagian besar sahamnya dimiliki pemerintah Belanda: menggalakkan penanaman kopi yang sedang menjadi komoditas yang naik daun di Eropa. Cianjur mulai menanam kopi pada 1707 ketika Aria Wiratanu III baru saja menjadi bupati Cianjur menggantikan ayahnya, Aria Wiratanu II.

Memang Belanda pertama kali membawa kopi ke Tanah Air pada 1696. Saat itu kopi ditanam di Kedaung, Gunung Sahari, Jatinegara, Pondok Kopi dan Palmerah di Batavia. Tapi faktor ketinggian (Batavia berada di dataran rendah) yang tak memungkinkan kopi berbuah optimal dan banjir besar membuat komoditas ini gagal panen.

Gubernur Jenderal VOC J. Van Hoorn kemudian mendatangkan kembali bibit kopi dari Malabar, India, melalui mertuanya yang bertugas di sana. Bibit-bibit baru itu ditanam di kebun-kebun milik Hoorn di luar Batavia. Lasmiyati, dari Balai Penelitian Nilai Budaya Bandung yang menulis “Kopi di Priangan Abad 18-19”, juga menyebut Hoorn mengirimkan bibit-bibit itu antara lain ke Karawang dan Cirebon. Ternyata kopi tumbuh dengan baik di wilayah itu.

Hoorn pun melaporkan keberhasilan itu kepada De Hern XVII, 17 pemimpin VOC (wakil dari 7 pelabuhan besar) di Amsterdam. De Hern kemudian memberi instruksi pada Hoorn agar mewajibkan para pemimpin pribumi di bawah kekuasaan VOC untuk menanam kopi. Saat itu, tahun 1705, VOC baru menguasai secara penuh Priangan.

Wajib tanam kopi itu pun ditindaklanjuti para bupati. Bibit kopi disebar. Mula-mula ditanam di kebun-kebun milik Bupati, juga di pekarangan dan kebun warga. Jabatan pengawas diberikan kepada pangeran Aria Cirebon yang ditunjuk sebagai opziener para bupati Priangan.

Hasilnya? Aria Wiratanu III menjadi penyetor pertama ke VOC pada panen pertama 1711. Wiratanu III mengirim sekitar empat kuintal kopi ke Amsterdam. Daerah lain yang juga menghasilkan adalah Sumedang, Tanah Baru (dekat Bandung) dan sedikit di Limbangan (daerah ini kemudian dilebur ke Cianjur dan Garut). Sementara Sukapura, juga Cirebon gagal memproduksi dalam skala besar.

Demi mempertahankan dan bahkan meningkatkan ekspor kopi, kawasan wajib tanam diperluas tak hanya mencakup pekarangan dan kebun warga. Hutan-hutan juga dibabat dan dibakar. Gudang-gudang kopi dibangun. VOC juga mengirim kapal ke Pelabuhan Ratu membawa bibit ke kawasan di kaki gunung Tangkuban Parahu. Sistem pembudidayaan kopi secara resmi diterapkan di Tatar Sunda.

Ketika VOC bubar pada 1799, pemerintah Hindia Belanda mengambil alih kekuasaan atas Jawa. Dandels yang menjadi gubernur jenderal pada 1808 membangun jalan raya pos yang menghubungkan Jakarta, Bogor, Puncak, Cianjur, Bandung dan Sumedang. Ia menata logistik kopi dan menggabungkan daerah penghasil kopi menjadi satu administrasi. Selebihnya ia mewajibkan tanam dari 250 pohon sampai 500 pohon pada warga di daerah penghasil kopi. Ia juga mengangkat inspektur jenderal urusan kopi.

Dengan sistem ini dan peran bupati yang mendapat komisi dari setoran kopi, jumlah pohon kopi bertambah lebih dari 45 juta batang. Antara 1808-1821 itu, penghasilan kopi mencapai antara 20 ribu pikul sampai 93 ribu pikul per tahun dari Tanah Sunda.

Kesuksesan Preanger Stelsel itulah yang kemudian dicontoh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van den Bosch yang berkuasa 1830-1835. Saat itu pemerintah kolonial hampir bangkrut karena Perang Diponegoro (1825-1830) yang menguras finansial mereka. Van den Bosch pun mengusulkan Cultuur Stelsel di Jawa dan Sumatera untuk mendongkrak ekonomi pemerintah. Ia menargetkan penanaman 50 juta pohon kopi. Proyek tanam paksa itu juga memaksa masyarakat menanam komoditas lain seperti tebu, teh dan nila.

Hasilnya, dari cuma 50 juta pohon, Belanda berhasil memaksa rakyat menanam 330 juta pohon kopi sampai tahun 1840-an. Kopi pun menjadi primadona Belanda dengan menghasilkan 65 juta gulden antara 1840-1849. Bandingkan dengan komoditas tanaman nila yang cuma menghasilkan 15 juta gulden. Gula dari hasil panen tebu bahkan tak menghasilkan keuntungan sampai tahun 1845.

Kopi dari wilayah Priangan memberi kontribusi terbesar saat itu (C. Fasseur, 1975). Para bupati di kawasan Priangan juga menangguk pundi-pundi kekayaan. Salah satu bupati terkaya adalah Bupati Bandung Raden Adipati Wiranatakusumah IV (1846-1874). Ia menerima persentase keuntungan 800 ribu gulden (sekitar Rp 5,6 miliar) tiap tahun.

*

Wiratanu III bernama asli Raden Astramanggala. Dia putra sulung dari 14 anak Aria Wiratanu II. Sementara Aria Wiratanu II anak sulung dari 11 anak Aria Wiratanu I. Sebagian menyebut Astramanggala merupakan bupati kedua. Tapi sebagian yang lain menyebut bupati ketiga.

Jadi jika membaca sejumlah penelitian, bisa jadi sejarawan berbeda-beda saat memberi predikat Aria Wiratanu III: bisa bupati kedua, bupati ketiga, atau bahkan ada yang menulis bupati Cianjur pertama. Jika dihitung dari perjanjian kerajaan Mataram yang memberikan wilayah antara Cisadane-Citarum kepada VOC pada 25 Februari 1677, maka pada tahun itu Cianjur berada di bawah kekuasaan Aria Wiratanu II. Ia bisa disebut bupati pertama di bawah VOC.

Wiratanu atau Wira Tanu berarti panglima atau senapati. Aria merupakan gelar kebangsawanan yang diberikan kasepuhan Cirebon. Gelar dan emblem “senapati” itu didapat Aria Wiratanu I atau kakek Astramanggala. Saat itu Cianjur dibawah kasepuhan Cirebon, sementara Cirebon berada dalam kekuasaan kerajaan Mataram–bukan kerajaan Padjajaran.

Tak ada catatan pada umur berapa Aria Wiratanu III menjadi bupati. Tapi ia menjadi bupati pada 1707-1926. Tahun yang terakhir adalah saat ia dibunuh rakyatnya sendiri. Aria Wiratanu berkuasa di masa empat gubernur jenderal VOC: J van Hoorn (1704-1709), Abraham van Riebeeck (1709-1713), Christoffel van Swoll (1713-1718) dan Henricus Zwaardecroon (1718-1725).

Sebagai “pelayan” empat gubernur jenderal, Astramanggala mempesona VOC. Sejak itu hampir semua keinginan menambah wilayah kekuasaannya, juga memindahkan ibu kota Cianjur, dipenuhi VOC. “Pada era pemerintahan dia, ibu kota Kabupaten Cianjur dipindahkan dari Pamoyanan ke Kampung Cianjur,” tulis Reiza D. Dienaputra dalam “Cianjur: Antara Priangan dan Buitenzorg”.

Wilayah-wilayah baru itu antara lain Distrik Jampang dan Distrik Sagara Kidul. Berikutnya adalah sebagian wilayah Karawang dan Bandung. VOC juga membiarkan sang bupati membangun gapura di perbatasan-perbatasan, yang belakangan dikeluhkan pangeran Aria Cirebon yang mengawasi wilayah Priangan, “itu bukan gapura, tapi benteng.”

Hal yang tak dipenuhi VOC–yang begitu mengandalkan para menak dan sentana untuk mengumpulkan kopi — adalah saat sang bupati meminta gelar Pangeran Aria Adipati Amangkurat di Datar. Permintaan yang ingin menyamai Amangkurat, Sultan Mataram, itu dinilai membahayakan.

Di bawah Wiratanu III, Cianjur berhasil menjual lebih dari sejuta pikul kopi tiap tahun. Puncaknya pada 1724 saat mereka menjual lebih dari 1,2 juta pikul kopi. “Pada waktu meninggal, dia masih berhak mendapat 26 ribu gulden berikut bunga atas jumlah itu,” tulis Jan Breman dalam “Keuntungan Kolonial dalam Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870”, seperti dikutip majalah Historua.id.

Amarah petani kopi bermula ketika secara semena-mena bupati memotong 5 ringgit gulden dari tiap pikul kopi yang disetor petani. Sementara bupati menawarkan harga tetap ke VOC sebesar 21 gulden, lalu turun jadi 17,5 gulden per pikul. Sementara ia membeli dari petani 12,5 gulden/pikul.

Para petani pada mulanya masih bisa menghindar dari harga yang ditetapkan bupati dengan cara menyimpan sebagian panen mereka dan lebih memilih menjual ke tengkulak Cina yang memberi harga lebih bagus. Para tengkulak ini juga berbisnis dengan VOC. Tapi aktivitas diam-diam itu diketahui bupati. Tak lama kemudian keluar larangan VOC pada tengkulak Cina untuk memasuki wilayah Priangan. Petani hanya diperbolehkan menjual pada pengepul lokal yang ditugasi bupati.

Puncak kemarahan terjadi ketika VOC secara semena-mena menurunkan harga dari 17,5 gulden per pikul menjadi 15 gulden per pikul dan terakhir 5 gulden per pikul. “VOC saat itu dililit masalah keuangan. Penghematan dengan menekan massa di bawah dilakukan, dan itu memicu perlawanan petani,” ujar Breman.

Wiratanu yang berada di tengah perseteruan petani vs VOC, pun menjadi sasaran amuk. Seorang pemuda yang menyamar sebagai tukang sayur masuk ke pendopo dan mendapati sang bupati hanya berdua. Lelaki itu kemudian menusuk perut Wiratanu dengan condre.

Sang pemberontak kemudian dikejar pengawal dan dibunuh dengan cara dicincang. Potongan tubuhnya ditebar hingga ke alun-alun. Wiratanu yang mendapat beberapa tusukan meninggal pada malam berdarah pada 1726 itu.

Tapi versi lain yang telah menjadi legenda menyebut bahwa tragedi bermula dari sang bupati yang memaksa mengawini seorang perempuan Sukabumi. Saat perempuan itu diserahkan pada Wiratanu, kekasih sang perempuan diam-diam menyamar sebagai pengawal. Saat itulah ia menghunus condrenya.

Legenda “Dalem Dicondre” itu diceritakan turun temurun. Pujangga Sunda Yus Rusyana yang menulis naskah drama yang bersumber dari cerita rakyat itu menyebut nama sang perempuan: Apun Gencay. Apun diminta menjadi istri ketika Wiratanu berburu ke daerah Cikembar, Sukabumi. Orangtua Apun tak bisa menolak permintaan sang dalem yang sudah punya beberapa istri karena ia rakyat kecil. Namun tidak bagi kekasih Apun .

Saat Apun datang ke pendopo pada suatu senja, ia ditemani sang pemuda. Apun mengaku pada bupati bahwa pemuda itu adalah saudaranya. Saat itulah sang kekasih menghunus condrenya.

Dalam legenda itu diceritakan sang pemuda dikejar hingga ke alun-alun. Ki Purwa yang menjadi tangan kanan bupati memenggal dan mencincangnya. Potongan-potongan daging sang kekasih itu konon dipunguti Apun Gencay.

Versi mana yang benar? Entahlah. Yang jelas perlawanan petani pada bupati dan VOC meluas. Mereka merusak kebun-kebun kopi dan kabur ke daerah lain. Apakah VOC melunak? Tidak. VOC, juga pemerintah kolonial Hindia Belanda, justru kian keras. Aturan baru diterapkan. Pengawasan diperketat.

Di zaman Dandels, dan gubernur jenderal berikutnya, bahkan saat cultuur stelsel diterapkan di seluruh Jawa dan Sumatera, pemerintah Hindia Belanda kian represif. Belanda pun menyedot kekayaan bumi nusantara demi menguasai pasar kopi dunia dan menyelamatkan ekonomi Belanda selama lebih dari seabad. Belanda hanya kalah dari penyakit karat daun yang menghabisi sebagian besar kebun kopi Arabica mereka di Jawa dan Sumatera pada pertengahan abad 19.

Cerita kopi Priangan itu menunjukkan bahwa komoditas ini begitu menggiurkan, bisa menyelamatkan krisis ekonomi pemerintah kolonial, melahirkan para raja kecil di banyak daerah, memberi inspirasi bagi lahirnya proyek tanam paksa yang menindas rakyat, hingga menciptakan pemberontakan berdarah di Cianjur. Dari sepokok pohon, lahir bercabang dan beranting drama yang memberi warna pada sejarah Indonesia.

Salam kopi Nusantara.

Anda mungkin juga suka...

1 Komentar

  1. Extra Money menulis:

    Get 450+ Extra Daily Visitors and 3X Your Profits

    “How can I get more traffic to my site?”
    People ask me this question all the time.
    Truth be told, ranking on Google is getting *harder*,
    because everyone and their grandma is targeting
    the same keywords.
    My friend George and his team just released a new
    SEO WordPress plugin that fixes this problem.
    It ranks your site higher in Google, without you
    creating more content or building backlinks.

    Check it out here ==> https://bit.ly/39swbCx

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *