10 Penyesalan karena Tidak Ikut #ngopidikebun

Dua kali saya gagal ikut #ngopidikebun. Pada #ngopidikebun kedua saya malah sudah sempat mendaftar dan membeli sendal gunung, tapi untuk alasan yang sangat kuat saya terpaksa batal ikut acara itu.

Saya sangat menyesal gagal ikut camping sambil pesta-pora kopi itu.

Penyesalan itu bertambah ketika teman-teman yang ikut #ngopidikebun mulai mem-posting foto-foto mereka di medsos. Foto dengan pemandangan indah yang mustahil dibuat setiap hari, foto mendaki kebun kopi yang sedang berbuah, juga foto-foto selfie berlatar kabut, seakan-akan mereka berada di Irlandia.

Kalo mau di-list, ini penyesalan-penyesalan saya:

 

1. Panen ke Kebun

Seumur hidup saya belum pernah memetik kopi, padahal hampir setiap hari saya menikmati kopi di kantor, di rumah, atau di kedai kopi. Saya iri melihat foto teman-teman di tengah kebun atau foto bareng dengan petani pemetik kopi. Untung Dave Grohl enggak ikut.

 

2. Fun Cupping

Saya pernah ikut cupping, proses icip-icip kopi yang dipandu seorang Q Grader. Dimulai dengan mencium aroma bubuk kopi dari berbagai jenis yang baru digiling, mencium aroma kopi yang sudah diseduh air panas, dan mencicipinya. Lalu membandingkan dan memilih yang sesuai dengan selera kita.

Kesenangannya pasti akan berkali-kali lipat jika dilakukan langsung di kebun kopi.

 

3. Melihat Proses Pasca-panen

Sampai saat ini, proses pasca-panen adalah bagian yang paling tidak saya pahami pada perjalanan kopi dari kebun ke cangkir. Inilah penyesalan terbesar saya karena gagal melihat langsung tahap ini.

 

4. Klinik Seduh Manual

Teman-teman #ngopidikantor kerap mengajari saya menyeduh kopi dengan alat seduh manual, bahkan saya sempat menyeduh pada #ngopidikantor beberapa kali. Tapi saya menyesal tidak dapat ikut langsung belajar nyeduh kopi dari para praktisinya di acara #ngopidikebun waktu itu.

 

5. Free Flow Kopi Spesialti

Pernahkah kamu menginginkan kopi, kapan pun, dan kopi selalu tersedia 24 jam? Room service hotel? Emang ada kopi spesialti? Kayaknya itu cuma ada di @ngopidikebun.

 

6. Kue Balok

Saya belum penah mencoba kue ini, tapi kalo melihat video dan foto-foto yang di-posting teman-teman, penampakan kue balok sangat menggiurkan. Bentuknya seperti kue pancong dan ada bagian setengah matang yang meleleh di dalamnya. Uniknya, dari cerita teman-teman, pembakaran kue ini bukan hanya dari bawah cetakan, tapi di tutup cetakannya juga diberi bara supaya kue balok matang merata, karena adonannya konon lebih kental ketimbang kue pancong.

Susah membayangkan kue yang tidak pernah saya temui di Jakarta ini, kata mereka topping-nya ada yang diberi keju tebal, cokelat (damn!), dan kismis. Dan gilanya, pada acara #ngopidikebun, kue balok dipanggang dan tersedia panas-panas sepanjang acara.

 

7. Makan-makan di Alam Terbuka

Seorang teman cerita, baru kali ini dia camping dengan makanan yang berlimpah. Bayangkan buffet breakfast, lunch, dan dinner di atas gunung. Menunya juga lengkap dan bervariasi. “Dijamin perut lo penuh terus,” Kata dia.

 

8. Kambing Guling

Saya tidak suka daging kambing. Tapi untuk banyak orang siapa yang bisa nolak bbq asli Indonesia ini.

 

9. Fasilitas Lengkap

Bayangkan ada toilet permanen dan bersih di ketinggian 1.600 mdpl dan tidak cuma satu katanya, jadi tidak perlu antre. Teman-teman yang sebelumnya belum pernah camping dan mengira berkemah akan bikin sengsara kaget dengan akomodasi yang mereka dapat: tempat tidur lipat dan kantung tidur tersedia untuk setiap peserta di dalam tenda besar. Kebayang nyamannya, walapupun suhu di luar mencapai 8 derajat Celcius.

Cerita lainnya adalah mereka tidak mengira untuk menuju tempat berkemah disediakan bus bagus ber-AC. Kejutan lainnya adalah goodie bag dibagikan saat acara selesai.

 

10. Foto-foto

Haha, apa yang lebih penting dari ini, selain nonton konser Foo Fighters!

 

Supaya tidak menyesal, ayo daftar #ngopidikebun3. Keterangan lengkap ada di sini.

Lagu-lagu yang Tidak Baik untuk Kopi-kopi yang Tidak Baik

Lagu jelek akan menyempurnakan bencana kopi yang tidak enak.

Selain mengkurasi kopi bermutu, kedai kopi spesialti juga akan menjaga penampilan interior dan eksterior. Mas Praga, editor ngopidikantor.com pernah menceritakan pengalamannya ngopi enak di kedai yang sumuk. Walau akhirnya menikmati, pasti ayah satu anak itu tidak dapat meresapi sesapan kopinya secara maksimal.

Begitu juga musik, para pemilik kedai akan secermat mungkin memilih playlist yang diputar. Saya membayangkan tidak akan ada musik metal di 1/15 atau lagu dangdut di Sensory Lab. Semua lagu akan disusun berdasar cocok-tidak cocok dengan suasana dan positioning kedai.

Ananda Badudu dari Banda Neira pernah diundang bernyanyi saat #ngopidkantor menyeduh di kantor Tempo. Melodi tenang yang mengiringi lirik puitis sungguh melengkapi nikmatnya Blue Batak waktu itu.

Selain itu Kendra Paramita, ilustrator sampul majalah Tempo dan Eidelweis, barista juga punggawa Qlue juga sempat berduet membuat sahdu suasana #ngopidikantor beberapa waktu lalu. Mungkin karena kopi yang diseduh, bahkan petikan gitar Mas Kendra dipercaya lebih bernuansa Payung Teduh dibandingkan petikan gitar Is.

Terakhir suara gitar bernuansa latin Idrus Shahab, Redaktur Pelaksana Tempo juga pernah membius para pendengar yang kala itu sedang menyesap single origin #ngopidikantor.

Musik enak dan Kopi nikmat, cocok!

Lalu apakah musik yang enak akan mendongkrak kopi yang tidak enak? Juga sebaiknya, apakah kopi yang enak akan membuat musik jadi lebih enak didengar? Yang pasti salah satunya akan membunuh yang lain. Itu jika melihat negatifnya.

Awalnya tulisan ini akan merekomendasikan pasangan ideal dan tidak ideal. Tujuannya positif, kebalikan dari yang tadi: salah satunya bisa mendongkrak yang lain.

Memahami kedua premis itu saja agak membingungkan apalagi memadu-madankannya, akhirnya saya putuskan untuk memadukan duet bencana musik dan kopi. Kayaknya akan lebih mudah. Pasangan-pasangan di bawah ini saya yakini bakal sukses merusak hari-hari saya:

 

Ku Yakin Sampai di Sana (SBY) x Aroma (Bandung)

Saya pernah kuliah sebentar di Jurusan Filmologi, sebuah bagian dari Jurusan Sinema, Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta. Di sana kami, eh saya (sebagai mahasiswa satu-satunya) mempelajari sejarah dan kritik film. Dosen saya pernah menyitir Pramoedya Ananta Toer: “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran…” Haram hukumnya dan tidak masuk akal menilai sebuah film sebelum menontonnya.

Walau tidak suka Susilo Bambang Yudhoyono (akan berpanjang-panjang jika alasannya ditulis di sini) saya tidak bisa serta merta menilai lagu ciptaannya buruk sebelum mendengarkannya. Dan ya, saya pernah mendengar lagu yang dibawakan Rio Febrian ini.

Seperti Kopi Aroma, lagu ini dibuka dengan PHP.

Kopi yang harum namanya (bukan aromanya) ini banyak direkomendasikan orang. Teringat pesan dosen saya, puluhan kali saya mencicip kopi ini sebelum berkesimpulan dan yakin bahwa kopi ini betul-betul tidak enak.

Menurut saya rekomendator kopi ini tidak paham benar kopi atau memang seleranya sudah mentok. Kopi Aroma itu tidak enak paling tidak karena faktor ini: robusta atau disangrai gosong. Sisanya adalah gimmick. Cuma susu kental manis yang bisa menyelamatkannya.

Seorang teman yang mendapat resep dokter untuk minum kopi asli tanpa gula awalnya hanya tau Kopi Aroma. Sehari dia minum tiga cangkir kopi itu sampai akhirnya suka. Lalu dia kenal kopi spesialti arabika, sejak itu dia tidak mau menyentuh kopi Aroma. Sekarang dia sudah sembuh dari penyakitnya dan menjadi manajer sebuah kafe di Bogor.

Saya mendengarkan Ku Yakin Sampai di Sana setelah menyingkirkan segala ketidaksukaan saya pada SBY. Mendengarkan dengan harapan tinggi, seperti saat akan menilai Kopi Aroma. Bagaimana tidak, lagu ini dinyanyikan oleh Rio Febrian, lalu intronya mengingatkan pada lagu berkelas macam Dirimu (Gank Pegangsaan). Saya yakin pemusik dan orkestranya juga yang terbaik, jangan main-main ini lagu karangan presiden.

Tapi lama-kelamaan menurut saya lagu ini seperti kehilangan tenaga dan kehilangan arah. Banyak lagu slow yang tetap bertenaga seperti lagu-lagunya Frank Sinatra juga Leonard Cohen, bahkan lagu keroncong. Sebagai lagu penyemangat, irama dan liriknya cenderung cengeng.

Bisa membayangkan menyeruput Kopi Aroma, apapun variannya sambil mendengar lagu Ku Yakin Sampai di Sana? Pahit, sepahit semangat lagu SBY.

 

Mars Perindo x Kopi Oleh-oleh

Tidak perlu muluk-muluk membandingkan Mars Perindo dengan L’Internationale. Jauh!

Ada dua kemungkinan jika kita dicekoki sebuah lagu secara terus menerus: makin suka atau muak. Mars Perindo termasuk kategori yang kedua. Bayangkan, saya yang jarang menonton TV saja hapal dan terganggu dengan lagu mars Partai Persatuan Indonesia milik Pak H. Ary Tanoe ini.

Lalu di mana dosa kopi oleh-oleh? Yang saya maksud bukan kopi hibah dari orang-orang yang paham kopi, tapi oleh-oleh dari teman atau kerabat yang hanya tau kita suka kopi. Mereka kerap mengoleh-olehi kopi dari berbagai tempat tugas atau plesir.

Kopi oleh-oleh ini biasanya dijual di tempat wisata, stasiun, terminal, atau bandara. Teman atau kerabat baik hati yang hanya tau kita suka kopi tanpa pikir panjang akan membelinya, apalagi di kemasan tertera kopi tersebut khas dari tempat itu. Ciri-cirinya kemasan kopi sangat mewah walau kadang seleranya tidak bagus dan kopi sudah digiling halus.

Saya dan #ngopidikantor sering mendapat kopi semacam ini, karena tidak minum-able kebanyakan kopi ini berakhir sebagai pengharum ruang atau dihibahkan kembali ke teman yang biasa mengkonsumsi kopi dengan tambahan gula.

Sayangnya seringkali kopi oleh-oleh ini tidak dilengkapi informasi yang memadai tentang produsennya, jadi kita kesulitan untuk bertanya varietas, proses pasca panen, profil roasting, dan notes-nya. Kita juga akan kesulitan komplain jika kopi yang diberikan berlabel arabika tapi aroma dan rasanya robusta.

Soal protes itu pernah saya lakukan melalui akun Twitter yang untungnya saat itu tertera di kemasan sebuah kopi oleh-oleh. Seorang kolega membawa oleh-oleh sekantung kopi dalam kemasan unik (berbentuk anyaman bambu) sepulang dari tugasnya di sebuah daerah di Indonesia Timur. Pada kemasan kopi tersebut tertera bahwa jenis kopi yang sudah digiling halus itu adalah arabika.

Setelah diseduh saya yakin aroma dan rasanya adalah robusta, lalu saya tanya melalui akun twitter produsen kopi tersebut. Satu-dua mention Twitter saya tidak digubris. Twitter ketiga saya cc ke akun Twitter Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (@YLKI_ID). Seperti kebakaran jenggot, produsen kopi meminta maaf dan berjanji mengganti kopi yang sesuai dengan label pada kemasan.

Kopi oleh-oleh rawan dengan penipuan, mereka menjual kopi berkualitas rendah dengan harga yang sangat tinggi. Seperti janji muluk partai politik yang dikemas rapi dalam sebuah mars berselera rendah.

 

Semua Lagu Bon Jovi x Kopi Robusta

Saya tidak suka aja keduanya. Kecuali mungkin fine robusta dan Patience, eh itu Guns n’ Roses ding.

Mengapa Ngopi di Kantor

”NGOPI dulu, ah, buntu nih…”, seseorang berkata seraya beranjak dari kursi meja komputernya ke meja tempat kopi bubuk, gula, dan termos air panas yang disediakan kantornya. Tak lama, segelas kopi panas berada di samping komputernya. Ia pun menyeruput sambil berharap lead tulisan akan segera didapat. Ia salah seorang penulis di Majalah Tempo.

Konon, menemukan lead yang bagus itu tidak mudah. Ia harus menemukan kalimat panjang (alinea) di awal tulisan yang mampu memancing dan memikat pembaca agar terus mengikuti cerita sampai selesai. Kira-kira begitu. Semua itu tentu membutuhkan waktu pemikiran yang lama dan stamina yang prima.

Menulis setiap minggu di bawah tekanan deadline memang bukan tugas ringan. Ketukan jari-jemari di papan ketik seakan-akan berpacu dengan detak-detik jarum jam. Adrenalin di dalam tubuh kian meningkat. Ia tahu terlambat menurunkan tulisan akan berakibat berantai mulai dari pracetak, percetakan, sampai sirkulasi. Karena kalau terlambat sampai ke pasar bisa berakibat berkurangnya oplah majalah. Belum lagi kena sanksi dari atasan yang bisa mempengaruhi penilaian prestasinya.

Karena tugas berat itu sebagian besar penulis merasa membutuhkan stimulan, butuh “dopping”. Maka, minum kopi yang disediakan kantor jadi pilihan utama. Gratis pula.

Personel Bagian Kreatif Tempo yang harus menunggu tulisan dari para penulis sampai larut malam, bahkan sering tembus dini hari, mengisi waktunya dengan ngopi. Dan para ilustrator yang sedang mencari inspirasi ide gambar merasa perlu menenggak secangkir kopi. Begitu juga di bagian lain dengan alasan yang lain pula.

Ditambah lagi kewajiban mengikuti rapat perencanaan, rapat checking, dan rapat-rapat lainnya yang mungkin tak menarik (sehingga sering bikin ngantuk) membuka peluang karyawan untuk minum kopi. Rata-rata sekitar dua kilogram kopi bubuk per hari kerja yang dikonsumsi oleh karyawan Tempo.

Entah sejak kapan munculnya anggapan ini: tak bisa menulis tanpa secangkir kopi. Yang pasti sejak tahun 80-an saat saya mulai bekerja di Majalah Tempo. Berlokasi di Proyek Senen, Blok II. Lantai III, Jakarta Pusat, waktu itu peralatan menulis masih berupa mesin tik manual. Sedangkan untuk mengedit, mencoret, atau menambahkan kata menggunakan ballpoint di atas kertas doorslag.

Pada masa itu, selain menulis di bawah tekanan deadline, para penulis juga menulis di bawah tekanan penguasa. Tak boleh menulis ini dan mengeritik itu. Setiap waktu bisa ditelpon (artinya ditegur) oleh Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) bila memuat tulisan yang menurut pemerintah bisa ”mengganggu stabilitas politik”. Merancang kulit muka pun butuh kehati-hatian agar gambarnya tak menyinggung pribadi atau penguasa.

Ancamannya bisa berujung pada pembredelan. Pada 1982 Tempo dibredel karena menulis tentang bentrokan antara pendukung partai Pemilu. Sebulan kemudian diizinkan terbit kembali. Tulisan yang mengeritik pemerintah karena membeli kapal perang bekas dari Jerman Timur pada 1994 membuat penguasa tidak merasa nyaman. Juni 1994 Tempo kembali dibredel.

Saya membayangkan sulitnya para penulis di masa itu untuk membuat tulisan bagus dalam situasi tertekan seperti itu. Sebab, seperti melukis atau menggambar, menulis pun membutuhkan kebebasan dan suasana hati (mood) yang bagus.

Nah, aroma kopi juga dipercaya bisa membangkitkan mood. Beberapa tulisan ilmiah tentang kopi menyatakan bahwa mengkonsumsi kopi dengan kadar kafein antara 100-200 mg (kandungan kafein dalam secangkir kopi sekitar 85 mg) bisa meningkatkan performa seseorang dalam bekerja dan mengubah suasana hati menjadi lebih baik dan tubuh mengalami peningkatan aktifitas yang cukup untuk mengusir kantuk. Kandungan kafein dalam kopi dipercaya membuat tubuh tetap segar bahkan merasa lebih berenergi.

Di bagian Redaksi, terutama, saya lihat sebagian besar mengetik naskah didampingi segelas kopi. Pada tahun 80-90-an kantor belum menyediakan termos air panas. Kopi diseduh berdasarkan pesanan oleh office boy dengan air mendidih langsung dari ceret di dapur.

Dan biasanya, ngopi diselingi merokok untuk yang biasa merokok. Kita tahu, pasangan serasi kopi adalah rokok. Kombinasi ini dipercaya sangat ideal. Minum kopi memacu denyut jantung sedangkan merokok dianggap bisa memperlambat. Klop.

Ketika berkantor di Jl. HR Rasuna Said, Kuningan, anggota staf Redaksi yang tak bisa meninggalkan kebiasaan merokok dikonsinyir di suatu ruangan yang di langit-langitnya dipasangi alat pengisap udara (exhauster). Kami menyebutnya ruang akuarium.

Kini, kebiasaan ngopi di kantor berbeda. Bila bosan dengan minuman yang dianggapnya itu-itu lagi, para pekerja kantoran, terutama kalangan anak mudanya bisa mencari alternatif minuman kopi di luar. Tak sulit menemukan kafe-kafe yang menyediakan caffe latte, cappuccino, americano untuk dibawa ke kantor atau memesan lewat online untuk sekadar menemani bekerja. Dan yang suka pamer biasanya berswafoto dengan minumannya untuk diunggah di media sosial.

Sedangkan bandrek, wedang jahe sebagai alternatif minuman sehat saya lihat kurang mendapat tempat sebagai pendukung bekerja. Mungkin khawatir dibilang ndeso?

Kehadiran komunitas #ngopidikantor di Tempo sudah berperan dengan harapan dapat mengubah kebiasaan ngopi di kantor dengan terus-menerus mengenalkan biji kopi spesialti jenis Arabika hasil produk dalam negeri dalam berbagai rasa. Lalu menyajikannya dengan berbagai alat seduh dan diminum tanpa gula.

Seperti menyeduh kopi, apapun alat untuk menyeduhnya, yang diharapkan adalah hasil akhirnya: rasa yang prima. Begitu pula dalam hal menulis, tak menjadi soal apakah menulisnya menggunakan mesin tik manual atau komputer, dan perlu didampingi secangkir kopi atau tidak, yang diharapkan pembaca adalah hasil akhirnya: tulisan yang prima.

Pajangan Mahal Bernama Brikka

Tulisan ini dibuat setelah saya frustasi berkali-kali gagal membuat kopi menggunakan moka pot. Padahal, alat pembuat kopi tradisional Italia ini termasuk piranti yang paling mudah digunakan. Tak perlu teknik khusus, tinggal giling kopi, tuang air, dan simpan di atas kompor yang menyala. Kopi pekat yang hampir menyamai espresso akan keluar dengan sendirinya.

Rasa penasaran saya terhadap benda satu ini bertambah saat mengetahui Bialetti, produsen sekaligus pencipta moka pot, punya varian bernama Brikka. Kelebihan Bialetti Brikka dibandingkan moka pot biasa adalah keberadaan katup penutup lubang tempat muncratnya kopi. Katup ini menjanjikan munculnya buih berwarna coklat muda pada seduhan. Buih yang disebut crema ini, di kalangan pencinta kopi ibarat holy grail, terutama bagi mereka yang senang mengulik espresso dan minuman turunannya.

Ada dua sudut pandang dalam melihat crema. James Hoffman, barista juara dunia dan penulis buku The World Atlas of Coffee mengatakan crema bukanlah komponen esensial dalam kopi. Keberadaan buih ini, kata dia, malah menambah rasa pahit dan menimbulkan sensasi kotor pada mulut saat meminum kopi. “Makanya saya akan mengaduk espresso terlebih dahulu kalau ada crema-nya,” kata James di blognya.

Crema, menurut beberapa sumber, dihasilkan oleh gas yang tersimpan di dalam biji kopi, akibat proses penyangraian. Semakin segar kopi, alias belum terlalu lama diroasting, maka gas yang terkandung lebih banyak. Sehingga crema akan lebih mudah didapatkan. Profil roasting biji pun jika semakin gelap akan menghasilkan buih lebih. Kekuatan tekanan air pada mesin espresso termasuk penentu kehadiran buih ini. Karena tekanan air pada moka pot tak sebesar mesin, Bialetti menyiasati pemasangan katup pada Brikka.

Untuk penikmat kopi seduh manual, keberadaan gas pada kopi justru dihindari. Makanya, dalam teknik penyeduhan manual ada prosedur blooming, yakni membasahi serbuk kopi dengan air panas dan mendiamkan beberapa saat. Fungsi blooming adalah menghilangkan sisa-sisa gas tadi. Tingginya kandungan gas akan menimbulkan rasa sepat dan pahit saat kopi disesap. Perut juga akan mudah kembung kalau proses blooming tidak sempurna.

Di sisi lain, mayoritas barista dan penikmat espresso justru mengagung-agungkan crema. Ada yang bilang crema memperkaya rasa kopi. Saya sendiri belum bisa terlalu membedakan rasa kopi (espresso) yang ber-crema atau tidak. Namun harus diakui, espresso berhias lapisan busa berwarna cokelat terang memang terlihat lebih menarik dan fotogenik. Crema seakan jadi garnish wajib pada secangkir espresso –semacam stereotip standar perempuan cantik haruslah berkulit putih.

Hasil seduhan Bialetti Brikka (Ajibon)

Daya pikat itulah yang membuat saya kesengsem dengan Brikka. Selain memang terkadang saya ingin kopi yang lebih berat ketimbang hasil seduhan dripper. Sudah terbayang, kalau punya Brikka, maka setiap hari saya bisa membuat kopi yang hampir setara espresso. Bikin affogato untuk menyenangkan istri juga jadi lebih mudah dan murah. Tapi harga Brikka tak semurah moka pot standar. Saya juga sebetulnya tak terlalu yakin hasil Brikka akan memuaskan.

Beruntung salah seorang teman #ngopidikantor, Budhi, sudah beli Brikka duluan. Dia sepertinya kurang puas dengan pembelian itu, sehingga dia meminjamkan kepada saya secara sukarela untuk ‘test drive’ padahal belum lama dia memiliki alat ini. “Pakai saja, santai tidak usah buru-buru dikembalikan,” kata Budhi. Ucapan dia memperkuat dugaan saya hasil seduhan Brikka tak semenarik janji visualnya; kopi berlimpah crema.

Jadilah, selama dua hari terakhir Brikka milik Budhi nangkring di rak rumah saya. Sama seperti crema yang membuat tampilan kopi jadi lebih ciamik, keberadaan Brikka berwarna perak dengan bodi berbentuk oktagon-nya membuat deretan koleksi alat kopi saya terlihat jadi lebih sophisticated. Namun kekaguman terhadap desain Brikka berganti dengan kekecewaan setelah terus-terusan gagal memperoleh crema.

Aat, barista 7Sleepers Coffee Tebet yang sudah hampir setahun memakai Brikka memberikan sejumlah tips. Saya dan anggota lain #ngopidiantor, Ajibon juga sempat praktik langsung menyeduh memakai Brikka milik Aat di kafenya. Anehnya, waktu itu hasil seduhan selalu berhasil. Crema yang muncul cukup tebal dan cantik. Lalu kenapa ketika saya mencoba sendiri di rumah malah selalu gagal?

Aat menyarankan, air yang digunakan sebaiknya air panas. Tujuannya agar serbuk kopi tidak terlalu matang, karena proses pemanasan akan lebih lama jika memakai air dingin. Lalu ukuran gilingan serbuk kopi dibuat lebih kasar dari ukuran serbuk untuk mesin espresso, tapi lebih halus dibandingkan ukuran serbuk untuk menyeduh dengan dripper. Supaya aliran air tidak terlalu pelan sekaligus tidak terlalu cepat.

Soal ukuran gilingan ini lah yang jadi masalah baru. Karena saya tak punya grinder elektrik, maka saya harus mengandalkan kekuatan tangan untuk mengengkol gilingan. Urusan tidak langsung selesai dengan sekali menggiling. Karena saya harus berkali-kali mencari ukuran gilingan yang pas sampai dapat ukuran serbuk yang cocok. Celakanya, pada gilingan manual, untuk menghaluskan biji kopi hingga sehalus garam dapur butuh waktu dan tenaga lebih.

Proses kalibrasi ukuran gilingan yang melelahkan, ditambah crema yang tak muncul-muncul –padahal sudah mencoba aneka cara, sungguh membuat kesal. Ketertarikan saya terhadap Bialetti Brikka, yang sempat mencapai 90 persen berkurang drastis menjadi hanya tinggal 10 persen. Sisa ketertarikan itu pun lebih karena desain moka pot yang memang cantik dan enak dilihat.

Jadi, apa perlu mengeluarkan uang hingga Rp 500 ribu hanya demi memiliki alat yang lebih cocok untuk dijadikan pajangan? Rasanya tidak.

Untunglah ada Budhi. Terima kasih, Bud! Ha ha ha..

Update, 6 Juli 2017:

Akhirnya setelah 3 hari 3 malam melakukan percobaan, Bialetti Brikka yang saya pinjam dari Budhi berhasil mengeluarkan crema. Rupanya ukuran kehalusan gilingan sangat mempengaruhi. Selain itu, posisi Brikka juga harus dekat dengan api kompor agar panasnya maksimal. Keberadaan crema pada kopi hasil seduhan Brikka rupanya cukup meningkatkan cita rasa. Tanpa crema, kopi yang dihasilkan Brikka terasa flat, ber-body ekstra tebal, dan aroma gosong sangat terasa. Entah sugesti atau memang berpengaruh, tapi crema menghadirkan after taste manis.

Sayang, Brikka masih kemahalan buat saya. Tapi eksperimen mengejar crema ini cukup memuaskan saya. 🙂

Kopi Kok Digunting, Digiling Dong

Sudah menjadi rumus: yang didapat dengan instan akan cepat pergi. -anonim-

Di dalam sebuah kamar hotel melati, Naomi (Marrisa Anita) menyodorkan secangkir kopi kepada Gia (Adinia Wirasti). “Mmm mm mm manis manis,” kata Gia sembari mengerutkan keningnya dan menyerahkan gelas yang baru ia sesap sedikit kepada Naomi. “Kopi di sini semua digulain,” kata Naomi sembari tertawa.

Naomi meneruskan, “Aku pernah pesen kopi enggak pakai gula, udah gitu bapaknya ngeliatin, dipikir aku dukun.” Mendengar cerita ini Gia tertawa. Ia pun bertanya. “Yang paling kamu kangenin dari New York apa? Naomi menjawab, “Rokok di balkon apartemen sambil minum kopi.” Gia menimpali, “Such a good coffe.” Keduanya tertawa.

Dua paragraf itu merupakan penggalan film “Selamat Pagi, Malam” yang disutradarai Lucky Kuswandi. Saya tidak ingin berbicara soal film yang tayang pada Juli 2014 ini. Saya lebih tergelitik di 90 detik adegan–dari durasi 90 menit–antara Naomi dan Gia yang berbicara soal kopi manis di kamar Lone Stars Hotel itu.

Naomi dan Gia merupakan “kawan akrab” (kenapa saya kasih petik, karena ada maksud khusus yang harus pembaca tonton sendiri filmya) jebolan sekolah seni di New York. Naomi lebih dulu balik Indonesia, belakangan Gia menyusul. Perubahan gaya Naomi setelah pulang ke Indonesia ini yang sering membuat Gia berkerut. Salah satunya soal kopi.

Pada awal Februari 2015, Huffington Post menurunkan artikel ringan soal gaya orang Abang Sama (ingat bukan Paman Sam karena pelafalan Uncle dalam Uncle Sam adalah “Angkle” sehingga konsiten dengan AS–Amerika Serika–bukan PS–Paman Serikat). Salah satu bagian artikel menyebut: 52 persen orang Amerika tidak menambahkan gula saat minum kopi, 14 persen menggunakan Splenda, 7 persen memakai gula putih, 4 persen stevia, dan 3 persen sisanya sirup perisa.

So jika ditotal, 52 persen tidak memakai gula atau pemanis sedangkan sisanya pakai. Di Indonesia, saya belum menemukan riset semacam ini, tapi setidaknya saya yakin angkanya bisa lebih banyak yang menggunakan pemanis (baik gula pasir putih-gula rendah kalori-atau susu manis). Wajar jika Gia yang baru tiba dari Amerika sampai berkerut-kerut saking manisnya.

Setidaknya tiap tim #ngopidikantor menyeduh di mana pun, delapan dari sepuluh orang akan bertanya, “Ada gula enggak?”. Tentu kami menjawab: tidak ada dan menjelaskan soal hebatnya kopi spesialiti.

Salah? Mengutip kata-kata Raja Julian (karakter lemur menyebalkan dalam film Penguin of Madagascar), “Ini bukan saatnya main salah-salahan.” “Soal selera,” kata salah satu kawan mencoba berdamai. Nah, kalau mau main salah-salahan, jelas pelakunya adalah: industri kopi sasetan.

Kenapa? Sebab mereka menjual bubuk berperisa kopi tapi dicap sebagai kopi asli. Dengan modalnya yang besar, mereka terus mengkampanyekan bahwa kopi instan adalah sebenar-benarnya kopi. Lihat saja jargon-jargon mereka. Ada yang bilang 100 persen kopi asli, atau biji pilihan terbaik. (Terbaik dari terburuk iya, seorang kawan petani bilang kadang ada industri besar yang mengambil sisa-sisa kopi panen yang jelek).

Saya berani bilang itu kopi perisa dan tipu-tipu karena dari segi harga saja sudah tidak masuk akal. Satu saset kopi dijual seharga Rp 1.500,-, Padahal biji kopi arabika kemasan 250 gram saja harganya antara Rp 80 ribu sampai Rp 90 ribu (ini yang standard). Yang mevvah bisa sampai Rp 200 ribu per 100 gram.

Belum kalau kita menilik komposisinya. Mayoritas industri tidak jujur. Hanya menulis Kopi bubuk 25 persen, lah sisanya apa? Kalau kita googling, lebih banyak bahayanya ketimbang manfaat kopi saset. (Saya sudah meninggalkan jenis kopi ini sejak SMA, selalu mual setiap minum kopi saset). Sisi positifnya berbagi rezeki kepada pedagang kopi keliling. (Tapi saya enggak mau berdebat soal ini, tar kayak larangan tembakau dan petaninya).

Lagian sesuatu yang instan pasti tidak akan meninggalkan kesan (Kecuali mi instan). Makanya ada pepatah Tuhan melihat proses. Pun makanya, kawan saya ditolak gara-gara PeDeKaTe yang terlalu cepet, dah main nembak.

Di sisi lain, dengan memposisikan kopi saset sebagai kopi yang asli, maka kita sudah mengecilkan peran petani kopi yang serius. Bayangkan jika kemudian kopi identik dengan saset. Bagaimana kerja keras petani kopi yang serius. Ya serius dalam hal menanam sampai proses penjemuran alias pasca panen. Mereka ingin menghasilkan kopi terbaik dengan aneka notes.

Kopi-kopi terbaik ini, bukan kopi saset, yang akan diadu dengan kopi luar negeri. Dan kabar baiknya: kopi serius alias spesialti asli Indonesia sudah mulai banyak peminatnya di luar negeri.

Saya khawatir budaya ngopi di Indonesia, mempersepsikan kopi sebagai saset. Tengok pas lebaran, tak sedikit tetangga yang menyediakan stok kopi saset.

Pada akhirnya saya masih menerima kawan-kawan yang mencampur kopi spesialti dengan pemanis (walopun rasanya enggak enak, baru Lebaran kemarin saya mencoba sisa om yang mencampur Arabika Natural dengan gula). Setidaknya mereka mulai menerima kopi spesialti dan meninggalkan saset.

So bongkar kebiasaan lama. Dengan benar-benar membongkar kebiasaan ngopi saset menjadi kopi spesialti giling sendiri.

 

Keakraban Rumahan ala 7Sleepers Coffee

Hampir 30 menit lamanya saya bertinggung di hadapan kloset pada Jumat dini hari, 30 Juni 2017 lalu. Selama itu, lebih dari sepuluh kali saya jackpot alias muntah. Ironis, malam itu saya wasted di toilet ketika sudah hampir setahun tak menyeruput alkohol.

Kalau harus mencari kambing hitam penyebab mabuk kemarin, saya akan menuding dua orang pemilik kafe yang saya kunjungi malam itu, Sandi dan Aat. Beberapa jam sebelum saya tepar di toilet, mereka berdua terus-terusan menyeduh dan menyorongkan bergelas-gelas kopi ke hadapan saya. Tentu saja saya tak kuasa menolak, apalagi kopinya enak. Rupanya hal ini malah membuat saya overdosis kafein.

Mencekoki kopi seakan jadi kebiasaan Sandi dan Aat setiap kali saya datang ke kafe mereka, 7Sleepers Coffee di Jalan Tebet Dalam X, Jakarta Selatan. Padahal saban berkunjung, permintaan saya dibuatkan satu-dua gelas kopi saja. Tapi kemudian saya ingat, saat berkunjung ke 7Sleepers kemarin, perut sedang kosong. Dan nongkrong di 7Sleepers ketika lambung belum terisi adalah kesalahan besar, soalnya di sana belum tersedia makanan. Meskipun, di menu kafe tercantum beberapa pilihan snack seperti croissant, roti daging, bitter ballen, dan sushi.

Sandi (kiri) dan Aat, pemilik 7Sleepers Coffee

“Belum ada nih, tempatnya masih terbatas,” kata Sandi kalau saya menanyakan menu makanan. Pernah sekali waktu, di 7Sleepers saya mencicipi roti goreng isi tuna yang rasanya cukup nendang dan bikin kenyang. Sayang, menu ini tidak tersedia setiap saat. “Masih fokus di kopi dulu.”

Meski belum konsisten dengan menu makanan, kafe 7Sleepers yang buka sejak 7 Mei 2017 sudah punya koleksi kopi dan opsi penyeduhan lumayan lengkap. Di bagian single origin, mereka menyediakan metode seduh pour over, vietnam drip, cold drip (ditulis cold brew), tubruk, dan french press. Harganya mulai Rp 15 – 25 ribu. Sedangkan untuk minuman espresso based, tersedia cappuccino, latte, macchiato, mochaccino, dan affogato. Harganya rata-rata Rp 25 ribu pergelas.

Biji kopi andalan mereka adalah Java Preanger, Minang Solok, atau Bourbon Gayo yang digoreng di Kopi Katalis, Mampang, Jakarta Selatan. Kalau stok sedang banyak, 7Sleepers menjual beans-beans itu dalam kemasan 250 gram. Saat beruntung, ada koleksi beans mancanegara di 7Sleepers, seperti dari Ethiopia atau Kolombia yang bisa dicicipi.

“Kami tidak eksklusif pada biji kopi lokal, karena kopi luar juga enak-enak. Kami ingin orang lain ikut menikmati, dengan harga terjangkau,” kata Aat. Selain menonjolkan harga minuman yang murah, Aat dan Sandi ingin pengunjung kafenya merasa betah seperti di rumah sendiri. Untuk menerjemahkan konsep “rumahan” itu, mereka kerap menyeduhkan kopi kepada tamu, padahal tidak diminta. Cara ini efektif membuat pengunjung (seperti saya) kerasan.

Cupping di 7Sleepers Coffee

Hal lain yang membuat kafe ini enak ditongkrongi adalah keberadaan turn table plus sejumlah keping piringan hitam. Koleksinya mulai dari Barry Manilow, Morrissey, sampai Arctic Monkeys. Jika pemutar piringan hitam tidak dinyalakan, Sandi akan memasang lagu dari ponselnya yang disambungkan ke pelantang suara. Pilihan lagunya selalu oke untuk membangun mood santai. “Kalau mau pilih lagu sendiri juga boleh.”

Di kafe ini tersedia jaringan internet melalui WiFi, sehingga layak dijadikan tempat bekerja. Tapi saya lebih memilih mengobrol dengan Sandi dan Aat kalau sedang main ke 7Sleepers. Terlebih Aat senang bercerita soal kisah hidupnya yang penuh warna. Pria 38 tahun ini pernah menjadi anak punk, sampai akhirnya kini mempelajari tasawuf sekaligus praktisi tarian sufi (tarian Dervish).

Saya membayangkan, mungkin kisah hidup Aat itu lah yang membuat Sandi sering nongkrong di kedai kopi milik Aat di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, pada tahun lalu. Ya, sebelum membuka 7Sleepers bersama Sandi, Aat punya kedai kopi semipermanen berbentuk gerobak bernama The Shelter. “Kopi ini kan minumannya Nabi, ada nilai filosofis dan religiusnya,” ujar Aat menyebut alasan dia memilih berbisnis kopi.

Karena sering bertemu, Aat lalu mengajak Sandi membuka kedai bersama-sama. Waktu itu The Shelter baru berjalan setengah tahun. Aat ingin punya tempat berjualan kopi permanen. “Capek kalau di gerobak,” kata dia. Gayung bersambut, Sandi yang sudah lama gemar ngopi dan punya mesin espresso di rumahnya, memang bercita-cita punya kafe sendiri.

Setelah mematangkan ide dan menyamakan visi, mereka lalu mulai mencari tempat. “Awalnya mau buka di sekitar Fatmawati atau Cipete, Jakarta Selatan, tapi harga sewa tempat terlalu mahal,” kata Sandi. Kebetulan salah satu teman mereka, Essam, menawarkan paviliun kantornya di Tebet untuk dijadikan kafe. “Jadilah saya, Aat, dan Essam patungan untuk membangun 7Sleepers.” Nama 7Sleepers diambil dari kisah Ashabul Kahfi, atau 7 pemuda Efesus yang mengasingkan diri di gua pada tahun 250 sebelum masehi. “Kami terinspirasi kisah ini,” ujar Sandi.

Suasana 7Sleepers Coffee

Dua bulan berjalan, 7Sleepers belum terlalu ramai dikunjungi konsumen umum. Para regulars 7Sleepers adalah teman-teman Sandi atau Aat sendiri. Di depan kafe pun hanya ada satu papan bertuliskan menu-menu kopi yang disediakan, belum ada plang penanda kafe ini. Kapasitas bangku dan meja di kafe juga belum terlalu banyak. “Pelan-pelan lah,” ujar Sandi.

Sandi berkeinginan 7Sleepers menjadi semacam kuali lebur bagi para konsumennya. Sejauh ini, kalau saya boleh menilai, dia cukup berhasil. Sandi selalu mengenalkan setiap tamunya ke tamunya yang lain. “Karena sifatnya rumahan, gue maunya orang nyaman di sini, bisa cair dan saling akrab.” Para pengunjung yang kebanyakan teman-teman Sandi sendiri akhirnya mengajak teman-temannya yang lain untuk ngopi di sana.

Dengan segala keterbatasannya, 7Sleepers buat saya sudah cukup asik buat nongkrong berlama-lama. Pun, meski sudah dibuat menderita akibat mabuk kopi pada malam Jumat lalu, saya tak kapok kembali ke kafe ini. Setidaknya sekarang saya menyiapkan diri dengan mengisi perut sebelum bertandang ke sana lagi.

*Foto-foto oleh Budhi Santoso

Aeropress dan Espresso untuk Pasangan Kamu

URUSAN beli alat kopi bisa jadi “pelik” jika sudah berkeluarga. Setidaknya itu yang saya–sebagai lajang–tangkap dari kawan-kawan #ngopidikantor yang sudah berkeluarga. “Harus mengajukan proposal ke is3 dulu,” begitu kata Praga, salah seorang kawan yang wajahnya mirip Rio Dewanto, ketika sedang membahas apakah perlu membeli Bialeti Brikka. (Ini salah satu tulisan Praga)

Kemudian, banyak cara kreatif dari para suami untuk “menyuap” istrinya. Salah satu yang paling ampuh, berdasarkan riset di #ngopidikantor, adalah dengan rajin membuatkan Affogato. Yups, hidangan penutup campuran antara espresso dengan es krim. Tak tanggung-tanggung si kawan membuat affogato dengan es krim Walls Magnum. “Biar lebih mevvah,” kata dia.

Nah, yang menarik kawan ini tidak membuat espresso dengan mesin macam La Marzoco atau Simonelli. Jangankan mesin yang harga satu unitnya sudah bisa buat DP rumah tipe 36 di Cisauk, Tangerang, barang seperti Handpresso atau Rokpresso saja si kawan tidak punya. Dasar kekuatan kepepet demi membeli alat, si kawan menggunakan Aeropress untuk membuat espresso. (Belakangan Praga pemer punya Bialeti).

Tim #ngopidikantor mulai iseng-iseng menggunakan aeropress untuk membuat espresso pada awal Maret lalu. Suatu pagi, salah satu editor situs ini, Anton Septian, datang dan pamer hasil kuliah dia di Universitas YouTube: Cara Membuat Espresso dengan Aeropress. Hasilnya: krema dari espresso juga muncul. Rasanya pun boleh dibilang cukup.

Nah untuk tahu bagaimana caranya bisa lihat di video ini. Kalau sudah nonton bisa lanjut ke alinea di bawah. Sebab, saya tidak akan bicara langkah-langkah yang sudah jelas di YouTube itu. Tapi saya akan bicara beberapa hal yang perlu diperhatikan jika ingin membuat espresso dengan Aeropress atau kami sebut sebagai Aeropresso.

1. Gelas Penadah Kuat
Jangan berpikir untuk menekan Aeropresso di server semacam Yami atau Hario. Kacanya yang tipis bisa pecah. Sebab, untuk menghasilkan espresso dari Aeropress dibutuhkan daya tekan yang luar biasa besar. Entah berapa bar karena enggak pernah hitung. Tapi sebagai gambaran Handpresso saja memiliki tekanan sampai 16 bar. So #ngopidikantor menyarankan pembaca menggunakan gelas selai (jar glass) yang lebih tebal dan kuat.

2. Punya Tenaga Besar
Berat badan saya 90 kilogram (sekarang turun jadi 85 kilogram #penting) ketika mencoba Aeropresso pertamakali. Dengan berat seperti itu saja kadang si plugger Aeropress tidak mau turun. Malahan dia mendorong balik ke atas karena tekanan panas dan bubuk kopi yang rapat. So kalau berat badan pembaca di bawah saya dan tidak pernah olahraga, saya sarankan cari kawan yang mau membantu. (NB: Jangan percaya video YouTube yang keliatannya gampang banget pas di tekan. Berat bos).

3. Jangan Layani Permintaan Masal
#ngopidikantor menggunakan 15 gram kopi giling halus. Menggunakan rasio 1:2, hasil akhir espresso tidak lebih dari 30 gram. Saya saja berpeluh ria ketika pertamakali menekan Aeropresso. Bayangkan jika ada banyak orang yang minta dibuatkan Espresso dengan modal Aeropress. Saya berani jamin kita bakal gempor kebanyakan menekan. Tangan rasanya cenut-cenut. Syukur ada yang mau bantu gantian menekan. Kalau tidak? gempor tangan.

4. Punya Gebetan, Pacar, atau Istri
Ini syarat paling penting, kalian tidak perlu berepot-repot dengan trik ini jika masih melajang atau jomblo. Siapa yang mau kalian pamerin? Kalau masih jomblo dan ingin Affogato, datang saja ke kafe, siapa tahu dapat gebetan.

Tips dari Mas Aji, founder #ngopidikantor: Selipkan potongan dadu cupscake (saya berimprovisasi dengan Oreo dan cheese cake) di bawah es krim agar si dia semakin jatuh hati.

***

“Repot ya,” begitu batin Pemred #ngopidikantor, Yos Rizal, suatu siang saat kami berkunjung ke rumahnya. Sambil mesem-mesem melihat rekan-rekannya membuat Aeropresso, Mas Yos mengeluarkan Rokpresso. “Coba pakai ini saja,” kata dia. Seketika itu juga derajat Aeropresso langsung anjlok.

Tapi tidak bagi saya, Aeropresso tetap punya kenangan dan cerita sendiri dalam sebuah perjalanan. Yups, siapa juga mau repot-repot bawa Rokpresso ketika traveling dengan si dia.

Sesungguhnya, Itu Hanya Alat

PADA suatu waktu ketika saya kedatangan tamu kerabat. Penampilan alat seduh kopi V60 dengan ceret leher angsa, dripper, saringan (filter) kertas, dengan dibumbui cerita tentang kopi hasil comot sana, comot sini, ditambah sedikit gaya menyeduhnya ”memukau” para tamu—yang hanya kenal menyeduh kopi sachet menggunakan ceret dapur biasa.

Hasil seduhan, itu urusan kemudian.

Setelah membuat tamu terpesona—ini sebenarnya hanya perasaan saya saja—kemudian, datanglah ”godaan” yang menghadang: ingin mencoba alat seduh lain.

Berkumpul dengan sesama anggota komunitas #ngopidikantor, saling tukar informasi tentang kopi ditambah melihat atau mendengar ada teman yang baru membeli barang makin menumbuhkan hasrat membeli alat baru.

Kita tahu, kini segudang alat-alat seduh kopi dijajakan, di kafe-kafe dan toko online. Aneka gimmick penjualan, diskon besar-besaran disertai foto-foto produk yang kinclong jadi sangat menggiurkan. Menggoda iman.

Membeli barangnya pun sangat mudah. Hanya butuh komputer untuk meng-klik lantas mentransfer uang tanpa harus beranjak dari kursi. Satu-dua hari kemudian barang pesanan sudah di tangan. Semudah itu.

Membuka situs online ibarat melewati etalase toko di mall. Kita “dipaksa” atau memaksakan diri menyaksikan etalase yang menampilkan barang menggiurkan untuk dibeli meskipun banyak yang tidak dibutuhkan.

Saya termasuk yang tergiur.

Saya browsing di sebuah toko online yang menjual kopi dan alat-alat seduh kopi terkenal di Indonesia. Toko ini menyediakan bermacam-macam alat seduh mesin dan manual serta perlengkapannya, gilingan kopi manual dan yang menggunakan listrik, dan banyak lagi yang berhubungan dengan kopi. Barang-barangnya dipajang menarik untuk dilihat. Siapa tahu ada yang bisa dibeli.

Mulai dari seduh manual. Pilih Brewers (toko ini sebagian besar menggunakan bahasa Inggris), klik Syphon. Prosesnya agak unik. Air di bola kaca di bawah mengalir ke wadah berisi kopi di atasnya bila dipanaskan. Kemudian air kopi mengalir lagi ke bola di bawah. Di bawah bola kaca terdapat api untuk pemanas air menggunakan spiritus, gas, listrik, dan yang paling baru halogen (beam).

Alat seduh ini menarik untuk atraksi menyeduh. Konon, proses nyeduh menggunakan syphon yang unik itu sering membuat hadirin dalam acara #ngopidikantor terpesona. Pertama kalinya saya mencicipi hasil seduhan syphon di MM Café, Bogor. Semua rasa jadi smooth di lidah. Saya tertarik untuk membeli.

Pilih Brewers, klik Chemex. Bentuknya cantik seperti tubuh wanita mengenakan baju ketat dan ikat pinggang lebar. Kalau diperhatikan alat ini mirip V60 bedanya dripper dan server-nya dijadikan satu. Praktis. Dua alat menjadi satu. Saya tandai untuk membeli.

Pilih Brewers, klik All in One Coffe Maker. Klik Cafflano. Seperangkat Cafflano all in one coffee maker ini terdiri atas: drip kettle yang merupakan bagian tutup atas digunakan sebagai ceret, foldaway hand-mill grinder adalah penggiling mini, metal filter dripper penyaring  yang terbuat dari bahan metal, dan tumbler cup yang berbahan stainless steel.

Karena bentuknya kecil alat ini jadi mudah dibawa ke mana-mana. Siapa tahu bisa dibawa mudik Lebaran. Saya pertimbangkan untuk membeli.

Masih di Brewers ada Espro Coffee Travel Press. Proses nyeduhnya sama dengan french press kelebihannya hasil seduhnya bisa tetap panas sampai 4-5 jam seperti termos dan bisa dibawa ke mana-mana. Nah, seandainya punya alat ini saya bisa ngopi di mobil dalam perjalanan. Saya tertarik untuk membeli.

Ceret yang saya punya masih model yang kecil dan murah. Saya akan mencari model yang baru dan besar.

Pilih Brewers lalu klik Kettles. Hampir seratus model ceret leher angsa beragam merk dan berwarna-warni, masing-masing seperti menonjolkan keindahan bentuknya. Ada yang ceret biasa dan ada ceret yang menyatu dengan kompor listrik dilengkapi pengatur suhu. Three in One. Nah, ini incaran saya.

Perjalanan terakhir, pilih Equipment klik Espresso Machine. Di situ tersedia Automatic, Manual/Semi Automatic Machine and Coffee Maker. Saya tak tertarik.

Syphon yang saya incar out of stock ketika saya akan meng-klik beli. Petugas toko tidak tahu kapan datang lagi barangnya. Sementara itu teman saya bilang, sebetulnya proses kerja Syphon sama dengan menyeduh kopi tubruk. Betul juga. Meskipun masih berharap, saya jadi mikir lagi untuk membeli. Bagaimana dengan Chemex? Proses seduh Chemex sama dengan V60 yang seperti biasa saya gunakan. Kenapa mesti beli?

Cafflano dan Espro menarik untuk dimiliki, tapi khawatir tak banyak terpakai karena saya sekarang banyak berada di rumah dan tidak mudik. Sedangkan ceret three in one itu memang praktis, tapi kalau saya beli, ceret, pemanas air listrik, dan termometer yang lama bisa tak terpakai. Mubazir.

Walhasil, saya seperti pulang dari mall dengan tangan hampa. Tak ada yang jadi dibeli.

Singkat cerita, saya pun kembali ke alat seduh semula: french press dan V60. ”Gini aja udah senang sayanya”, meniru kata Aji Yuliarto dari #ngopidikantor. Lagi pula, V60 sudah mampu mengeluarkan kompleksitas rasa, kata Didin Natadisastra, ahli seduh dan Manager MM Café, Bogor.

Itulah, kalau hendak membeli sesuatu saya selalu mempertimbangkan apakah butuh atau tidak. Bukan suka atau tidak. Sifat yang sulit dihilangkan (apalagi kalau duit lagi pas-pasan).

Pada akhirnya, terlalu banyak pertimbangan atau perhitungan seperti itu kita seperti tidak menikmati hidup, kata sebagian orang. Padahal, sekarang begitu banyak jenis alat seduh kopi yang bagus, unik, dan indah untuk dikoleksi. Seyogyanya, kalau memang mampu membeli tak usah mempertimbangkan perlu atau tidak. Beli saja dan nikmati, mengapa tidak?

Carpe diem. Reguklah hari.

#NgopiDiJogja: Ngopi Dikepung Kenangan?

JANGAN sekali-kali punya pacar di Jogja sebab kau akan terperangkap kenangan manakala kembali ke kota ini. Jogja saja sudah sesak oleh kenangan, apalagi kalau punya mantan. Itu kata beberapa orang yang pernah tinggal di Jogja.

Saya tak setuju. Ungkapan tadi hanya untuk orang-orang berhati lemah! Saya pernah punya pacar di Jogja (dan tinggal tujuh tahun di sini), tapi yang saya inginkan ketika kembali ke sini adalah menjelajahi kedai-kedai kopinya, bukan menziarahi kenangan. Long live coffee snobs!

Sayang sekali karena waktu yang sempit dan urusan yang padat, hanya tiga kedai kopi yang bisa didatangi pada saat saya ke Jogja, pekan pertama puasa tahun ini. Tiga kedai ini dipilih secara acak dan kebetulan. Acak karena tak direncanakan jauh-jauh hari. Kebetulan karena diajak teman ke sana atau pas saya dekat dengan lokasi kedai.

Saya tak akan bilang enak atau tidak enak. Tiap kopi punya karakter. Tiap barista punya keandalan.

 

Cafebrick

Berkonsep kafe, Cafebrick menyediakan menu casual dining juga. Saya datang ke menjelang magrib bersama seorang teman. Dialah yang memilih kedai kopi di Jalan Damai ini—bila Anda menuju Kaliurang, di sekitar kilometer 8 belok kiri. Ceritanya sih untuk buka puasa. Maka, menu yang dipesan pertama-tama adalah makanan untuk berbuka.

Selanjutnya tentu saja saya pesan kopi. Saya memilih Gayo Wine karena penasaran dengan rasanya. Diembel-embeli “wine” karena konon notes wine-nya terasa banget. Saya pesan kopi ini diseduh dengan V60. Cafebrick bisa menyeduhkan pesananmu dengan Chemex, flat-bottom, Aeropress, hingga syphon. Mereka juga menyediakan kopi berbasis espresso. Tapi itu kan “gelombang kedua”.

Benar saja, saat kopi saya datang, wangi anggurnya menguar. Sebagaimana kopi lainnya yang diproses natural, rasanya pun manis. Tapi notes atau jejak rasa alkoholnya sangat kuat. Ini karena permentasi yang optimal pada saat proses pascapanen. Sebagian orang bilang karena fermentasi berlebihan. Apapun, Gayo Wine patut dicicipi.

Per sajian Gayo Wine dapat dinikmati dengan Rp 40K. Lainnya, Rp 24K—diseduh dengan alat seduh manual apapun.

 

Studio Kopi

Kedai kopi ini punya banyak koleksi biji kopi, dari dalam maupun luar negeri. Studio Kopi tak hanya menyeduhkan kamu kopi, tapi juga menjual bijinya.

Tempat ngopi yang terletak di Babarsari ini juga sebuah roastery. Mereka punya Ruang Sangrai, yang khusus menyangrai kopi. Menurut seorang pengelolanya, mereka membeli kopi dalam bentuk green beans, lalu menyangrainya sendiri.

Saya datang ke sini malam-malam dan memesan Puntang Natural diseduh dengan V60—ini standar saya menyeduh kopi. Entah kenapa saya pesan kopi ini. Saya lupa. Hasil seduhannya di bawah ekspektasi saya.

 

Analog

Pengakuan: saya datang ke sini karena “kecelakaan”. Sebetulnya malam itu saya bersama seorang teman hendak ke Klinik Kopi di sekitar Jalan Kaliurang KM 7,8. Bukan karena kedai itu merupakan salah lokasi syuting film AADC 2 saya hendak kemari. Teman saya merekomendasikannya karena tempat dan kopinya yang asyik. Tapi pada Ahad malam itu Klinik Kopi tutup.

Kami kemudian mendatangi beberapa kedai kopi. Sayangnya, pada pukul sembilan malam lewat itu, kedai-kedai itu tak buka. Belakangan kata beberapa teman, bukan karena sudah lewat pukul sembilan malam tempat minum kopi tutup, sejumlah kedai di Jogja memang libur pada malam Senin.

Kami lalu melaju ke Selokan Mataram. Teman saya ingat bahwa di utara kampus UNY, dekat perempatan Kanisius, ada sebuah kedai kopi kecil yang ia lupa namanya. Dia sendiri belum pernah kemari.

Bolehlah. Yang penting ngopi dulu. Besok pagi saya pulang ke Jakarta.

Setibanya di kedai kopi yang kemudian kami tahu namanya Analog, saya pesan Gayo Heirloom. Nama “heirloom” biasanya menempel di kopi Ethiopia. Mungkin gara-gara itu saya ingin mencicipinya.

Saya minta pesanan saya diseduh dengan V60. Alasannya, hasil seduhan lebih seimbang ketimbang diseduh dengan Chemex atau Kalita Wave, dan mengoptimalkan notes kopi. Tapi ini kita bahas lain kali.

Saat disesap, kopi bersih dari jentik-jentik pahit. Sebagaimana kopi asal Gayo, varietas ini berbodi tebal. Kenang rasanya teh dan tebu lamat-lamat.

Beck, salah seorang pengelola Analog, bercerita bahwa kopi tersebut diperoleh dari The Creator, roaster di daerah Terban. Semula biji kopi Gayo Heirloom yang belum disangrai akan diekspor ke luar negeri. Tapi karena pengurusan ekspor yang lama, akhirnya beans dilepas di dalam negeri.

Yang membuat rasanya unik, kata Beck, kopi tersebut diproses dengan cara Kenya (Kenyan washed). Bila pada proses “washed” umumnya kopi hanya dicuci sekali lalu dibiarkan berfermentasi dan kemudian dikeringkan, dengan proses Kenya kopi dicuci dua kali dan berfermentasi dua kali pula.

Oya, harga segelasnya Rp 20K.

 

Demikianlah, penziarah kenangan. Ini bukan catatan terakhir saya tentang ngopi di Jogja.

Kloset dan Cita-Cita Rasa Kopi

Seseorang yang baru saya kenal di akun Instagram @nyeduhdikebun melontarkan pertanyaan menggelitik: “Apa efek dari lubang ala kloset di Kalita Syphon, Bro?”

Kloset? Saya yang masih terheran-heran dengan aneka rupa alat kopi dihadapkan dengan pertanyaan yang bisa membuat saya berpikir ulang untuk mencintai ritual menyeduh kopi. Kenapa ada alat kopi serupa kloset, yang notabene terkesan menjijikkan, di tengah-tengah alat yang secara desain sangat cantik, bahkan ada yang bergaya art-deco dan telah masuk dalam Museum Modern Art di New York?

Syphon (bukan Kalita Syphon, beda bentuk dan produsen), misalnya, siapa yang tak terkesan dengan bentuknya? Jika tidak digunakan sebagai alat seduh pun, produk yang ditemukan pada 1925 ini tetap sangat layak menjadi collectible item yang mengisi dekorasi ruang tamu. Orang awam yang melihat ritual menyeduh kopi dengan alat ini juga akan terkesima: mereka serasa menyaksikan atraksi ala sulap. Air di kaca bulat di bagian bawah, yang dipanaskan dengan api, dengan indahnya naik ke tabung di atasnya dan turun lagi dengan warna yang sudah berubah: pekat. Air itu adalah kopi. Dan rasanya… hmmm… begitu sedap. Inilah keindahan Syphon, juga Moka Pot yang bekerja dengan sistem yang sama, dan Chemex, yang membuat mereka bertengger di museum ternama tersebut.

Di tengah peralatan bernilai artistik itu tiba-tiba datang si “buruk rupa”, eh “buruk sebut” ini. Kawan baru itu rupanya begitu memperhatikan lubang tunggal dan ventilasi air di samping dripper ini. Semula saya yang melihat ventilasi itu seperti jendela, lantaran pertanyaan itu, segera mengambil dripper tersebut. Saya memperhatikan bahwa lubang Kalita Syphon, yang memiliki kertas penyaring (paper filter) serupa Kalita Clever itu, terletak di bawah dekat tepi dripper. Di ventilasi air yang menyamping, setelah saya buka, menyembul saluran yang berakhir ke lubang itu. Bentuk dripper ini, setelah saya amat-amati, olala… betul juga: mirip kloset.

Lubang dripper ini cuma satu, tak seperti flat-bottom dripper lain produksi perusahaan Jepang itu, yang umumnya berjumlah tiga. Kalita Clever, misalnya, berlubang tiga dengan dinding-dinding yang trepes (bersudut 60 derajat). Drat-drat (ribs) di sepanjang dinding yang meneruskan laju kopi di dripper jenis ini berbentuk lurus vertikal menuju lubang. Begitu pula Kalita Wave, produksi paling populer mereka. Dripper ini juga berlubang tiga. Bedanya, sulur-sulur di dinding dripper ini berbentuk lingkaran, mirip gelombang.

Memang ada dripper yang berlubang satu dan terletak di tengah. Alat seduh ini dikeluarkan oleh Brewista. Tapi perusahaan ini menerapkan sistem buka tutup–mirip pintu tol yang sibuk menghadapi pemudik yang membeludak :). Alat seduh lain, yaitu Abid Clever dan Budget Clever, juga menggunakan lubang tengah, tapi memakai sistem klep yang bisa membuka sendiri setelah diletakkan di atas server atau penampung kopi dan menutup otomatis manakala dripper diangkat kembali.

Pada Kalita Syphon, lubang itu tak berada di tengah. Aliran air juga harus menumbuk dasar dulu sebelum mengalir ke samping melewati ventilasi sebelum keluar lewat saluran kloset itu. Pertanyaannya, mengapa cuma satu lubang? Mengapa di pinggir, bukan di tengah? Mengapa berbeda dengan dripper lain yang sudah lebih populer? Apa pula guna lubang-lubang itu?

Pertanyaan berikutnya: apa sebenarnya yang ada di kepala para pencipta dripper itu, juga V60 produksi Hario, Kono, Kinto daĺn lain-lain, ketika memutuskan membuat satu atau tiga lubang? Mengapa tidak lima lubang? Mengapa bersudut 60 derajat, bukan lebih atau kurang? Apa sesungguhnya yang hendak dicapai dari berbagai bentuk alat pour over itu? Mengapa ada sulur berbentuk gelombang, spiral atau lurus? Saya yang diminta menjawab rasa ingin tahu kawan baru itu justru ikut-ikutan melontarkan pertanyaan.

Saya pun berkelana ke tiga penjuru untuk mencari tahu. Pertama membaca manual paper–karena cuma selembar, bukan manual book–alat ini. Saya tak menemukan informasi spesifik tentang jumlah dan letak lubang itu di manual paper produk ini. Datang ke toko yang khusus menjual alat-alat kopi produksi Kalita di sebuah mal di BSD, Serpong, juga tak menemukan jawaban memuaskan. Pelayannya tampak lebih senang saya minum kopi di kedai mereka atau langsung membeli alat mereka tanpa banyak cingcong. Seorang pelayan cuma menjawab pendek, “supaya kopinya lebih strong“, lalu melanjutkan melayani orang lain yang tak secerewet saya. Agar rasa kopi lebih kuat? Bagaimana penjelasannya? Nihil.

Nah, dari berkelana ke jagat maya, meski tak mendapat informasi spesifik soal lubang tunggal itu, saya menemukan cerita-cerita menarik tentang sejarah penemuan beberapa alat dan penyaring kopi. Benang merah dari kisah mereka adalah: di balik penciptaan alat-alat kopi tersebut ada petualangan rasa. Ada sebuah “cita-cita rasa” sebelum para penemu itu membuat alat seduh atau metode menyaring kopi ala mereka sendiri.

Melitta Bentz misalnya. Ibu rumah tangga dari Dresden Jerman yang berusia 35 tahun pada 1908 itu mulanya mengeluh pada rasa pahit dari seduhan alat yang ada. Ia yang ingin membahagiakan suaminya dengan kopi yang tak pahit pun berpikir mencari alat yang bisa menyaring rasa pahit. Ia kemudian menyobek kertas dari buku catatan pelajaran anaknya dan mengubahnya menjadi filter kopi. Inilah cikal bakal paper filter yang kemudian mendunia.

Filter dadakan yang ia bikin itu ternyata jauh mengurangi rasa pahit. Ia pun bereksperimen menggunakan berbagai bahan kertas dan mencari bentuk ideal filter. Filter temuannya itu ia beri nama Filter Top Device. Bentuknya persis seperti filter Kalita Clever atau Abid Clever. Ia yang kemudian mendirikan perusahaan paper filter juga yang pertama menciptakan konsep dripper. Mula-mula ia membuat dripper dengan delapan lubang, sebelum berakhir dengan satu lubang dan dengan metode immersion (perendaman). Bentuknya persis sama dengan Kalita Clever yang datang kemudian.

Sejak temuan Melitta itu, alat-alat baru yang hampir mirip bermunculan. Mereka membuat variasi jumlah lubang, bentuk dan sulur aliran kopi. Yang paling populer adalah V60 produksi Hario yang muncul paling belakang, yaitu pada 2005. Jepang yang notabene bukan negara penghasil kopi kemudian menjadi pemain utama industri alat seduh manual itu.

Alan Adler, ahli kimia dan pengusaha mainan dari Amerika Serikat, juga mula-mula mendambakan alat yang bisa mengeluarkan rasa yang seimbang dan bisa memproses kopi dengan cepat, tak bertele-tele seperti yang ia saksikan saat itu. Jadilah, lewat garasi rumahnya, ia merancang sebuah alat yang kemudian sangat populer: Aeropress. Hasilnya, cukup dengan menekan plunger, ia sudah bisa mendapatkan kopi tanpa ampas dalam waktu yang cepat.

Petualangan rasa inilah yang menjadi kunci dari penemuan dari tiap alat seduh. Pada Melitta, ia mendambakan “rasa yang tak pahit”. Pada Adler, ia menginginkan  “rasa yang seimbang”. Begitu pula dengan Peter J. Schlumbohm yang menemukan Chemex pada 1941 demi mendapatkan “kopi yang kaya rasa”. Pada Kalita Syphon, begitu pula semestinya Kalita berkreasi. Dari tiga komponen utama: body, fruity dan acidity pada setiap kopi, setiap alat seduh tentu punya tujuan menaikkan satu, dua atau ketiga komponen rasa itu. Dalam bahasa barista supersibuk di mal itu, perusahaan ini ingin “membuat rasa kopi lebih kuat”.

Rasa kopi yang kuat-tak kuat atau pahit-tak pahit itu saya cicipi pertama kali di acara #ngopidikantor tahun lalu. Saat itu saya diminta memilih alat seduh untuk kopi yang tersedia. Ada empat alat pilihan di meja: V60, Kalita Wave, French Press, Vietnam Drip. Saya yang tak tahu apa beda masing-masing alat itu cuma bilang, “Saya tak suka yang pahit.” Maka seorang barista amatir, begitu awak #ngopidikantor menyebut diri, mengambil Kalita Wave. Tak seperti kawan baru yang kritis itu, saya tak melontarkan pertanyaan apapun: misalnya, kenapa bukan alat lain? Saya justru pasrah bongkokan.

Belakangan setelah membaca beberapa sumber, saya memperoleh pengetahuan tentang waktu ekstraksi. Semakin lama air tuang bersentuhan dengan kopi, maka semakin lama kopi akan berekstraksi. Jika ekstraksinya optimal maka akan mengeluarkan semua rasa. Jika over extraction, kopi pun menjadi kelewat pahit. Di sinilah bentuk, ruang-ruang dalam alat seduh, titik keluar aliran kopi, jumlah lubang, juga drat-drat aliran air dalam setiap dripper memainkan peran utamanya.

Dengan penjelasan yang masuk akal itu, saya kemudian memberanikan diri menjawab pertanyaan kawan yang iseng tapi serius tentang kegunaan lubang dripper ala kloset itu. “Biar ekstraksinya lebih lama, sehingga rasa kopi lebih kuat,” begitu saya menjawab dengan percaya diri.

Menunggu lama, jawaban itu ternyata tak bersahut. Saya menduga ia puas dengan jawaban saya. Atau sebaliknya: ia justru menyesal telah mengajukan pertanyaan pada penikmat kopi amatiran ini. Salah siapa, orang bodoh kok ditanya :).