#NgopidiJepang: Menikmati Kopi di Negara Terbaik di Dunia

Pada bulan April tahun ini, berbekal tiket promo, saya dan keluarga saya jalan-jalan ke negara yang kata orang-orang “negara terbaik di dunia” – entah apa alasannya – yaitu Jepang.

Selain mengunjungi obyek-obyek wisata di negara yang sangat tertib dan menurut saya selera desainnya – untuk segala hal dari mulai desain pakaian hingga papan penunjuk arah di jalan – sangat tinggi ini, saya dan Ayah saya yang kebetulan juga penggemar kopi, menyempatkan diri untuk mencoba 2 toko kopi di sana.

Dua toko kopi yang kami kunjungi adalah ‘Fuglen’ di kota Tokyo dan ‘Kurasu’ di kota Kyoto.

Kami sadar bahwa keinginan mencoba kopi single origin di Jepang akan jadi hal yang sia-sia karena Jepang bukan negara penghasil biji kopi. Toko-toko kopi di sana pasti membeli biji kopi dari negara lain.

Namun,didorong oleh rasa penasaran kami serta keinginan saya untuk menambah konten di akun Instagram (hehe), saya dan Ayah saya tetap pergi. Alasan lain kami keukeuh #ngopidiJepang adalah ketersediaan kertas penyaring kopi (filter) di hampir seluruh mini mart yg kami kunjungi. Akhirnya, kami berkesimpulan bahwa menyeduh kopi secara manual adalah kebiasaan di banyak rumah tangga di sana. Ini membuat kami penasaran akan kemampuan menyeduh para Barista lokal.

First (coffee) stop, Fuglen.

Yang ada di pikiran saya pertama kali begitu memasuki toko kopi bergaya Skandinavia ini adalah, “Wah, semua orang yang datang ke sini seolah-olah ‘keluar’ dari majalah Monocle”. Jika Anda pernah atau sering membaca “kitab kaum Hipster” ini, Anda pasti memperhatikan bahwa kebanyakan orang-orang yang ditampilkan di majalah ini berbusana “kekinian” : Cardigan, celana 7/8, sepatu pantofel, kacamata bulat.

Ya kira-kira begitulah penampilan para pengunjung Fuglen yang saya perhatikan sore itu. Hal lain yang saya perhatikan adalah banyaknya jumlah pengunjung bule dari Eropa Timur, jika saya tidak salah menginterpretasikan bahasa mereka.

Di Fuglen saya memesan Hot Latte sedangkan Ayah saya memesan kopi El Guayabo dari Honduras dengan teknik seduh pour over menggunakan Kalita wave.

Sambil menunggu pesanan kopi kami, saya mencari tempat duduk yang kosong. Agak susah, karena hari itu Fuglen tampak ramai pengunjung. Entah karena tempatnya yang relatif kecil atau karena memang toko kopi ini salah satu yang paling populer di Jepang. Walaupun ramai, Fuglen tetap terasa tenang bagi saya karena kebanyakan para pengopi di sana datang untuk numpang bekerja. Jadi, mereka tampak fokus dengan laptop masing-masing tanpa ngobrol sedikit pun dengan orang lain. Mereka yang datang dengan beberapa teman tanpa membawa laptop juga tampak mengobrol dengan suara sangat pelan. Tampaknya ini budaya Jepang yang dipatuhi di tempat manapun di negara ini.

Setelah si Barista menyerahkan pesanan kami, kami berjalan ke tempat duduk kami di area luar untuk menikmatinya.

Hot Lattenya tidak meninggalkan kesan apa-apa buat saya. Sebaliknya, Ayah saya langsung jatuh cinta pada sesapan pertama ketika minum kopi pesanannya. Beliau langsung memutuskan untuk membeli biji kopinya untuk dibawa pulang. Saya yang nyicip kopi ini juga berpendapat bahwa kopi ini enak. Bodi medium bercampur dengan note jeruk dan coklat. Tipe rasa kopi yang saya sukai. Meskipun begitu, untuk dijadikan favorit, saya masih memilih biji kopi lainnya yang tidak dijual di Fuglen 🙂

Terlepas dari ini, pengalaman ngopi di Fuglen adalah salah satu yang paling menyenangkan bagi saya. Ada rasa gembira yang saya tidak temukan alasannya. Mungkin ini yang disebut anak-anak jaman sekarang sebagai positive vibe. Bisa jadi karena sore itu udara dan suasana Tokyo terasa pas untuk menikmati kopi sambil melihat para penduduk lokal yang berjalan pulang ke rumah masing-masing  – kebetulan Fuglen berlokasi di dekat daerah perumahan – mengenakan pakaian kantor yang stylish. Bisa jadi karena saya berhasil membeli server dan manual grinder impian saya yang ternyata dijual di Fuglen dengan harga lebih murah daripada di Indonesia.

Saya cukup yakin karena alasan yang ke-dua.

Beberapa hari setelahnya, saya dan keluarga saya pindah ke Kyoto, tempat coffee stop ke-dua kami, Kurasu.

Suasana di Kurasu banyak berbeda dengan Fuglen. Meskipun sama-sama kecil dan tampak menjadi tempat pilihan orang-orang untuk bekerja, Kurasu terasa seperti toko kopi sederhana di dekat rumah Anda di mana Anda sering tak sengaja bertemu dengan orang yang Anda kenal. Hangat oleh sapaan serta senyuman dari sesama pengunjung serta dari para Barista.

Menu kopi saya dan Ayah saya pagi itu adalah Tropical Paradise dari Dominika dan Popayan Cauca dari Kolombia. Lagi-lagi pesanan Ayah saya lebih enak. Hampir mirip dengan kopi yang dipesan beliau di Fuglen, note jeruk dan coklatnya bercampur dengan seimbang, namun yang saya rasakan ada sedikit rasa anggur dan rempah. Bikin nagih 🙂

Tapi, keinginan saya untuk membawa pulang biji kopi Kolombia ini akhirnya kalah dengan keinginan saya untuk membeli dripper kayu Yasukiyo di sana. Lumayan juga saya menahan godaan untuk tidak memborong jualan Kurasu lainnya yang sungguh menarik, dari mulai sendok kopi, cangkir dalam beberapa ukuran, hingga teko bergaya tradisional. Kebanyakan terbuat dari kayu dengan warna-warna pastel. Jepang banget.

Ketika sedang berdiskusi di depan rak jualan Kurasu, seorang pengunjung rupanya memperhatikan kami dan langsung bertanya, “dari Indonesia juga ya?”.  Akhirnya kami mengobrol lumayan panjang, membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kopi hingga tempat kami kuliah dulu. Rupanya kami tampak sangat asyik mengobrol hingga salah satu Barista di sana bertanya apakah kami saudara. Ketika kami menjawab bahwa kami baru kenal saat itu juga, ia hanya tersenyum sambil berkomentar, “Wah, hebat ya bisa langsung akrab”.

Di Kurasu saya kembali merasakan kegembiraan misterius seperti di Fuglen. Kali ini saya yakin karena kombinasi dari kopi yang enak, para Barista yang begitu baik hati dan ramah melayani saya, Ayah saya, serta para pengunjung lainnya, juga barang-barang jualan yang ‘menggoda iman’.

Saya sekarang sepertinya mengerti kenapa Jepang dianggap sebagai negara terbaik di dunia.

Kafeinisme

Seperti apa rasanya minum kopi 40 cangkir per hari? Saya tak bisa membayangkan apa yang berkecamuk di tubuh para kafeinis. Ini istilah untuk para pecandu kronis kopi. Para peminum dalam jumlah “absurd” itu terancam mengalami apa yang disebut kafeinisme (caffeinism), sindrom akibat konsumsi kafein berlebihan. Gejalanya meliputi mual, pusing kepala, haus. jantung berdebar, hingga buang air kecil tak berkesudahan.

Di situs Quora, saya membaca cerita seorang mahasiswa kedokteran di sebuah universitas di India yang pernah minum 30 cangkir kopi sehari. Ia meminumnya dalam lima waktu, di masing-masing periode itu ia menenggak enam cangkir. Dampaknya? Seperti banteng dengan mata merah, mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kuliah itu benar-benar terjaga sehari semalam. Tapi setelah itu ia merasakan ini: cemas, muntah, sakit perut, sakit kepala, rasa sakit di otot, nyeri di dada, bolak-balik ke kamar kecil dan mengalami halusinasi.

Untung saja nasibnya tak seapes Davis Cripe, remaja berumur 16 tahun dari Columbia, Amerika Serikat pada April lalu. Ia ambruk di ruang kelas dan sore harinya dinyatakan meninggal. Siang itu, ia memang membeli kopi latte di dekat sekolahnya. Tapi bukan hanya kopi, ia kemudian menenggak beberapa minuman berenergi yang memiliki kandungan kafein yang tinggi.

Otoritas kesehatan di kota itu menyatakan Cripe yang terlalu banyak mengkonsumsi kafein dalam dua jam mengalami arrhythmia atau irama jantung yang tidak normal. Tak semata jumlah kafein yang dikonsumsi, jarak waktu mengkonsumsi minuman itu disebut merupakan faktor utama yang telah membunuhnya. Ia minum bertubi-tubi kafein hanya dalam waktu dua jam!

Cerita nahas yang sama terjadi tiga tahun lalu. James Wade Sweat, 24 tahun, dari Georgia, Amerika Serikat, tewas karena mengkonsumsi kafein berkadar tinggi dalam sekali tenggak. Ia saat itu menawarkan dan sekaligus memamerkan alternatif “lebih sehat” dari diet soda, yaitu dengan mencampur langsung kafein dengan air. Pemuda naif itu tak tahu bahwa satu sendok kafein setara dengan kafein yang terkandung dalam 16-25 cangkir kopi.

Beberapa cerita itu tentu bukan untuk menakut-nakuti agar Anda menghentikan mengkonsumsi kopi. Ada banyak cerita lain tentang para kafeinis—peminum lebih dari 10 cangkir kopi sehari–yang kondisinya baik-baik saja. Mereka jauh melampaui batas aman dan menyehatkan minum kopi, seperti yang dilansir lembaga kredibel seperti Mayo Clinic, Stanford University bahkan lembaga pangan Uni Eropa. Batas aman itu adalah 400 miligram kafein atau sekitar 4-5 cangkir kopi sehari.

Salah satu yang membuat saya tercengang adalah kegilaan François-Marie Arouet, atau lebih dikenal dengan nama Voltaire, terhadap kopi. Voltaire adalah filsuf, sejarawan, dan penulis abad 18 Prancis yang menentang kemapanan gereja Katolik, penyuara kebebasan beragama, kebebasan berbicara, dan pemisahan gereja dan negara. Dia menulis lebih dari 20 ribu surat dan lebih dari 2.000 buku (termasuk karya drama, puisi, novel, esai, sejarah dan karya ilmiah), serta pamflet. Salah satu karya satirnya yang terkenal adalah Candide.

Voltaire disebut mengkonsumsi kopi 40-50 cangkir kopi sehari! Saya menghitung, jika dikurangi 6 jam waktu tidur sehari, berarti sang filsuf meminum kopi 2-3 cangkir per jam selama 18 jam. Apa tidak seperti gentong tuh perut sang pelopor revolusi Prancis itu? Akan berdampak seperti apa pula minuman yang 10 kali mengandung kafein dari batas normal yang direkomendasikan lembaga kesehatan dan penelitian itu terhadap tubuhnya?

Tak ada catatan tentang akibat dari kisah “percumbuan” Voltaire dengan kopi yang begitu menggebu itu. The Huffington Post yang menelusuri teks tentang kopi dari karya-karyanya cuma menemukan cerita bahwa ia penyuka kopi Turki (kopi yang dipanaskan dengan gula, mirip kopi Aceh) dan ia sering mencampur kopinya dengan cokelat. Ia juga sering mendapat peringatan dari dokternya bahwa kopi-kopi itu kelak akan membunuhnya. Nyatanya, Voltaire sanggup bertahan hidup hingga umur 83 tahun (1694-1778).

Kegilaan yang sama terjadi pada filsuf Denmark, Søren Kierkegaard (1813-1855). Ia memiliki 50 cangkir kopi yang berbeda. Dan setiap hendak menyeduh kopi, ia meminta sekretarisnya memilih cangkir kopi dan memberikan alasan filosofis terhadap pilihan cangkir itu.

Sedangkan Teddy Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke-26, disebut meminum kopi sekitar segalon sehari. Anak lelaki Roosevelt bahkan menyebut mug kopi ayahnya “lebih dalam dari bak mandi”.

Lalu di kalangan komposer, nama Johann Sebastian Bach dan Ludwig Van Beethoven juga masuk ke dalam jajaran pecandu kopi. Bach bahkan sampai menulis opera pendek tentang kopi. Komposer zaman Baroque itu menulis The Coffee Cantata pada 1732 sebagai protes terhadap anggapan masyarakat yang masih menyebut kopi sebagai minuman berbahaya. Di salah satu kutipan dari 10 babak opera itu, Bach menulis, “Tanpa kopi pagi, saya seperti potongan kambing panggang yang kering.”

Tapi di antara “para pencipta sejarah” itu tak ada yang “seedan” Honore de Balzac, penulis novel dan drama dari Prancis kelahiran 1799. Ia menyesap 80 cangkir kopi sehari! “Kopi meluncur ke dalam perutmu dan dengan cepat terjadi keributan di sana,” kata Balzacmengibaratkan. Balzac meninggal di usia 51 tahun. Tak ada catatan apakah kopi telah mengakhiri hidupnya. Ia disebut menghadapi masalah kesehatan sepanjang hidupnya.

Jumlah cangkir yang berbeda-beda itu memperlihatkan setiap orang memiliki kebiasaan minum kopi dengan kadar kafein masing-masing. Para ilmuwan juga menegaskan bahwa sulit untuk menentukan batas kafein maksimum yang boleh dikonsumsi per hari, karena pengaruhnya terhadap setiap orang berbeda-beda. Itu tergantung pada jenis kelamin, umur, berat badan, tingkat indeks kehidupan dan tingkat sensitivitas orang tersebut terhadap stimulan.

Memang riset medis Mayo Clinic menyebut konsumsi yang menyehatkan sebanyak 400 miligram kafein atau 4-5 cangkir sehari untuk orang dewasa. Sedangkan untuk remaja 12-18 tahun, American Academy of Pediatrics menyarankan mereka tidak mengkonsumsi lebih dari 100 miligram kafein per hari.

Dalam takaran ideal itu, kopi sangat bermanfaat bagi tubuh. Kopi mengandung antioksidan yang tinggi. Minuman ini juga bisa mengurangi gejala penyakit Parkinson, melindungi hati dari kemungkinan sirosis, mengurangi kemungkinan terkena kanker kulit, mengurangi risiko terkena diabetes tipe 2, dan seabrek manfaat lainnya. Satu lagi: kopi bisa membuat Anda merasa lebih bahagia.

Namun, ihwal “kenekatan” minum berpuluh-puluh cangkir atau gelas itu, Quora mencatat bahwa dosis mematikan kafein mencapai sekitar 130 miligram/kilogram berat badan atau 90-100 gram jika berat badan Anda 70-80 kilogram. Jangan salah: 90-100 gram, bukan miligram. Ini berarti setara dengan minum 90-100 cangkir kopi! Para pecandu itu bakal luar biasa sibuk jika meminumnya dalam sehari.

Anda sanggup minum sebanyak itu? Saya sih masih punya akal waras.

Mencari Ide Bisnis Kopi

Ignatius Boy Kurniawan, master barista lulusan Amerika Serikat yang juga konsultan bisnis kafe suatu ketika pernah berkata, “Mempelajari kopi itu ujung-ujungnya harus menghasilkan, sayang kalau hanya jadi hobi.” Ucapan anggota Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) itu, terus terang, sangat mengena kepada saya yang sedang panas-panasnya mengulik dunia kopi. Meski niat awal saya belajar soal kopi hanya sekadar bersenang-senang, tapi gara-gara Boy bilang begitu, saya jadi kepikiran untuk “menduitkan” –bahasa kerennya, monetisasi— hobi dan keahlian yang sedang saya tekuni ini.

Skill meracik kopi, kalau dilihat secara linier, mungkin hanya akan bermuara di bisnis kafe. Ilustrasinya begini: belajar barista lalu kerja di kafe orang, naik kelas ke Q-grader dan roaster, upgrade menjadi green buyer dan kurator, sampai akhirnya buka kafe sendiri. Kalau punya modal besar, bisa saja punya roastery dan kebun. Tapi (bisnis) perkopian bukanlah dunia yang hanya bisa dijalankan searah. Begitu banyak cabang yang bisa dipilih.

Sama seperti ujaran “ngopi enggak harus ngafe,” maka bisnis kopi juga tidak harus berujung membuka kafe. Usaha kopi bisa dimulai secara kecil-kecilan dengan modal sedikit, dan dalam bentuk bermacam-macam. Yang penting ada spirit do it yourself. Ada banyak usaha rintisan yang berkaitan dengan kopi, beberapa yang layak dicoba misalnya:

1. Jualan Cold Brew
Kalau Anda punya Instagram, coba di kolom pencarian masukan hashtag #coldbrew. Teliti hasil penelusurannya, coba hitung berapa banyak akun yang menawarkan produk kopi dingin. Banyak sekali. Memproduksi dan memasarkan cold brew adalah usaha rumahan yang relatif paling mudah dikerjakan. Tinggal belajar dan mencari resep enak, uji coba berkali-kali, mencari penjual botol plastik, membuat label, lalu mulailah produksi. Soal pemasaran, tinggal gembar-gembor di sosial media.

Salah satu penggagas #ngopidikantor, Aji Yuliarto, termasuk orang yang menjalankan bisnis ini. Dia memproduksi dan menjual produk cold brew bermerek Bon&Co seharga Rp 20 ribu perbotol ukuran 250 mililiter. Merek lain, ada yang bisa membanderol hingga Rp 40 ribuan. Dengan proses produksi yang tak serumit mendirikan sebuah kafe, bisnis ini menjanjikan keuntungan yang lumayan sebagai sampingan.

2. Bisnis Alat Kopi
Tren menyeduh manual memperbesar pasar produsen alat-alat kopi. Jika dulu mungkin konsumen mereka adalah pebisnis kafe, kini banyak orang yang rela mengeluarkan bujet lebih untuk beli alat kopi rumahan. Di Indonesia, penjual alat kopi juga tak sebanyak toko penjual perabotan dapur lain. Di Jakarta, mall yang di dalamnya ada toko khusus alat kopi hanya segelintir, kalaupun ada, paling menyatu dengan kafe.

Berbisnis alat kopi memang butuh modal agak besar. Tapi jika mau jadi reseller kecil-kecilan –seperti #ngopidirumah, ada beberapa toko khusus yang menyediakan aneka peralatan murah dengan harga grosir. Tantangan terbesar merintis bisnis ini adalah menjalin relasi dengan pemasok. Cara lain, Anda bisa mencari produsen alat kopi langsung ke negara lain (baca: Cina). Caranya tentu saja dengan bantuan internet. Marketplace untuk kebutuhan bisnis semacam ini sudah bertebaran di dunia maya.

3. Produksi Aksesori Berbau Kopi
Sejalan dengan makin banyaknya pehobi seduh manual, aneka produk yang berkaitan dengan kegemaran ini juga bakal jadi ladang uang. Ada beberapa printilan ngopi yang bisa diproduksi sendiri secara kecil-kecilan. Misalnya apron barista, tas penyimpanan alat-alat kopi, dudukan alat seduh (dripper station), sampai tetek-bengek merchandise berbau kopi semacam kaos, mug, pin, poster. Anda yang senang desain dan punya ide-ide cemerlang cocok menjalankan bisnis semacam ini. Apalagi belum banyak label clothing atau konveksi yang menyinggung kopi-kopian pada produknya.

4. Modifikasi Makanan dari Kopi
Bulan lalu, Pak Edi, senior saya di kantor pulang dari Jepang. Salah satu oleh-oleh yang dia bawa –selain kopi—adalah permen coklat yang isinya biji kopi. Permen ini mirip bola-bola coklat yang banyak dijual di minimarket. Tapi rasanya di Indonesia belum ada yang memproduksi makanan ringan ini. Rasa permen coklat isi biji ini unik dan buat saya enak meski bijinya memakai kopi robusta.

Selain itu, apalagi makanan yang bisa diolah dari kopi? Soal ini saya tidak terlalu mengerti. Tapi mungkin Anda yang senang bereksperimen dengan resep kue atau olahan makanan lainnya bisa mulai mencoba menggunakan kopi sebagai bahan dasar.

5. Ada Ide Lain?

Silakan tulis ide bisnis Anda di kolom komentar 🙂

Menilai Pasangan dari Rasio Kopi

KAMU punya pacar atau calon gebetan seorang barista. Lalu dia ingin melamarmu atau menembakmu. Jangan buru-buru “mengiyakan” meski kamu sudah merasa cocok. Tanyakan ini: “Kalau nyeduh kopi main rasio berapa?”

Jika dia berkata, “Loh ngapain nanya rasio”, balas keheranan dia dengan, “sudah jawab saja, aku cuman pengen tahu.” Ingat ini rasio saat menyeduh dengan V60 ya, yang paling dasar. Lalu dengar baik-baik jawabannya dan perhatikan panduan di bawah ini: 

Ada empat keribetan yang hakiki saat kita menyeduh kopi. Pertama soal ukuran gilingan biji (seberapa kasar atau halus), kemudian ada suhu air (antara 88-90 derajat atau 90-92 derajat). Lalu soal berapa lama menyeduh (sekitar 2.30 menit plus blooming atau di atas itu). Nah yang terakhir dan paling ribet adalah soal rasio. (Oya buka tautan ini kalau ingin tahu soal keribetan-keribetan kopi).

Secara garis besar rasio adalah perbandingan antara kopi dengan air. Ketika saya pertamakali belajar menyeduh sekitar medio Desember tahun lalu di acara #ngopidikebun, instruktur saya dari Malabar Mountain Coffe Bogor mengajarkan rasio 1:8. Artinya, untuk 1 gram kopi dibutuhkan 8 gram air. Jadi jika kita menggiling 20 gram kopi, maka hasil akhir setelah digrujuk air adalah 160 gram.

Tidak ada standar baku untuk rasio. Setiap orang punya selera masing-masing. Kafe-kafe di Jakarta rerata menggunakan 1:12 atau 1:13. Bahkan Asosiasi Kopi Spesialti Amerika (SCAA), dalam salah satu jurnal mereka, menyebut bahwa “To achieve the Golden Cup Standard, the recommended coffee-to-water ratio is 55 gram per liter, ± 10 percent” . Setelah saya baca terjemahannya ya sekitar 1:18.

Rasio ini akan sangat menentukan rasa dari kopi. Kopi dengan rasio 1:8 pasti memilliki rasa yang lebih kental dari 1:12. Kenapa seseorang memilih menggunakan 1:10 lalu yang lain 1:12 adalah soal selera. Tidak ada yang benar atau salah.

Nah, tapi setidaknya begini: ketika calon (pacar atau tunanganmu) berkata ia biasa menggunakan rasio 1:8 atau 1:10 maka dia adalah tipikal pasangan yang bermain di zona nyaman. Tipikal orang yang tidak suka mencari tantangan. Bisa jadi minim improvisasi, IYKWIM ;).  

Kenapa? Dalam dunia kopi ada dua kesalahan dasar tukang seduh. Pertama adalah rasa bitter alias pahit mengganggu dan aneh di lidah. Kedua adalah watery atawa terlalu banyak air. Orang Jawa menyebutnya keenceran. So para penyeduh rasio 1:8 dan 1:10 tidak akan menemukan masalah dengan dua problem ini.

Nah, beranjak pada calon yang menggunakan 1:12 atau 1:13. Biasanya mereka adalah tipe orang yang berani keluar dari zona nyaman tapi masih berhitung dengan situasi kondisi. Hidupnya juga cenderung standart. Kira-kira kalau kamu ulang tahun paling diajak makan di resto tempat pertama kencan sambil beromansa. Atau “makan malam lilin” alias candle night dinner.

Rasa seduhan dengan rasio ini sangat seimbang antara asam (acidity) dan ketebalan (body). Kecendurangan bitter dan watery juga tipis. Kemungkinan berhasil dalam tiap seduhan 80 persen.

Tipe berikutnya adalah 1:14. Mereka adalah orang yang suka mencari tantangan. Para penyeduh tipe ini tahu bagaimana cara membahagiakanmu. Mereka punya tujuan yang menggebu-gebu tapi akan langsung puas dengan hasil yang didapat. Misalkan, seduhannya sudah dikatakan enak maka dia sudah puas.

Dan dia mudah diterima di lingkungan manapun sama seperti hasil seduhan dengan rasio tersebut. Beberapa kali acara #ngopidikantor, saya mengamati: rerata orang–mereka yang tidak biasa minum kopi arabika seduhan manual atau pecinta kedai kopi asal Amerika berwarna hijau–lebih suka rasio 1:14. Sebab rasanya ringan baik body maupun acidity.

Berikutnya adalah para penantang bahaya, mereka yang meninggalkan zona nyaman, mereka yang terkadang gagal tapi tidak kapok untuk mencoba lagi, dan tidak pernah puas dengan hasil saat ini. Yaitu tipe pemain rasio lebar 1:15 – 1:16 – 1:17.

Menyeduh dengan rasio lebar rawan watery dan bitter. Sehingga, para penyeduh tipe ini sangat memahami kopi sama seperti mereka paham bagaimana mengayomi pasangannya. Mereka tahu bagaimana memperlakukan jenis kopi Java Preanger yang cenderung ringan agar tetap kaya rasa.

Tipe yang belajar banyak teknik untuk mendapatkan rasa maksimal. Mereka jeli melihat apa pentingnya menuang hanya di tengah, kapan harus berhenti sejenak untuk membiarkan air turun mengekstrasi kopi, dan berapa total brewing. Pun dia belajar dari kesalahan-kesalahan saat menyeduh.

Bagaimana hasil seduhannya: Ijar Karim, salah satu pendiri #ngopidikantor, mengatakan rasio lebar seperti merentang karet. Rawan putus. Namun, jika berhasil kita bisa menemukan jejak rasa (notes) pada kopi dengan tepat. “Semakin direntang akan semakin jelas jejaknya, kalau terlalu rapat kesannya ngumpul,” kata dia satu kali. (Ada tiga pendiri #ngopidikantor yang kamu bisa baca di sini)

Tipe ini tentunya sangat setia. Mereka tahu dengan rasio lebar ada peluang untuk gagal. Tapi mereka akan terus belajar.

Terakhir, tipe “gelas emas” SCAA alias 1:18. Sepertinya tipe yang jarang. Dan saya sendiri enggak yakin V60 dengan rasio 1:18, bikin 1:15 saja ketar-ketir. Kalau memang ada terimalah dia. Karena bisa jadi ini adalah mitos midas si tangan emas.

So, tipe mana pasanganmu? Oya jangan gara-gara postingan ini lalu kalian tolak si dia ya. 

Batman-Robin, Sepeda-Kopi

Ada yang bilang, sepeda dan kopi adalah pasangan yang serasi, seperti ikan dan kentang, Starsky dan Hutch, Rizzoli dan Isles, Batman dan Robin. Karena saya bukan peminum kopi kelas berat dan canggih, sehari paling dua cangkir di pagi hari hasil seduhan menggunakan french press, saya skeptis saja. Tapi, sejak di kantor rutin diselenggarakan kegiatan mengopi bersama, dulu pernah sepekan sekali, yang dipromosikan dengan hashtag #ngopidikantor, saya punya kesempatan yang panjang untuk mengujinya. Dan memang benar. Continue reading “Batman-Robin, Sepeda-Kopi”

Matematika Kopi

Mari bicara matematika. Bagi banyak orang, bidang yang satu ini kerap menjadi momok. Seringkali perut mulas lebih dulu saat soal-soal matematika, misalnya, disodorkan dalam ujian. Tapi bagi sebagian yang lain, matematika begitu mudah dan mengasyikkan. Bagi saya? Dia sama seperti kopi: menyimpan banyak misteri.

Kita, misalnya, tak pernah bisa menduga atau menebak hasil akhir dari sebuah persamaan matematika yang diujikan. Yang bisa kita lakukan adalah menguasai dasar teorinya, kemudian menikmati prosesnya, sebelum akhirnya menemukan jawaban—yang bisa jadi tak terduga. Sama seperti kopi, Anda harus mengetahui dulu karakter kopi yang hendak Anda minum, lalu menikmati proses menyeduh dari alat yang Anda pilih, sebelum Anda menemukan rasa dari kopi Anda: pahit, manis, asam atau hambar.

Misteri yang mengasyikkan itu saya kenal pertama kali pada kelas 1 sekolah dasar. Saat itu guru aljabar—dulu belum bernama matematika—meminta kami, muridnya, membawa potongan-potongan lidi yang diikat dengan gelang karet. Dari potongan-potongan itu ia kemudian mulai memperkenalkan bilangan. Angka 5, misalnya, merupakan penggabungan lima batang lidi. Lalu ada operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Semua dijelaskan dengan hitung-hitungan sederhana jumlah lidi.

Suatu kali, saya yang bersemangat menghitung potongan lidi, penasaran ingin tahu: di mana sebenarnya ujung dari perkalian? Berapa lidi yang harus saya kumpulkan? Ini misteri yang harus saya pecahkan. Lalu saya memutuskan mulai menghitung dari perkalian yang menurut saya tak banyak: 100 x 100. Dalam prosesnya, meski saya sudah memotong-motong habis satu sapu lidi di pekarangan rumah, jumlah 10.000 tak juga terpenuhi. Saya justru mendapat hasil akhir ini: orang tua saya mengamuk.

Tapi dari “drama” sapu lidi itu, saya menemukan pengetahuan-pengetahuan baru—tentang definisi “tak terhingga”, misalnya—juga imajinasi-imajinasi yang berloncatan tak terduga. Dari pengenalan bilangan-bilangan itu, saya juga jadi tahu bahwa matematika punya manfaat yang luar biasa: dari hal-hal praktis seperti transaksi jual-beli, menghitung untung-rugi perusahaan, menentukan digit inflasi negara, hingga penjelajahan ke ruang angkasa. Matematika juga mampu menunjukkan kekuatan dan keindahannya di jagat raya. Ia terbukti menjadi salah satu instrumen paling penting untuk mengungkap misteri penciptaan alam semesta.

Lalu apa hubungannya dengan kopi?  Tak cuma terhadap sesuatu yang sebesar jagat raya, matematikawan dengan “senjatanya” yang ampuh itu juga menaruh minat menyelami dunia yang subtil. Jika mereka bisa meringkaskan alam yang maha luas dalam persamaan-persamaan matematika yang sederhana, mereka juga yakin bisa mengkuantifikasi jagat maha kecil di sepotong benda kecil. Benda itu, salah satunya, adalah biji kopi.

Saya membaca cerita menarik ini di BBC beberapa waktu lalu: cerita tentang para matematikawan yang tengah mengumpulkan “potongan-potongan lidi” untuk mengungkap misteri rasa di secangkir kopi. Para peneliti yang berkumpul di University of Limerick di Irlandia itu punya pertanyaan sederhana: apa sesungguhnya yang membuat secangkir kopi terasa sempurna? Adakah kopi yang sempurna itu? Ketika seseorang menyatakan tengah menikmati kopi yang sempurna di waktu yang sempurna, kapan dan pada titik mana sebenarnya kesempurnaan itu bisa terjadi?

Jika kesempurnaan itu bisa mereka temukan, mereka membayangkan kegiatan menyeduh pada manual brew, misalnya, akan semudah membuat kopi instan. Tak ribet dan efisien. Cukup dengan menuangkan takaran kopi ideal yang sudah mereka temukan, begitu pula rasio kopi dan air yang paling pas, berapa suhu yang bisa mengoptimalkan ekstraksi kopi, berapa ukuran gilingan yang tepat, hingga berapa kandungan air yang paling ideal di sebuah biji kopi dalam proses pasca-panen—maka siapa saja bisa menikmati kopi dengan mudah.

Proyek memburu “yang sempurna” itu mereka mulai pada November tahun lalu. Tak ada target kapan penelitian itu akan selesai. Yang jelas, para periset itu saat ini tengah mengumpulkan jutaan data yang akan menjadi variabel penentu keberhasilan eksperimen tersebut. Mereka selanjutnya akan merancang model matematika khusus untuk pelbagai mesin kopi.

Petualangan mengungkap misteri rasa itu jelas tak mudah. Pada sebiji kopi saja ada lebih dari 1.800 komponen kimia. Komponen mana atau perpaduan komponen mana yang menyumbang rasa pahit, manis, dan asam, tak ada yang tahu. Begitu pula kopi dari jenis apa, juga dari ladang kebun dengan perlakuan seperti apa yang ideal? Ada lebih dari 50 negara yang membudidayakan tanaman kopi dengan hasil jutaan ton.

Minuman ini juga paling banyak dikonsumsi di dunia. Ada lebih dari18 juta mesin kopi yang terjual setiap tahun di Eropa saja. Jumlah cangkir yang disesap para penggemar kopi di seluruh dunia juga tak sedikit: 2 miliar cangkir setiap hari! Peneliti terdahulu menyebut bahwa bahan, tekstur dan warna cangkir juga mempengaruhi rasa kopi. Apakah seluruh variabel itu akan diperhitungkan? Berapa banyak pula kopi yang harus diminum para peneliti? Bagaimana mereka mengkalibrasi lidah masing-masing?

Saya membayangkan sebuah penelitian yang rumit, kompleks, lama dan nyaris mustahil. Saat menjajal berbagai macam rasio kopi dan air di rumah saja, aksi coba-coba—tak bisa disebut penelitian—saya itu sering berakhir berantakan. Rasio itu dimulai dari yang rendah seperti 1:8 atau 1:9, hingga rasio lebar 1:15 seperti yang sering digunakan di kafe-kafe profesional. Bahkan Speciality Coffee Association of America (SCAA) menggunakan coffee to water ratio 1:18. Semua perbandingan itu saya coba.

Dengan menggunakan kopi yang sama, alat seduh yang sama (V60), ketel, suhu air, waktu seduh, dan ukuran gilingan kopi yang sama, saya pun memulai perjalanan menemukan “ujung” kenikmatan kopi dari “eksperimen” rasio. Saya lebih dulu menentukan bahwa kopi yang nikmat buat saya adalah kopi yang tak pahit (cukup sedikit pahit), ada rasa manis (makin manis makin enak, apalagi manis buah-buahan), dan sedikit asam. Aroma? Saya menganggap, dengan kopi yang sama, pasti punya aroma yang sama.

Maka percobaan pun dimulai. Dan layaknya seorang matematikawan, saya mencatat semua yang terjadi. Hasilnya? Saya memuntahkan kopi yang saya minum dari rasio kecil karena terlalu pahit. Sebaliknya saya mencatat rasa hambar, layaknya minum teh encer, dari rasio yang tinggi. Pada dua rasio itu, saya tak hendak sok tahu dengan menyimpulkan bahwa dua rasio itu tak ideal buat V60. Kesimpulan itu bisa salah, karena nyatanya saya sering menikmati kopi yang sangat enak di kedai-kedai kopi yang terbiasa dengan rasio tinggi maupun yang memilih rasio rendah. Saya cuma bisa membatin, “namanya juga coba-coba, maklum penyeduh amatiran.”

Nah, pada rasio tengah, seperti 1:12, 1:13 atau 1:14, saya menemukan pengalaman rasa yang berbeda. “Ini kopi enak, saya suka.” Beberapa kali menyeduh pada rasio itu pun, saya tetap merasakan kopi dengan tingkat kepahitan, asam dan manis yang pas atau seimbang. Istri saya pun bersetuju dengan saya (awas kalau bilang tak enak).

Lalu foto-foto kopi hasil seduhan itu kami unggah ke Instagram. Beberapa kawan kemudian memberi komentar yang menyenangkan. Tapi dengan caption foto penuh angka-angka, seperti “kopi 20 gram, rasio 1:13, suhu 90 derajat, grind size 4,5, blooming 30 detik, brewing 3 menit”, seorang kawan yang tak paham makna angka-angka itu memberi komentar begini: “Saya tak suka kopi. Ternyata untuk menghasilkan kopi yang enak butuh matematika. Saya makin tak tertarik.”

Saat itu saya serasa kembali pada “drama” ludesnya sapu lidi puluhan tahun lalu. Pahit.

Dia yang Bertanya Kenang Rasa

Ketika datang ke kedai kopi yang menyediakan seduh manual (manual brew) bersama gebetan (atau kawan-kawan), jangan lupa tanyakan hal ini kepada si barista: “Apa notes kopi ini?” Niscaya, kekerenanmu di mata gebetan akan bertambah.

Lalu setelah kalian berdua duduk dan (jika) si gebetan bertanya, “Apa sih notes itu?” Jangan buru-buru menjawab. Tunggu sampai kopi pesanan kamu datang dan persilakan si dia mencoba terlebih dahulu. Setelah itu tanyakan, “Rasa seperti apa yang kamu dapat dari kopi ini? Asam yang menonjol atau pahit yang lebih kuat?”

Setelah dia menjawab pertanyaan itu, pancing lawan bicaramu untuk menggambarkan aroma dari si kopi. Wangi apa yang muncul: melati, jagung rebus, pisang, mawar, atau apa? Apa pun jawaban dia, kamu bisa dengan bangga mengatakan, “Itulah notes kopi yang hanya muncul pada koppi arabika yang diseduh manual.” Tambahkan juga, “Rasa yang kaya seperti ini tidak ada di kopi saset.

Notes atau biasa disebut juga jejak rasa merupakan karakter yang membedakan satu jenis kopi arabika dengan yang lainnya. Dewi “Dee” Lestari dalam kumpulan cerpen Filosofi Kopi menulis “Kopi itu sangat berkarakter.” Tentu yang dia maksud bukan kopi kemasan instan dengan pemanis dan perasa buatan. Mengutip artikel yang ditulis nationalgeographic.co.id, ada sekitar 800 karakter kopi di dunia.

Dari 800, saya hanya tahu sebagian kecil saja. Sekitar 20, mungkin lebih sedikit lagi. Saya hanya akan menyebutkan sedikit dan yang umum: jeruk mandarin, jeruk dawet ayu, tebu, jagung rebus abang-abang pinggir jalan, tembakau, hingga pisang. Bahkan, ada bau kuntilanak alias melati. Belakangan kawan saya bilang ada yang rasanya seperti menyan.

Masih dari artikel National Geographic, kita bisa mengenali karakter kopi dari cupping atau tes kopi. Saya pertamakali mengenal istilah cupping ketika ikut acara #ngopidikebun pada awal Desember 2016. Kala itu #ngopidikantor mendapat undangan berkemah di kebun kopi malabar milik PT Sinar Mayang Lestari di Pangalengan, Jawa Barat.

Selain belajar seduh (untuk motivasi keren-kerenan), kami juga belajar mencari rasa dari cupping. Waktu itu, tersaji sekitar 10 gelas Malabar tubruk di meja. Para instrukstur meminta kami menjelaskan rasa dari masing-masing kopi. Bah, di lidah saya, yang terasa hanya dua: Kalau tidak asam ya pahit.

Untuk yang asamnya lebih kuat saya bilang rasanya terlalu feminin. Sedangkan yang pahit saya sebut maskulin. “Dasar bias gender!” saya diumpat. Tapi saya tidak punya deksripsi lain kala itu. Jadilah saya menjadi bahan tertawaan.

Untungnya, tugas menentukan notes bukan urusan penyeduh (apalagi peminum). Rumah-rumah sangrai (roasting) dan para Q-Grader yang menentukan jejak rasa kopi. Untuk menentukan jejak rasa, kopi-kopi ini akan melewati cuping dari para Q-Grader profesional. Di Jakarta, salah satu sekolah cupping yang juga telah melahirkan banyak Q-Grader handal adalah Caswell’s.

Biasanya penyeduh di kafe-kafe hanya menyebut petunjuk dari bungkus di biji kopi. Oya, jika kawan-kawan membeli kopi pastikan di bungkus tersebut tertulis notes apa yang ditawarkan.

Nah, tugas peminum adalah nyinyir jika notes yang dimaksud tidak muncul atau jika rasa yang muncul tidak keruan. Sebab ada biji kopi dari tanah Papua yang baunya dan rasanya seperti logam. Bahkan, dari wilayah NTT ada yang beraroma dan rasa air cucian beras. (Ngomong-ngomong nanti akan ada tips menyeduh agar semua notes muncul).

Setelah kamu yakin kopi sudah melewati tenggorokan si dia, tanyakan: “Kenangan apa yang kamu dapat setelah meminum kopi ini?” Jika dia menatap kamu keheranan, tolong tahan diri untuk tidak gombal. Tegaskan: “Seperti apa after taste yang kamu rasakan setelah meminum kopi tadi?”

Majalah Otten menulis after taste adalah rasa yang tertinggal di rongga mulut setelah kita menyesap kopi. Otten ini toko yang menjual aksesoris alat-alat kopi. (Bukan promosi, masih ada toko lain seperti Maharaja atau Philocoffe).

Nah, #ngopidikantor sepakat mengalihbahasakan after taste menjadi kenang rasa. Entah siapa yang memulai. Tapi sepertinya ini yang cocok. Sebab untuk menentukan after taste kita harus benar-benar punya kenangan akan sebuah rasa. Tsah!

Ijar Karim, salah satu pendiri #ngopidikantor, bilang Hyang Argopuro hasil sangrai Kopi Katalis memiliki kenang rasa seperti pisang yang sudah sangat matang sekali sampai benyek. “Sejak kecil saya suka makan pisang jenis ini, dan rasanya kayak Hyang Argopuro,” katanya.

Saya beda lagi. Hyang Argopuro dalam kenangan saya adalah pisang olahan ibu ketika saya masih kecil. Dulu, ibu sering membungkus pisang yang sudah sangat matang dengan godongnya, kemudian dikukus. Rasa madunya keluar banget. Inilah kenang rasa saya.

Cukup urusan notes dan kenang rasa, biarkan obrolan di antara kalian mengalir. Dan pasang kepekaanmu tajam-tajam sebab bisa jadi kode semacam ini akan muncul: “Gimana caranya ya saya bisa minum kopi enak seperti ini tiap pagi?”

Kamu tahu ujung ceritanya.

Memilih Alat Seduh untuk Traveling

Para peminum kopi bermahzab manual brew adalah orang-orang yang secara sukarela dan sengaja menambah satu keribetan dalam hidupnya. Ketika kebanyakan orang ingin serba cepat –termasuk minum kopi– kaum ini malah menolak yang instan-instan. Menimbang kopi, menggiling pakai gilingan manual, merebus air, mencuci saringan kopi, menunggu 30 detik untuk blooming, lalu menuang air pelan-pelan, adalah prosedur ngopi golongan ini.

Ritual yang panjang dan alat yang banyak pada akhirnya menambah keribetan lain, terutama saat mereka harus berpergian ke luar kota. Sebagai peminum kopi fanatik, meninggalkan rumah bukan alasan untuk berhenti ngopi (menyeduh). Kalau perlu, aneka perintilan alat ngopi dibawa serta meski harus menambah beban tentengan. Karena belum tentu di kota tujuan ada tempat ngopi sesuai selera.

Beruntung, tidak semua alat ngopi ribet. Ada yang memang diciptakan untuk traveling. Apa saja alat-alat tersebut? Berikut kami ulaskan untuk Anda:

Espro Travel Press

Espro Travel Press pada dasarnya adalah alat seduh berjenis Frenchpress. Yang membuat alat ini istimewa adalah kemasannya yang berupa botol minum kedap udara dan tahan panas (semacam termos). Sesuai namanya, produk ini memang dirancang untuk dibawa jalan-jalan.

Cara membuat kopi pakai Espro ini juga mudah. Pertama, kopi yang sudah digiling dimasukkan ke tabung, disiram air panas, tunggu 3-4 menit, lalu saringannya ditekan. Kopi bisa langsung diminum atau dibiarkan saja. Beberapa kru ngopidikantor.com yang memiliki Espro pernah membuktikan, hasil seduhan yang disimpan di Espro tanpa dibuka-tutup bisa tahan panas hingga 5-6 jam.

Kelebihan lain Espro adalah keberadaan filter ganda yang mampu menahan serbuk kopi di dasar tabung. Sehingga, hasil seduhannya clean tanpa ampas, tidak seperti Frenchpress rumahan.Espro juga bisa ditambah filter kertas, caranya dijepit di antara kedua saringan kawat. Dengan penambahan filter ini, hasil seduhan bisa lebih bersih layaknya hasil seduhan dripper. Di sejumlah toko online harga jual produk ini sekitar Rp 600 ribu.

Sayangnya di Indonesia, filter kertas Espro Travel Press susah didapatkan. Begitu juga dengan spareparts lainnya. Kekurangan lain barang ini adalah kapasitasnya yang terlalu sedikit (sekitar 300 mililiter), sehingga Espro hanya cocok untuk pemakaian sendiri.

Penilaian Kami
Kualitas hasil seduhan : 8
Kemudahan penggunaan : 10
Kepraktisan : 10
Ketersediaan filter/sparepart: 3
Harga : 5
Daya pikat & estetika : 5

Aeropress

Alat ini bisa dibilang produk terpopuler di kalangan penikmat kopi seduh manual dalam dua tahun terakhir. Belum lengkap rasanya menjadi fanatik kopi tanpa punya alat ini. Kelebihan Aeropress adalah bentuk dan cara penggunaannya yang unik, plus kualitas hasil seduhan yang tak mengecewakan. Material plastik tahan panas yang digunakan pun membuat Aeropress enteng dibawa ke mana-mana.

Produsen Aeropress, Aerobie, melengkapi sejumlah perintilan dalam kemasan alat ini. Ada batang pengaduk, sendok takar kopi, wadah filter kertas, dan corong tatakan. Seluruh kelengkapan itu dibuat ringkas dan mudah disimpan dalam wadahnya yang seperti cepuk.

Idealnya, menyeduh memakai Aeropress memakai timbangan agar takaran air yang dikucurkan lebih presisi. Tapi di tabung Aeropress ada angka-angka indikator yang menunjukkan kapasitas air dan kopi, sehingga keberadaan timbangan tak terlalu esensial. Begitu juga dengan teko leher angsa yang lazim digunakan untuk metode pour over, tak dibutuhkan saat menyeduh pakai Aeropress. Air panas tinggal digerojok.

Meski terkesan sempurna, Aeropress juga punya kelemahan yakni pada kuantitas hasil seduhannya yang hanya cukup untuk 1-3 cangkir kecil. Pengguna juga harus berhati-hati memilih gelas atau wadah penyaji untuk menampung kopi dari Aeropress. Karena menggunakan sistem tekanan yang mengandalkan tenaga penyeduh, salah-salah wadah bisa retak dan pecah.

Penilaian Kami
Kualitas hasil seduhan : 9
Kemudahan penggunaan : 7
Kepraktisan : 7
Ketersediaan filter/sparepart: 8
Harga : 5
Daya pikat & estetika : 9

Cafflano Kompact

Dunia perngopian sangatlah dinamis. Banyak alat seduh jenis baru yang muncul dari ide-ide brilian para entrepreneur. Biasanya ide-ide itu dibagikan lewat situs Kickstarter untuk penggalangan modal produksi. Salah satu produk yang lahir dari proses itu adalah Cafflano.

Merek ini memang mendedikasikan diri sebagai produsen alat seduh portabel. Selain model Kompact, mereka juga punya Klassic yang berupa seperangkat V-dripper, grinder, dan teko dalam satu wadah. Lalu ada Kompresso, untuk membuat espresso. Varian terkahir belum masuk ke Indonesia.

Secara prinsip, Cafflano Kompact bekerja seperti Aeropress, yakni memanfaatkan tekanan udara untuk menyeduh kopi yang dikombinasikan dengan saringan. Bedanya, Kompact berbentuk seperti akordeon dan memakai filter berbahan metal. Secara tampilan, Kompact sangat atraktif dan menarik dilihat. Menyeduh memakai Kompact juga tak butuh teko leher angsa, timbangan, atau server khusus.

Tapi berdasarkan pengujian yang kami lakukan, Kompact mengingkari khitahnya sebagai alat menyeduh mobile. Ukurang Kompact memang kompak, tidak makan banyak tempat. Namun, keribetan muncul seusai menyeduh. Bentuk tabung yang berlipat-lipat membuat sisa bubuk kopi mudah tersangkut. Pembilasan harus dilakukan berkali-kali sampai bersih, sehingga malah boros air. Hasil seduhan alat ini juga biasa saja, tak secemerlang Aeropress. Harganya yang Rp 900 ribuan juga kami anggap kemahalan.

Penilaian Kami
Kualitas hasil seduhan : 6
Kemudahan penggunaan : 8
Kepraktisan : 6
Ketersediaan filter/sparepart: 5
Harga : 2
Daya pikat & estetika : 8

Mengopi Psychedelic

Manakala musikus rock menyeberangi batas-batas imajiner blue note, orang jadi menyadari adanya begitu banyak elemen musikal yang bisa diakomodasi, dengan hasil yang lebih berwarna-warni. Sebagai nada khas musik blues, yang lahir di lingkungan kaum budak kulit hitam di masa awal berdirinya Amerika Serikat, blue note mengekspresikan kecemasan dan kemuraman, pahitnya hidup. Lepas dari kungkungannya, musik rock, yang berakar pada blues, jadi mirip mata serangga: ada banyak faset pada dirinya.

Menjelang awal 1970-an itu eksperimen para musikus, yang sebagian dibarengi dengan penggunaan lysergic acid diethylamide atau LSD–obat yang menimbulkan halusinasi dan yang di masanya sedang “kekinian”–melahirkan apa yang disebut sebagai aliran psychedelic. Selain mereka yang memang tekun memproduksi musik ini, misalnya Jefferson Airplane, Grateful Dead, dan The Doors, ada pula yang semata-mata menumpang tren, kalaupun bukan bereksperimen, di antaranya The Rolling Stones, The Beatles, dan Pink Floyd.

Boleh dibilang, bagaikan menghadapi wilayah baru yang eklektik–hasil dari kecenderungan lompat pagar–itulah impresi dari peralihan konsumsi kopi robusta ke kopi arabika. Tak ada garis pemisah tipis di antara keduanya.

Selama ini banyak dari kita terbiasa dengan kopi yang disajikan di warung (saya jadi ingat Mbah Mat, langganan di masa sekolah dulu), diseduh dari bubuk yang dikemas dalam sachet, atau sekurang-kurangnya yang disiapkan lewat mesin espresso di kafe mentereng tempat kita sesekali nongkrong (biasanya saat masih belum menjauh dari hari gajian). Tanpa bantuan gula, semua itu hanya memaksa kita menyeruput pahitnya hidup, eh, kopi. Tapi gula, bagaimanapun, adalah unsur yang dibubuhkan belakangan; ia bukan bagian alami dari kopi dan sama sekali tak memperkaya tekstur–kecuali hanya memberi rasa manis. Dengan kopi jenis arabika, alih-alih robusta yang memang jadi “standar” konsumsi hampir di mana-mana, kita jadi seperti penggemar The Beatles yang pada 1966 baru pertama kali mendengarkan Tomorrow Never Knows.

Aransemen lagu di urutan terakhir album Revolver itu dibangun dengan pukulan drum yang seakan-akan timbul tenggelam dan terdengar seperti tabla, dengung sitar yang melayang-layang, suara vokal yang seolah-olah melipir ke dunia “lain”, solo gitar yang alurnya terbalik, dan efek loop yang mengulang-ulang bebunyian. Majalah Rolling Stone menggambarkan lagu berdurasi tiga menit ini, setelah materi-materi sebelumnya–seperti Eleanor Rigby, I’m Only Sleeping, dan She Said She Said–yang merupakan “langkah berani ke wilayah tak dikenal”, sebagai “lompatan dari tebing”.

Penggambaran itu bisa jadi kelewat ekstrem. Tapi kopi arabika pun bisa diperlakukan serupa.

Dengan seduhan yang tepat, arabika–yang banyak ragamnya, tergantung varietas dan sesuai asal-usulnya; dari sinilah orang mengenalkan istilah single origin–memunculkan kandungan dan tekstur rasa yang masuk ke kategori “berani” atau bahkan “lompatan”, seperti yang berlaku untuk sebagian materi album Revolver dan Tomorrow Never Knows itu. Jika harus disebutkan, pada dasarnya ada tiga cita rasa pada kopi arabika: manis, asam, pahit. Tapi, dari waktu ke waktu, karakter yang subtil, sering membikin khayalan melayang ke mana-mana, bisa juga terasa bermunculan–aneka buah, rempah, kacang-kacangan, coklat. Ini seperti yang terjadi pada banyak lagu dari masa psychedelia.

Rasa-rasanya, dari kesamaan itu, kita bisa pula menyebut kopi dan psychedelic dalam satu tarikan napas. Persis seperti kopi dan sepeda. Atau kopi dan… entah apa lagi.

Mixtape yang Kekopian

Pada 1980-90an hampir seluruh remaja di kota-kota Indonesia menjadi kriminal. Sepulang sekolah kami menyatroni toko kaset untuk membuat album musik kompilasi pribadi.

Kami menuliskan list lagu pilihan pada secarik kertas dan meminta toko kaset untuk membajak dan mengumpulkan lagu-lagu tersebut ke dalam sebuah kaset.

Lagu-lagu yang dipilih pasti berdasarkan preferensi musik masing-masing. Kalaupun melenceng pasti karena mengikuti suasana hati. Tidak akan ada lagu Forgiven, Not Forgotten-nya The Corrs dalam kompilasi lagu metal kami, kecuali mungkin saat patah hati.

Pilihan durasi seluruh lagu yang bisa dijejali ke kaset ada dua: 60 dan 90 menit. Rata-rata 10-20 lagu bisa kita pilih dan siap dinikmati ketika kaset pesanan jadi pada keesokan harinya.

Generasi muda 1980-90an pasti juga pernah mendapat kado mixtape pada segala perayaan. Saat seorang teman berulang tahun, para sahabatnya berusaha mengingat-ingat list lagu kesukaannya dan membuat mixtape-nya untuk dijadikan hadiah ulang tahun.

Bahkan mixtape bisa dijadikan kado pernikahan. Salah satu mixtape paling menyebalkan yang pernah saya terima adalah kumpulan lagu patah hati, dua minggu setelah putus cinta.

Saat itu mixtape juga disusun untuk diputar di institusi komersial seperti bus malam, metro mini, atau rumah makan. Sangat beragam list-nya, dengan menyimaknya kita bisa menebak pribadi si empunya mixtape tersebut. Agak rasis, soundtrack di metromini yang sering saya tumpangi umumnya berisi list lagu dari Tanah Batak.

Mengingat-ingat itu semua, saya jadi membayangkan mixtape seperti apa yang akan saya bikin untuk diputar di kedai kopi. Seperti single origin yang berbagai-bagai, kompilasi lagunya pasti tidak akan terdiri dari satu genre atau satu artis tertentu.

Tentu saja saya tidak akan membawa list lagu yang sudah saya susun tersebut ke toko kaset untuk dibuatkan bajakannya, cukup membuatnya di app musik streaming macam Spotify.

Kira-kira inilah sepuluh mixtape yang cakep banget untuk diputar di kedai kopi versi saya:

 

1. Semua lagu Payung Teduh aransemen album pertama dan kedua

Apa pun judulnya, tinggal sebut. Notes single origin saya akan meningkat lima kali lipat. Asal bukan versi aransemen baru yang direkam live di sebuah sekolah musik dengan album bergambar daun bolong berbentuk sepasang muda-mudi. Photoshop murahan! Selain itu yang bikin saya tidak suka dari album versi live tersebut adalah aransemennya yang mengingatkan pada adegan film biru, penuh dengan nuansa lembut dan sentuhan aneh terompet dan saksofon.

 

2. Famous Blue Raincoat, Leonard Cohen

Tanpa kopi pun lagu ini bisa sangat menenangkan bagi saya. Manis walaupun kelam, mendayu-dayu sekaligus penuh tenaga. Seperti Aceh Gayo.

 

3. The Spirit Carries On [Scene Eight], Dream Theater

Sebuah pengakuan: saya membenci semua band top forty yang sering manggung di cafe, dari yang terburuk sampai yang profesional. Alasannya karena mereka sangat klise, dari pemilihan lagu, gaya, sampai jokes-nya. Tapi saya akan selalu memaafkan mereka setelah lagu ini mereka bawakan.

 

4. Sampai Jadi Debu, Banda Neira

Kelar idup lo!

 

5. Ode to My Family, The Cranberries

Lagu ini, entah kenapa bisa menciptakan suasana seperti di alam terbuka Selandia Baru, padahal band ini berasal dari Irlandia. Saya selalu membayangkan bisa ngopi pagi-pagi di depan camper van di pulau Selatan Selandia Baru.

 

Playlist Spotify mixtape ini bisa disimak di sini.

 

6. A Whiter Shade of Pale, Procol Harum

Lagu mendayu, atmosfer hangat kedai kopi, dan single origin kaya rasa, kurang apa? Lagu ini sudah membuktikan Efek Rumah Kaca salah besar, bahkan jauh sebelum Cholil menulis Cinta Melulu.

 

7. Putih, Efek Rumah Kaca

Kali ini Cholil presisi menebak seperti apa yang saya bayangkan saat “akhirnya aku usai juga.” Lagu ini dikemas dengan gaya Obbie Messakh yang memadukan nyanyian dengan pelafalan lirik. Bagi saya, Putih termasuk salah satu lagu yang bisa seinspiratif kopi.

 

8. Huma di Atas Bukit, God Bless

Aransemen asli gitar Ian Antono sangat kental meniru Firth of Fifth milik Genesis, lagu nomor 9 di list ini. Mungkin inilah yang membuat saya suka lagu Huma di Atas Bukit. Selain itu liriknya puistis khas lagu-lagu pada generasinya.

 

9. Firth of Fifth, Genesis

Lagu ini diawali dengan denting klasik dari grand piano, disusul perpaduan seruling dan gitar dengan irama naik turun. Sangat progresif, tidak bisa dianalogikan dengan single origin mana pun menurut saya. Tapi dijamin, ngopi sambil menikmati komposisi ini bakal bikin merem melek. Simak apa kata Peter Gabriel: “Now as the river dissolves in sea, so Neptune has claimed another soul.”

 

10. …..

Lagu terakhir sengaja saya kosongkan, silakan ditambahkan di kolom komentar, kira-kira lagu apa yang inline dengan list di atas.

Untuk membuktikan cocok atau tidak mixtape yang saya bikin, dengerin aja playlist-nya di Spotify Mixtape Kekopian yang sudah saya buat.