Tiga Lelaki #ngopidikantor

Dengan alasan yang berbeda, tiga pria ini punya kecintaan pada satu hal: kopi. Khususon Arabika. Wabil cusus, enggak pake gula.

Pria pertama, Aji Yuliarto. Ia mengatakan suka kopi Arabika tanpa gula karena pengalihan dari alkohol. (Sok nakal, padahal Soleh luar dalam)

Kedua: Eko Punto Pambudi yang beralasan bahwa dia kaget dengan kekayaan rasa single origin. (Dia jatuh cinta pada sesapan pertama Sunda Arumanis. Meskipun kemudian selingkuh pada kopi curah Jatinegara yang murah meriah. Belakangan dia sudah kembali pada cinta pertamanya, juga pada beberapa kopi spesialti).

Lelaki terakhir, Ijar Karim. Konon, dari zaman baheula, ia tidak minum manis. Kopi tidak pakai gula, teh pun tawar (alasan ini agar lebih murah kalau makan di warteg). Pun jika minum sirup, ia menolak manis. Sampai akhirnya ia berkenalan dengan single origin yang kaya rasa.

Tiga pria ini bekerja di Majalah Tempo. Ajibon–sapaan Aji–dan Eko di bagian desain. Sedangkan Ijar Fotografer. Jadilah tiga orang ini (plus puluhan redaksi Tempo lainnya) kerap bergadang di akhir pekan untuk menyelesaikan Majalah.

Di tengah tenggat, tiga lelaki ini sering nongkrong di coffee shop. Berbincang banyak hal. Dari sinilah mereka berkenalan dengan single origin. Kebetulan di dekat kantor Tempo lama di Velbak juga ada coffee shop. Dari situlah kecintaan mereka pada single origin tumbuh.

Hingga suatu hari Eko membeli sebuah alat pembuat kopi merek Philip. Aji menyumbang biji dari Pasar Jatinegara. Sedangkan Ijar membawa cerita-cerita lucu khas dia. Kemudian, mereka mendaftar di UNYU, University of Youtube, jurusan Manual Brew. Sampai akhirnya membelil alat-alat seduh manual. Alat pertama mereka adalah french press 900 mililiter yang dibeli di Melawai.

Tentu, Kopi yang enak adalah kopi yang dinikmati bersama. Ketiganya mulai menularkan virus single origin kepada rekan-rekan sekantornya. Sambutan hangat. Ada kawan yang pulang dari Vietnam membawakan Vietnam drip. Sampai kemudian, mereka memutuskan membuat gerakan #ngopidikantor.

Debut mereka di atas panggung adalah medio 2015. Ketika itu, Tempo sudah pindah ke gedung baru di Palmerah, Jakarta Selatan.

Lebih lengkap tentang #ngopidikantor bisa dibaca di sini.

Saya ingat betul, saya terperangah melihat alat yang begitu banyak dan istilah yang aneh-aneh: V60-Moca Pot-Kalita Wave-Vietnam Drip-dll. “Tiap seduhan punya rasa yang berbeda,” kata salah satunya. Dan betul, setelah mencoba semua, saya jatuh cinta pada rasa seduhan V60.

Sukses di kantor sendiri. Ketiga pria ini mulai melebarkan sayap ke kantor orang. Tempat pertama yang mereka sambangi adalah PT Zurich Insurance, Sudirman, Jakarta Selatan. kemudian #ngopidikantor juga pernah nyeduh di KPK, Kedutaan Besar Amerika, dan kantor-kantor kece di kawasan segitiga emas Jakarta.

#ngopidikantor punya semangat mengenalkan kopi nusantara bukan luar negeri ke masyarakat. Kenapa kopi dalam negeri, saya bertanya, kepada salah satu dari tiga Imam besar–kami di komunitas ini menyebut mereka imam. Sang Imam tidak menjawab, ia menyeduhkan Malabar proses Natural. Dia menyedorkan gelas kepada saya. Sesapan pertama, membuat saya tahu kenapa harus kopi nusantara.

Nah, kalau kantornya ingin disambangi #ngopidikantor cukup email permohonan ke ngopidikantor@gmail.com. Tulis saja dari siapa dan dari mana, nanti ada tim yang menghubungi. Syarat kami cuman satu: Kami menyeduh di kantor. Bukan bazar atau pameran. Seduhan kami adalah jeda dari rutinitas kantor. Selamat ngopi.

Bedebah Kopi

Jujur, pada mulanya saya membenci kopi. Sejak minum kopi pertama kali di sekolah dasar, lalu jantung berdegup kencang, kemudian keluar keringat dingin, dan mata berkunang-kunang serta badan mulai limbung, tak pernah ada cerita kopi mampir di kehidupan saya. Saya nyaris dibuat klenger oleh si bedebah ini.

Ini persis seperti ketika saya juga hampir pingsan oleh jarum suntik. Gara-gara badan panas, saya yang saat itu kelas 3 SD dibawa ke dokter. Baru pertama kali bertemu dengan seorang dokter dan mengagumi stateskop yang dicangklong di lehernya, tiba-tiba saya diminta menungging. Ia kemudian mengeluarkan jarum suntiknya. Setelah itu,  tak sampai setengah jam, badan saya gemetar, gigi gemeretak, mata berkunang-kunang, dan saya nyaris mampus.

Jadi setiap kali bertemu dengan seseorang dan ia kemudian menawari secangkir kopi, dengan kecepatan cahaya saya segera menolak. Wajah orang yang menawarkan kopi itu entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi si dokter yang hampir membunuh saya itu. Tentu bukan salah sang dokter, juga bukan lantaran jarum suntik yang sampai hari ini memang masih tampak mengerikan, tapi karena “salah” badan saya yang alergi terhadap antibiotik tertentu.

Tapi penjelasan saintifik seperti itu tak pernah mempan saat itu. Saya berjalan dengan logika aneh saya sendiri. Bagi saya, dua-duanya: kopi dan jarum suntik, sama-sama hampir membuat hidup saya khatam. Dan itu sudah cukup buat saya untuk tak lagi mau berurusan dengan kopi. Konyol betul.

Karena itu saya heran ada orang yang begitu fanatik, bahkan ketagihan kopi. Ada yang sanggup minum sampai tujuh cangkir kopi sehari. Apa enggak nggeblak tuh orang? Kafein yang bertumpuk-tumpuk di dalam tubuh niscaya sangat berbahaya. Ada juga yang sok-sok snob nongkrong di kafe, memesan kopi, agar tampak gaul. Ada pula yang sampai kursus menyeduh dan menyangrai, bahkan sampai ke luar negeri, hingga ke level yang mentok, hanya untuk menikmati secangkir kopi. Betapa repotnya mereka untuk bisa mencapai tujuan yang sebetulnya sangat sederhana.

Sementara saya, dengan bangga menyebut diri sebagai peminum teh. Tapi, bodohnya, saya tak pernah tahu teh dari daerah mana yang enak. Bagi saya, dari mana saja teh itu berasal, entah disajikan ala tubruk atau celup, asal diaduk dengan sesendok gula, rasanya tetap enak. Wewangian teh yang aneka rupa, juga tak pernah mencuri perhatian saya. Saya jenis peminum teh yang tak kebanyakan lagak. Jikapun ada teh yang paling saya suka: teh botol! Nah, mungkin karena (salah satu sebab) kebiasaan minum yang serba manis itu yang kemudian membuat saya divonis menderita diabetes tipe B (gaya hidup).

Vonis itu membuat saya benar-benar “mampus”. Sejak itu saya banting setir menata ulang seluruh gaya hidup ngawur selama ini. Untuk urusan minum, selain air putih, saya mulai bisa menikmati teh tanpa gula. Tawar bro! Enak ternyata. Minum kopi? Tetap no way.

Lalu mengapa saya sekarang menyukai kopi? Bukan vonis penyakit gula itu benar yang membuat saya kini beralih ke kopi. Saya ingat, saya dua kali pernah “terpaksa” minum kopi. Pertama di Aceh, ketika menjenguk teman yang rumahnya baru seminggu dihumbalang tsunami. Sang kawan menyuguhi kopi Gayo. Suasana yang mengharu-biru saat itu benar-benar melupakan “dendam masa kecil” terhadap kopi. Saya pun meminumnya. Slurp… Pelan-pelan… Dan ternyata tubuh saya baik-baik saja.

Kedua, saat mendapat tugas kantor ke Ethiopia. Ini negeri penghasil kopi. Tanah air kopi. Kiblat kopi. Tapi perhatian saya teralihkan oleh tugas mengunjungi panti-panti penampung penderita HIV/AIDS. Maklum saat itu, negeri di tanduk Afrika itu sedang dihantam badai HIV. Baru belakangan saya menyesal kenapa saat itu saya tak sempat mengunjungi Dire Dawa, wilayah utama penghasil kopi Ethiopia.

Kejadian “terpaksa” itu terulang. Saat hendak pulang ke Indonesia, pengemudi yang menemani selama di sana meminta saya mencicipi kopi Ethiopia. Saya menolak. “Saya tak suka kopi,” kata saya cepat.

“Ayolah, jauh-jauh Anda ke sini tapi tak sempat mencicipi buna,” dia mendesak. Buna, bahasa Amharic (bahasa yang digunakan orang Ethiopia) untuk kopi. Dia bercerita kopi yang akan kami minum itu manis, walaupun tanpa gula. Saya mengerenyitkan dahi. Apa pula ini? Tapi sudahlah, saya coba saja, demi menghormati sang tuan rumah.

Benar belaka. Kopi yang saya minum itu manis. Ada rasa anggur. Segar pula. Saya pun menunggu tubuh saya akan bereaksi seperti apa. Satu, 3, 5,10 menit, setengah jam…. Ternyata saya tak pingsan di negeri orang.

Sejak itu saya berdamai dengan kopi, walaupun saya belum mengkonsumsinya. Sekarang, si bedebah itu justru telah menguasai saya. Dan saya menyerah dalam kenikmatan dan eksotisme kopi.

Affogato Rp 7 Ribu Saja, Mau?

Siapa yang gak  suka affogato? Bahkan penggemar kopi kelas berat pun bakal lumer kalo ditawarin dessert itu. Masalahnya, kadang makanan (atau minuman?) penutup itu harganya lebih mahal ketimbang main couse. Di 1/15, Gandaria misalnya, Campuran espresso dan es krim itu dibanderol Rp 45 ribu.

Tapi, siang itu di mini market, saya melihat mesin espresso dengan daftar menu di atasnya: espresso Rp 3 ribu. Saya langsung kepikiran untuk memadukannya dengan es krim yang pendinginnya ada di belakang saya. Setelah memesan espresso, saya cari es krim vanilla yang bakal cocok dengan espresso itu.

Begitu dapat  es krim cup seharga Rp 4 ribu, saya bawa kedua barang itu ke meja kasir, total belanjaan saya ternyata hanya Rp 7 ribu. Sambil menunggu kembalian saya campur espresso dan es krim tersebut… dan jadilah affogato seharga Rp 7 ribu 🙂

Sisa espresso saya cicipi, ternyata lebih kental aroma robustanya :D, tapi es krimnya tidak terlalu manis sesuai kesukaan saya. Hasil perkawinan keduanya menurut saya lumayan, gak kalah dengan bikinan cafe kelas atas yang harganya lebih dari enam kalinya 😉

 

Termasuk Peminum Kopi yang Mana?

Trish R Skeie, roaster asal Norwegia pada 2003 mengklasifikasikan peminum kopi ke dalam tiga kelompok:

 

1st Wave

Penikmat kopi gelombang pertama biasa mengkonsumsi kopi instan di rumah, hampir pasti kopinya dari jenis robusta. Kopi kualitas rendahan yang perlu dinikmati dengan tambahan pemanis. Hampir semua peminum kopi memang melalui proses ini. Dan di sinilah pasar terbesar peminum kopi berada.

 

2nd Wave

Lalu saat banyak perusahaan multinasional mendominasi pasar, konsumerisme merebak, lahirlah penikmat kopi gelombang kedua. Kualitas kopi mulai diperhatikan. Kopi arabika jadi pilihan yang kemudian dipisah-pisah berdasar lokasi asal kopi karena kopi dari tanah yang lebih tinggi dianggap punya rasa yang lebih baik. Peminum kopi gelombang kedua bukan sekadar ngopi, tapi juga untuk gaya hidup. Boleh jadi mereka tidak suka kopi, lalu para kapitalis menambahi sirup (frapucino), gula, creamer, susu (latte), whipped cream, ataupun berbagai macam taburan. Di sini muncul profesi baru yang memiliki sisi seni; barista dengan alat mesin espresso-nya. Di sini pengunjung Starbucks berada.

 

3rd Wave

Peminum gelombang ketiga adalah mereka yang menelaah rasa, kenikmatan, dan apresiasi atas semua proses yang dilalui kopi. Bagi penikmat kopi ini, semua yang terlibat dalam tahapan proses tersajinya kopi adalah sebuah seni. Mereka memperhatikan proses, mulai dari petani, roaster, sampai barista, karena proses yang beda akan menghasilkan rasa yang berbeda. Mereka menghargai kopi seperti halnya wine, musik, atau seni yang terlebih dahulu lepas dari cap sekadar komoditas.

Komunitas Barista: Meracik Kopi, Menyuguhkan Kebersamaan

Siang yang panas di sudut jalan protokol kawasan arteri Pondok Indah, Jakarta, Selasa (16/5). Empat sekawan peracik kopi amatiran, begitulah mereka menyebut dirinya, disambut sekitar 20 pegawai di sebuah kantor. Mereka adalah kelompok barista alias peracik kopi yang disebut Komunitas #Ngopidikantor.

Suguhan kehangatan ngopi pada siang hari itu bukan dilakukan di kedai kopi ataupun kafe. Komunitas #Ngopidikantor itu terdiri dari Ijar Karim, Eko Punto Pambudi, Aji Yuliarto, dan Praga Utama. Sehari-hari mereka juga memiliki pekerjaan tetap di industri media massa nasional.

Komunitas “jemput bola” menjadi konsep baru mereka. Menikmati kopi tidak harus mendatangi kafe-kafe atau kedai kopi. Ngopi di kantor pun tetap oke.

Konsep ini ingin mematahkan anggapan bahwa semua orang bisa bebas ngopi, terutama pada jam-jam sibuk di kantor. Namun, jangan harap pula komunitas ini bisa diajak untuk menyuguhkan kopi di ajang yang ramai, seperti pameran ataupun bazar yang biasanya sekadar berkonsep jualan seduhan kopi, tanpa terbangun komunikasi.

“Istana wakil presiden pernah mengundang kami untuk bikin acara ngopi, tetapi dengan sangat terpaksa ditolak. Waktu itu, kami hanya diminta buka di salah satu sudut bazar yang digelar di kantor wapres,” kata Eko.

Menurut Ijar, komunitas barista ini berkomitmen mengangkat eksistensi kopi Nusantara. Kebetulan saja, hari itu kopi yang digunakan berasal dari Malabar, Jawa Barat. Konsepnya “Arabika Malabar Fully Wash”. Tak hanya meracik kopi, karyawan yang ikut pun bebas berinteraksi dengan barista.

Ijar menuturkan, komunitasnya disebut amatiran karena pengetahuan dan keterampilan meracik kopi itu diperoleh dari dengar sana-sini dan berbekal pengetahuan yang diperoleh dari Youtube. “Kami cuma belajar dari Unyu, universitas Youtube,” ujar Ijar.

Tepat dua tahun Komunitas #Ngopidikantor berdiri, ternyata bukan hanya menjadi gerakan cinta kopi dari kantor ke kantor. Tak sedikit sejumlah artis, bahkan duta besar, turut menikmati seduhan racikan kopinya. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pun pernah mengundang mereka untuk meracik kopi.

“Deg-degan juga sih meracik di kedutaan. Takutnya rasa kopi yang disuguhkan beda, tetapi prinsipnya, kopi yang pada dasarnya memang pas prosesnya, mulai penanaman, masa panen, hingga roasting, akan tetap mengeluarkan aroma kenikmatan yang pas sewaktu disuguhkan. Barista sebetulnya hanya memberikan sentuhan proses di bagian akhir sebelum disuguhkan kehangatannya,” kata Eko.

Semua dari biji kopi yang tersebar di seluruh Nusantara. Proses peracikan dimulai dengan penggunaan grinder (gilingan kopi) secara tepat tingkat kehalusannya. Lalu, alat seduh manual, seperti kalita, aeropress, V60, frenchpress, syphon, dan mokapot. Sementara alat pendukung terdiri dari timbangan elektrik, ketel leher angsa (karena aliran air panasnya mudah diatur sewaktu dituangkan ke dalam cangkir), filter kertas, termometer, dan server (wadah penyaji).

Praga mengatakan, barista kafe biasanya membutuhkan portafilter (wadah kopi giling untuk dipasang pada mesin espresso), tamper (alat pemadat gilingan kopi), termometer, dan stopwatch. Biasanya, alat-alat ini hanya dipakai kalangan profesional di kafe- kafe.

“Baracik”

Lain halnya dengan Ade Santoso (30) alias Udel. Selera penikmat kopi yang berbeda-beda selalu saja menyebut keinginan menikmati kopi yang berasal dari satu daerah tertentu. Dia pun mengubah sebutan barista menjadi baracik atau barista Indonesia yang meracik kopi.

Pengalaman menelusuri kekhasan kopi dari Lampung hingga Aceh mengantar Udel menjadi baracik di Kedai Kopi Baracik di kawasan Serpong, Tangerang Selatan. Bagi Udel, baracik merupakan profesi seni tersendiri. Mulai memilih kopi jenis robusta atau arabika hingga disuguhkan dikonsep menjadi khas Indonesia, seperti kopi tubruk, tungkup, siram, press, pres angin, dan tetes.

Pilihan jenis ataupun asal kopi bisa bebas dipilih.

Bahkan, Udel tak keberatan pula apabila ada penikmat kopi yang membawa biji kopi sendiri untuk diseduh di kedainya. Kebebasan ini sengaja diciptakan, tanpa harus merasa kecewa.

Namun, secara prinsip, baik barista maupun baracik sesungguhnya memiliki kesamaan, yakni menepis adanya jarak antara penikmat kopi dan peracik kopinya. Pola komunikasi interaktif sengaja dibangun atau malah terbangun bersama di sela-sela proses peracikan kopi. Tidak sekadar pesan, disuguhkan, dan minum secangkir kopi di sudut ruangan kafe.

Yang terpenting, baik barista maupun baracik sama-sama sependapat, kopi itu bukan “digunting”, melainkan diracik. (OSA)

Dari Kompas, 30 Mei 2017

Filosofi Kopi 1

Ben, nama barista itu. Diceritakan sangat mahir dan lumayan dikenal, bolak-balik masuk koran dan majalah. Dia menjadi mentor bagi semua barista di kedai kopi tempat dia bekerja. Masa kecilnya yang dramatis menjadi alasan kuat kenapa Ben begitu mencintai kopi.

Penggambaran Ben sebagai barista yang dahsyat sangat meyakinkan terbangun pada film Filosofi Kopi ini. Perhatikan cara dia menuang air panas dari ceret secara melingkar penuh perhitungan ke penyaring V60. Juga kelembutannya yang bertenaga menekan tabung alat seduh aeropress. Kelihaiannya menangani mesin espresso juga terlihat tidak dibuat-buat. Dan jangan lewatkan scene singkat saat Chicco Jerikho Jarumillind (nama asli pemeran Ben) bikin latte art.

Kebaristaan dan kekopian Ben sepertinya lengkap dan sah dengan moto hidupnya: “Kalo soal kopi, gue enggak pernah bercanda.”

Semua alat seduh, termasuk syphon juga dipamerkan dan diperagakan pada film ini. Seperti franchise Fast and Furious yang memamerkan puluhan mobil di setiap filmnya, secara keseluruhan Filosofi Kopi terlihat tidak setengah-setengah menampilkan detail dari tema yang diangkat.

Tapi bangunan yang meyakinkan itu runtuh saat Ben memutuskan untuk menyendiri dan mencoba membuat blendterbaik untuk kliennya. Setelah hampir dua minggu meneliti dia mengaku telah tercerahkan: pertama dia akhirnya paham suhu terbaik air untuk menyeduh kopi dan kedua dia baru tahu penggiling kopi burr (bergerigi) lebih baik dari blade (pisau).

FYI kedua poin itu adalah hal mendasar bagi barista, di tempat kursus barista di mana pun soal itu pasti sudah dijelaskan pada pertemuan pertama. Bahkan bagi penikmat kopi yang tidak pernah kursus sekali pun hal itu mudah sekali diketahui dengan sedikit browsing ketika ingin belajar menyeduh kopi sendiri di rumah. Dan bukankah penggiling kopi burr harganya jauh lebih mahal.

Sangat aneh jika dua hal itu terlambat dipahami barista sekelas Ben yang diceritakan belajar bikin kopi di luar negeri ini . Itu seperti menggambarkan Dominic Toretto baru paham bahwa dengan menekan pedal gas lebih dalam, maka mobil akan berlari lebih kencang.

Kedai Kopi Spesialti dari Jakarta hingga Hong Kong

Café, kafe, warung atau kedai kopi seringkali hanya bernasib sebagai tempat kongko atau tempat untuk mencari sinyal wifi. Banyak pengunjung yang tidak peduli pada elemen rasa yang mati-matian diperjuangkan pada setiap cangkir kopi yang disajikan. Padahal tidak sedikit pengelola kafe yang benar-benar menyiapkan kopinya dengan sangat serius, militansi mereka berawal dari pencarian biji kopi ke pelosok penjuru dunia sampai pengolahan yang seksama dan terukur hingga penyajian yang presisi oleh barista.

Kafe-kafe di bawah ini sangat disayangkan jika hanya dijadikan tempat nongkrong, terserak dari Jakarta sampai Hong Kong, direkomendasikan karena kualitasnya oleh peminum kopi dari seluruh dunia melalui app seperti Beanhunter. Saya berkesempatan mampir ke tiap-tiap kafe tersebut dan mencicipi single-origin jagoan mereka, alasan hanya single-origin adalah karena saya suka mengamati rasa khas yang terdapat pada biji kopi dari suatu daerah. Rasa khas itu akan luntur ketika dicampur (blend) dengan kopi dari daerah lain, apalagi jika dicampur dengan elemen lain seperti susu (latte) atau sirup dan sari buah (frape).

 

1/15, Jakarta

Sunda Aromanis di 1/15
Sunda Aromanis di 1/15

Nama 1/15 diambil dari rasio terbaik campuran kopi dan air. Melihat meja baristanya seperti melihat laboratorium kimia, penuh tabung gelas berbagai ukuran dan bentuk, itulah alat-alat seduh yang digunakan kafe ini. Barista 1/15 tidak sungkan mendiskusikan dan menyarankan alat atau metode seduh yang akan digunakan untuk kopi pesanan konsumennya, setiap alat seduh dapat memperkuat atau justru mereduksi rasa yang terkandung pada kopi.

Setiap hari 1/15 menyediakan sampai enam pilihan single-origin. Mereka tidak hanya teliti pada proses penyeduhan, pada proses menggoreng (roasting) mereka juga sangat inovatif, salah satu hasilnya adalah biji kopi Sunda Arumanis yang saya pesan. Tanpa tambahan apapun, hasil seduhan dengan kalita wave membuat kopi ini terasa manis dan beraroma buah.

 

Anomali, Jakarta

Interior seperti gudang di Anomali
Interior seperti gudang di Anomali

Jargonnya: Kopi Asli Indonesia. Mereka hanya memilih, menggoreng, menggiling, dan menyeduh kopi-kopi yang berasal dari Tanah Air. Interior kafe ini seperti gedung tua atau gudang, artistik dan nyaman dengan penataan cahaya yang baik.

Yang menarik, dengan bagan sederhana yang terdapat pada dinding, mereka bisa “memetakan” rasa kopi dari seluruh Indonesia, dari yang tingkat accidity-nya rendah (Mandailing) ke yang paling tinggi (Bali dan Jawa).

Gerai yang sering saya kunjungi adalah Anomali di Gedung Setiabudi One, Jakarta Selatan. Momen favorit saya adalah ketika saya menyesap Toraja gratis yang diseduh dengan French Press. Secangkir single-origin bercita rasa cokelat dan karamel dengan tingkat keasaman sedang itu saya dapatkan cuma-cuma setiap membeli sekantung biji kopi untuk persediaan di rumah.

 

Djournal Coffee, Jakarta

Deretan dripper di Djournal
Deretan dripper di Djournal

Pilihan single origin-nya cuma dua sepanjang masa: Sumatera Mandailing dan Toraja Kalosi. Toraja dan Kalosi sebetulnya ada di dua kabupaten yang berbeda di Sulawesi, Toraja di kabupaten Toraja dan Kalosi di Enrekang. Ada anggapan penamaan Toraja Kalosi hanya akal-akalan penjual kopi karena kopi Toraja lebih terkenal. Saya gagal mengkonfirmasi itu ke baristanya, ketika saya tanyakan soal itu dia hanya tersenyum.

Cara penyeduhan di Djournal Coffee hanya ada satu pilihan: pour over dengan V60, kerucut dengan dinding dalam beralur putar itu membantu bubuk kopi terektraksi dengan air yang dituang memutar di atasnya. Metode ini dipercaya menghasilkan secangkir kopi lembut namun tanpa kehilangan karakter kopinya.

 

Highlander Coffee, Singapura

Highlander Coffee, Sinapura.
Highlander Coffee, Singapura.

Kafe ini dikenal di dunia maya dengan kebersahajaannya, biji kopi berkualitas premium, dan tidak dikenal sebagai tempat buat nongkrong. Tapi anehnya, begitu saya mampir dan bertanya single-origin yang mereka punya, dua barista di seberang meja bar itu seperti terkejut memandang saya, lalu saya “diseret” ke belakang, ke tempat mereka menyimpan kantung-kantung kopi. Saya berkesimpulan pengunjung kafe ini jarang yang menanyakan dan memesan “koleksi” biji kopi single-origin mereka.

Saya dijelaskan semua “koleksi” Highlander dengan riang oleh salah satu barista, lalu ia menyarankan saya mencoba Ethiopia Djimmah yang diseduh dengan aeropress. Seperti kopi Ethiopia yang pernah saya sesap sebelumnya: light body, fruity, high acidity.

 

Jewel Coffee, Singapura

Disuruh mencuri mug ini
Disuruh mencuri mug ini

Beruntung sekali para pekerja kantoran di sekitar Central Business District Singapura karena ada kafe ini untuk dikunjungi saat suntuk. Seperti kafe di kawasan perkantoran lain: desainnya modern dan simpel, baristanya ramah dan mengenal pengunjungnya. Dan tidak seperti kafe di kawasan perkantoran lain: Jewel Coffee memiliki koleksi single-origin yang lumayan lengkap.

Di sana saya mencoba Finca dari San Carlos, El Salvador yang setelah diseduh dengan V60 menghasilkan body sedang, asam buah sitrus, dan manis seperti karamel. Seorang teman di Jakarta meminta saya mencuri mug unik kafe ini setelah saya pamerkan di Path.

 

Gallery Drip Coffee, Bangkok

Gallery Drip Coffee, Bangkok
Gallery Drip Coffee, Bangkok

Warung kopi kecil di pojok Bangkok Art and Cultural Centre ini selalu ramai pengunjung. Pemilik Gallery Drip Coffee adalah dua orang fotografer yang jatuh cinta pada kopi dan mereka serius, mereka menggoreng sendiri biji kopinya.

Di sini pertama kali saya mencoba kopi dari dataran tinggi Chiang Mai, rasanya seperti kopi Toraja tapi dengan body yang lebih ringan.

Para barista kafe ini terlihat berpengetahuan luas, sangat sabar, dan selalu ramah, walaupun selalu sibuk mereka akan menjawab setiap pertanyaan pelanggan.

 

Knockbox Coffee, Hong Kong

Knockbox Coffee, Hong Kong
Knockbox Coffee, Hong Kong

Inilah single origin termahal yang pernah saya minum, HK$ 65 atau hampir Rp 100 ribu secangkir. Tapi harga itu langsung terbayar begitu barista wanita muda cute itu memulai ritualnya dengan menimbang biji kopi Rwanda pesanan saya dengan cermat dan menggilingnya persis di depan saya. Kemudian dia mengendus bubuk kopi hasil gilingannya, matanya terpejam seperti ingin berkonsentrasi mencari aroma yang semestinya diperoleh.

Lalu bubuk kopi dalam wadah itu diberikan kepada saya, saya ikut mengendus. Sambil menunggu “approval”, dia menyiapkan alat seduh pour over dan meletakkan di depan saya yang duduk di depan meja bar. Proses menuang air bersuhu 97 derajat Celsius dari ceret ke V60 itu berlangsung 3 menit. Kemudian Sofie Tan, barista itu, menuang sedikit hasil seduhan ke dalam cangkir kecil dan mencicipinya, memejamkan mata seperti saat mengendus bubuk kopi tadi.

Raut muka Sofie puas dengan hasil seduhannya, lalu menyajikan kepada saya. Secangkir kopi Rwanda beraroma teh hitam, aprikot kering, dan susu itu saya nikmati di kafe yang tidak jauh dari karamaian Mong Kok.